Edisi 05-10-2015
60 Km Aliran Sungai Tercemar Limbah


SALATIGA - Tingkat pencemaran sungai di Salatiga dari tahun ke tahun bertambah parah. Berdasarkan data KLH, sepanjang 60 kilometer (km) atau 50% dari 120 km aliran sungai saat ini dalam kondisi tercemar limbah rumah tangga dan industri.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Salatiga Prasetyo Ichtiarto mengungkapkan, penyebab tingginya pencemaran itu karena peningkatan aktivitas baik industri maupun kegiatan rumah tangga masyarakat yang bermukim di daerah bantaran sungai. Kebiasaan buruk masyarakat tersebut telah merusak ekosistem dan lingkungan sejumlah sungai.

“Dari hasil analisa kami, limbah rumah tangga menjadi penyebabutamapencemaransungai. Limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai sebelumnya tidak diolah dulu sehingga mencemari air sungai,” kata Prasetyo Ichtiarto, kemarin. Selain itu, lanjut Prasetyo, pengelolaan sampah di tingkat masyarakat juga masih buruk. Masyarakat belum bisa mengelola sampah dengan baik sehingga limbah rumah tangga yang dibuang berdampak pada lingkungan.

“Semestinya sebelum dibuang antara sampah organik dan anorganik dipisahkan. Sehingga pengolahannya bisa dilakukan dengan baik dan tidak merusak lingkungan,” ucapnya. Prasetyo mengatakan, berdasarkan pengamatan di lapangan, ada beberapa daerah yang lingkungannya terlihat kotor dan semrawut. Hal ini terjadi karena tingkat kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan, keindahan, dan kelestarian lingkungan rendah.

“Pemandangan itu bisa kita jumpai di kawasan padat penduduk. Masyarakat di sana kurang peduli terhadap lingkungan dan pola hidupnya juga kurang sehat. Kebiasaan hidup yang tidak baik ini, menjadi salah satu penyebab kerusakan lingkungan di Salatiga,” katanya. Prasetyo mengatakan, kebiasaan buruk masyarakat yang cepat merusak lingkungan antara lain membuang sampah dan limbah rumah tangga di sembarang tempat, termasuk sungai.

Selain itu, rendahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Sementara itu, sejumlah wargaSidorejomembenarkanbahwa kepedulian masyarakat terhadap lingkungan masih rendah. Banyak warga yang belum bisa menjaga kelestarian lingkungan dan masih membuang sampah di sembarang tempat.

“Kebiasaan buruk masyarakatitubisakitalihat didaerahperkotaan dan pinggiran. Seperti di lahan eks Terminal Soka. Tempat itu jadi lokasi pembuangan limbah bangunan dan sampah. Akibatnya lokasi itu terlihat kumuh,” kata Irawan, 39, warga Sidorejolor, Sidorejo, kemarin. Dia menjelaskan, dampak yang ditimbulkan dari pembuangan limbah dan sampah di lahan eks Terminal Soka tidak hanya berdampak pada estetika lingkungan saja, melainkan bisa menimbulkan penyakit.

“Sampah yang menumpuk bisa menjadi sarang penyakit. Maka dari itu, masyarakat kami imbau untuk membuang sampah pada tempatnya,” tuturnya.

Angga rosa

Berita Lainnya...