Edisi 05-10-2015
1.833 Ha Sawah di Klaten Terancam Puso


KLATEN – Penutupan Dam Colo Barat berdampak pada areal persawahan Kecamatan Karangdowo, Cawas, Gantiwarno, dan Wonosari, Klaten.

Sebanyak 1.833 hektar sawah di wilayah tersebut terancam puso atau gagal panen akibat tidak mendapatkan pasokan air. Kepala Dispertan Klaten Wahyu Prasetyo mengemukakan, Dam Colo Barat akan ditutup selama satu bulan terhitung mulai awal Oktober. Penutupan dilakukan karena dilakukan pemeliharaan bangunan. Praktis selama penutupan tersebut tidak ada pasokan air untuk irigasi ke sawah-sawah milik petani.

“Petani memang resah dengan rencana penutupan dam itu karena ada beberapa wilayah yang irigasinya bergantung dari sana. Untuk mengantisipasi itu, Klaten mendapat bantuan 45 pompa air dari Kementerian Pertanian (Pertanian) dan akan dipinjamkan ke petani yang terdampak penutupan Dam Colo Barat,” ungkapnya kepada wartawan, kemarin. Disebutkan, sawah di wilayah Karangdowo dan Cawas akan sangat terdampak dengan penutupan dam Colo Barat.

Pasalnya, 1.833 hektare lahan sawah di wilayah tersebut menggantungkan irigasi dari anak Sungai Bengawan Solo melalui dam Colo Barat. Wahyu khawatir jika tidak ada pompa air untuk membantu irigasi, areal persawahan yang gagal panen akan meluas. Pasalnya, Dispertan mencatat hingga pertengahan September lalu, sawah yang puso di Klaten sudah mencapai 100 hektare hanya kekurangan air. “Harapan kami dengan pinjaman pompa air itu bisa meminimalisasi sawah yang puso. Apalagi penutupan dam Colo Barat cukup lama, kami khawatir sawah puso makin meluas,” tuturnya.

Hal senada dikemukakan Ketua Paguyuban Petani Pengguna Air (P3A) wilayah Klaten Timur, Wiyoto. Menurutnya, masih ada petani di wilayah Karangdowo dan Cawas yang nekat menanam padi di musim kemarau. Hal itu sudah menjadi kebiasaan cukup lama karena petani mengandalkan pasokan air Dam Colo Barat.

Karena itu, rencana penutupan dam selama sebulan dikhawatirkan berdampak pada pasokanairuntukpadi. Wiyoto berharap, pinjamanpompaairdari Dispertan membantu mencukupi kebutuhan air di sawah petani hingga padi siap panen. Rencananya, pompa air tersebut akan dipakai untuk mengalirkanairdari SungaiDengkeng.

Sragen Kekeringan

Musim kemarau berkepanjangan membuat seluruh wilayah Sragen kekeringan. Bupati Sragen Agus Fatchurahman mengatakan, bencana kekeringan dan krisis air bersih sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu. Dia mengaku, telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi krisis air bersih untuk warga tersebut. Di antaranya dengan melakukan dropping air di sejumlah titik yang kekeringannya cukup parah.

“Dropping air bersih sudah kami lakukan, wilayah yang paling parah setidaknya ada 11 kecamatan dari total 20 kecamatan yang ada,” ucapnya. Agus menambahkan, dropping air bersih dilakukan hingga kebutuhan air bersih warga terpenuhi. Sedangkan untuk lahan pertanian, dia berharap agar petani mengusahakan pengairan mandiri dengan membuat sumur di sekitar areal persawahan.

Endah budi karyati / arief setiadi

Berita Lainnya...