Edisi 05-10-2015
Dikembangkan Menjadi Atraksi Wisata Baru


YOGYAKARTA– Ratusan pemanah tradisional menyerbu ajang Gladen Hageng Jemparingan yang digelar di halaman BalaiKotaYogyakarta, kemarin.

Tak hanya pemanah lokal Yogyakarta, ajang panahan gaya Mataraman ini juga menarik minat pemanah dari luar kota. Ketua Panitia Gladen Hageng Jemparingan Jawi Gagrak Mataraman, Suryadi mengatakan, event ini merupakan upaya untuk melestarikan dan mengenalkan apa itu panahan tradisional gaya Mataraman ke masyarakat luas. Total sebanyak 197 pemanah yang ambil bagian di ajang yang memperebutkan Piala Wali Kota Yogyakarta ini.

"Antusias peserta dari luar kota juga banyak, di antaranya dari Wonosobo, Cilacap, Pacitan, Solo, Karanganyar, Ungaran, hingga Surabaya," kata Suryadi. Para peserta diwajibkan mengenakan pakaian tradisional dan harus mengikuti seluruh aturan yang berlaku dalam gaya memanah tradisional Mataraman, seperti memanah dalam posisi duduk.

Dijelaskannya, setiap peserta memiliki empat kali kesempatan melesatkan anak panah ke sasaran yang berbentuk tabung dengan diameter 2,5 sentimeter dan panjang 15 sentimeter. Pemanah dewasa memanah dari jarak 35 meter, sedangkan anak-anak dari jarak 20 meter. "Panahan gaya tradisional Mataraman ini memiliki filosofi yang cukup tinggi. Tidak hanya sekadar melesatkan anak panah ke sasaran, tapi juga harus disertai dengan olah rasa," kata Suryadi.

WaliKota Yogyakarta Haryadi Suyuti yang membuka event tersebut mengapresiasi tingginya minat dan kesadaran masyarakat untukmelestarikan budaya warisan leluhur, khususnya Jemparingan Mataraman. Menurutnya, dalam beberapatahunterakhirinibanyak pihak yang menyelenggarakan kegiatan serupa. Khusus untuk event kali ini, Haryadi menilainya sebagai kado bagi ulang tahun ke-259 Kota Yogyakarta. "Semoga kegiatan ini bisa digelar rutin menjelang ulang tahun Kota Yogyakarta," ucapnya.

Haryadi bahkan menawarkan usulan agar paguyuban Jemparingan Mataraman bisa memanfaatkan lapangan Balai Kota Yogyakarta sebagai tempat latihan, asalkan dilaksanakan secara rutin. "Ini bisa jadi potensi, bisa dikembangkan sebagai satu atraksi wisata yang cukup menarik. Masyarakat bisa belajar langsung dan mengerti filosofi Jemparingan Mataraman," katanya.

Ristu hanafi

Berita Lainnya...