Edisi 05-10-2015
Penjual Batu Akik Terancam Gulung Tikar


SEMARANG - Penjualan batu akik yang sempat melambung dan menjadi tren, kini mulai surut. Saat ini banyak penjual yang terancam gulung tikar akibat sepinya pembeli.

Minimnya pembeli terlihat di Sentra Penjualan Batu Akik Pasar Dargo Kota Semarang, kemarin. Meski akhir pekan, pembeli di pasar tersebut tak seramai tiga bulan lalu. Bukan hanyaitu, beberapapenjualbatu akik yang biasa mangkal di pinggir-pinggir jalan juga sudah mulai berkurang. Di Jalan Simongan misalnya, kini sepi dari aktivitas jual beli batu akik.

“Penjualan batu akik saat ini memang lesu. Sudah beberapa pekan terakhir jualan kami tidak laku,” kata Nurhadi,35, salah seorang penjual batu akik di Pasar Dargo Semarang, kemarin. Menurut Nurhadi, kondisi tersebut membuat para pedagang khawatir. Pasalnya, jika kondisi tetap seperti itu, tidak menutup kemungkinan para pedagang batu akik gulung tikar. “Pendapatan yang semula bisa Rp1 juta per hari, saat ini menurun drastis. Bahkan, untuk menjual satu buah batu akik saja sudah sulit,” katanya.

Menurut Nurhadi, banyak penyebab lesunya bisnis batu akik saat ini. Salah satunya maraknya batu sintetis dari China yang merambah pasar Indonesia. “Batu sintetis dari China itu bentuknya lebih indah, sehingga banyak pembeli yang tergiur dan membelinya. Selain itu, kurangnya promosi juga menyebabkan batu akik terus menurun,” katanya. Tidak hanya di Pasar Dargo, penurunan penjualan batu akik juga dialami Yayat, 34, penjual batu akik yang biasa berjualan di Pasar Ngaliyan Semarang.

Menurut Yayat, penurunan penjualan batu akik saat ini bisa mencapai 70%. “Penurunan ini saya kira karena para peminat sudah banyak memiliki, sehingga mereka sudah tidak lagi membeli batu akik yang masih ada. Kalau seperti ini terus, usaha kami ini pasti akan gulung tikar, dan kami harus siap mencari pekerjaan lain,” ujarnya. Selain itu, menurunnya pendapatan masyarakat karena ekonomi yang tidak stabil juga sangat mempengaruhi. Masyarakat kini lebih memilih menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan lain yang mendesak dibanding membeli batu akik.

“Biasanya dalam satu pekan saya membeli satu batu akik. Namun, karena kondisi ekonomi saat ini tidak menentu, saya menjadi berpikir ulang untuk membeli akik. Ini saja saya sudah lama tidak menambah koleksi batu akik, paling satu bulan sekali baru melihatlihat,” kata Wahab,32, salah satu pembeli akik yang ditemui di Ngaliyan, kemarin.

Andika prabowo/mg5

Berita Lainnya...