Edisi 05-10-2015
Zamzam Palsu Dijual hingga ke Jabodetabek


SEMARANG – Peredaran air zamzam palsu hasil yang diproduksi tersangka Pandu Witjaksono, warga Kebondalem RT 001 RW 003, Desa Karangmalang, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, ternyata sudah meluas sampai ke kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Untuk lebih meyakinkan konsumennya, air zamzam dikemas sedemikian rupa dengan galon kecil kapasitas 5 liter dan kardus dengan ditempel barcode Bandara King Abdul Azis, Arab Saudi, sehingga saat diedarkan, konsumen yang lengah akan mudah tertipu. “Sudah tiga bulan terakhir produksi. Pas momentum haji (produksi) diedarkan ke Jabodetabek, ada pemesannya. Biasanya untuk oleh-oleh haji,” ungkap tersangka Pandu di Markas Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah, kemarin.

Sementara air di dalamnya hanya air artesis alias air tanah. Dengan berbagai peralatan, air disedot kemudian disuling dan dimasukkan ke galon-galon untuk dijual sebagai air zamzam. Komposisi air zamzam palsu itu 100% menggunakan air artesis atau air bawah tanah biasa dari Mijen, Semarang. Harga jualnya bervariasi mulai dari Rp50.000 hingga Rp100.000. Omzet per bulan mencapai Rp35 juta. Modal usaha melawan hukum itu, kata tersangka, sebesar Rp25 juta dari uang pinjaman.

Pada Januari 2014 silam, polisi juga menggerebek praktik serupa. Lokasinya hanya terpaut beberapa ratus meter dari kejadian terbaru. Tahun sebelumnya yang digerebek adalah H Thalib, 57. Tersangka Pandu ini, mantan anak buah Thalib, berperan sebagai driver. Informasi yang dihimpun, sejauh ini Thalib belum keluar penjara.

Dia divonis 2,4 tahun. Pada Januari 2014 silam saat digerebek produksi zamzam palsu itu dilakukan sedot air artesis kemudian difilter. Setelah itu, dikemas berbagai ukuran mulai dari 330 mililiter, 1 liter, 5 liter, hingga 10 liter. Kepala Subdirektorat I Industri Perdagangan dan Investasi (Indagsi) Dirreskrimsus Polda Jateng AKBP Juliagung Pramono mengatakan, pihaknya segera berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Arab Saudi untuk keperluan mencari pembanding.

“Tersangka ini menempelkan barcode bandara di Saudi (King Abdul Azis) di kemasan zamzam agar konsumennya yakin. Barcode itu juga palsu, di-print sendiri oleh tersangka,” katanya. Mantan Kepala Sat Resnarkoba Polrestabes Semarang itu menambahkan praktik ini dilakukan tersangka sendirian. “Jadi konsumen tertipu, seolah-olah air zamzam. Padahal air tanah dari Mijen Semarang,” ucapnya.

Tersangka bakal dijerat pasal berlapis, yakni Pasal 142 Undang- Undang RI Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dengan ancaman hukuman maksimal 2 tahun penjara dan atau denda maksimal Rp4 miliar. Tersangka juga dijerat Pasal 62 ayat (1) juncto Pasal 8 ayat (1) huruf a,f,dan j Undang-Undang RI nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Ancaman hukumannya maksimal 5 tahun penjara dan denda maksimal Rp2miliar.

Aka setiawan


Berita Lainnya...