Edisi 05-10-2015
Berharap Terus Eksis di Tengah Gempuran Toko Modern


YOGYAKARTA– Sebanyak 23 kontingen pedagang pasar tradisional di Kota Yogyakarta melaksanakan kirab sebagai wujud eksistensi pasar tradisional di tengah gempuran toko modern, kemarin.

Kirab tersebut juga dalam rangkaian HUT Kota Yogyakarta Ke-259. “Kami ingin tunjukkan pada masyarakat jika pasar tradisional di Yogyakarta masih eksis dengan ciri khas masingmasing,” kata Margono, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Yogyakarta. Sedikitnya ada tujuh pasar yang menonjolkan ciri khas utama dagangannya. Yaitu Pasar Terban, Pasar Klithikan, Pasar Karangkajen, Pasar Tunjungsari, PASTHY, Pasar Giwangan, dan Pasar Beringharjo. Ciri khas masing-masing pasar itu disebut Margono sebagai salah satu faktor yang membuat eksis pasar tradisional.

“Pasar bukan lagi hanya sekadar tempat berbelanja, tapi juga wahana wisata,” ujarnya. Kirab pedagang pasar tradisional sudah digelar empat tahun berturut-turut. Jika sebelumnya digelar dengan rute dari Pasar Beringharjo menuju Balai Kota, kini sejak dua tahun terakhir diubah rutenya dari Pasar Beringharjo menuju Pasar Ngasem. Selama prosesi kirab, setiap kontingen juga mendapat penilaian dari sisi cucuk lampah dan kreasi gunungan yang menjadi ciri khas masing-masing pasar.

Ratusan warga yang antusias menyaksikan prosesi kirab juga berebut gunungan yang diusung oleh para pedagang. Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan, kemandirian para pedagang menjadi kunci utama eksistensi pasar tradisional. Dia mengajak masyarakat agar menjadikan belanja di pasar tradisional sebagai gaya hidup. Terutama mewujudkan pasar tradisional sebagai pusat perbelanjaan. “Ini persembahan pedagang kepada masyarakat yang selama ini banyak memberikan penghidupan,” katanya.

Sedangkan upaya mewujudkan pasar tradisional sebagai pasar wisata, Haryadi mengaku sudah berupaya melakukan penguatan pedagang. Terutama semangat untuk terus berbenah dan menonjolkan kearifan lokal dalam berdagang. “Secara bertahap, seluruh pasar menjadi target revitalisasi guna menjamin kenyamanan berbelanja di pasar tradisional,” tandasnya.

Sementara itu Peneliti Ekonomi Kerakyatan dari Mubyarto Institute, Istianto Ari Wibowo mengatakan, ada banyak program yang dilakukan oleh Pemkot Yogyakarta untuk mengembangkan pasar tradisionalnya. "Kirab setiap tahun dan beberapa kali pelatihan cukup diapresiasi juga," kata dia, kemarin. Namun, pada kenyataannya, keberadaan pasar tradisional semakin tergerus. Akibat persaingan dengan mal maupun toko jejaring.

"Mau bangunan sebagus apapun, masyarakat belum begitu tertarik untuk datang ke pasar tradisional. Terutama para generasi muda," katanya. Mereka yang datang, mayoritas merupakan kalangan orang tua. Jika kondisi ini dibiarkan terus, bukan tidak mungkin pasar tradisional akan semakin sepi. Untuk mengatasinya, menurutnya, pihak pemerintah bisa melakukan survei kepada masyarakat umum, baik orang tua maupun mereka yang masih muda. Semisal bisa memberikan fasilitas kepada generasi muda. Mencontoh apa yang dilakukan oleh mal maupun toko jejaring.

"Kita juga harus mengikuti perkembangan zaman," katanya. Seperti dengan menyediakan tempat untuk nongkrong. Kemudian difasilitasi dengan koneksi internet gratis. "Apa salahnya memberikan fasilitas seperti itu," katanya. Selain itu juga perubahan terhadap para pedagangnya. Dalam segi menata barang yang diperjualbelikan maupun cara pelayanannya. "Sebetulnya cukup mudah. Saya pikir aktor utamanya ada di pemerintah, bisa bekerja sama dengan paguyuban pedagang," ujarnya.

Dengan melakukan sedikit perubahan tersebut, minat generasi muda pun diharapkan bisa lebih tinggi. "Karena yang penting itu berkunjung dulu. Urusan beli atau tidak, itu belakangan," katanya. Salah satu pedagang makanan, Ulum, 32, yang tinggal di Banguntapan, Bantul, mengatakan minat generasi muda memang semakin surut untuk datang ke pasar tradisional.

Ristu hanafi/ ridho hidayat

Berita Lainnya...