Edisi 05-10-2015
Dipaksa Lembur, Keluarga Marah


BANTUL – Ratusan keluarga karyawan PT Komitrando di Desa Potorono, Kecamatan Banguntapan marah. Mereka menggedor-gedor dan memainkan pintu gerbang pabrik karena keluarga mereka yang bekerja di pabrik tas penyuplai brand kenamaan dunia dipaksa lembur melebihi jam kesepakatan dan ketentuan pemerintah.

Salah seorang karyawan yang enggan disebutkan namanya membenarkan adanya insiden tersebut. Menurutnya, insiden tersebut adalah puncak kekesalan para penjemput karyawan pabrik produsen tas ini. Sebab, pabrik telah mempekerjakan karyawan hingga pukul 23.30 WIB. “Yang marah-marah itu keluarga penjemput, para suami yang istrinya bekerja di Komitrando,” paparnya, kemarin.

Wanita ini menceritakan, insiden tersebut bermula ketika karyawan lembur untuk menyelesaikan beban tugas mereka karena ada pesanan ekspor yang jumlahnya sangat banyak. Sudah dua pekan lebih, karyawan harus lembur hingga lebih dari tujuh jam setiap harinya. Padahal, setiap kali jam kerja normal usai, para karyawan yang hendak pulang ke rumah dipaksa untuk menandatangani surat pernyataan lembur (SPL). Dalam SPL tersebut, karyawan dipaksa untuk tanda tangan bersedia lembur selama lima jam setelah jam normal pukul 16.00 WIB selesai.

Namun praktiknya, para karyawan sering kali dipaksa lembur melebihi SPL yang telah ditandatangani sebelumnya. Sering karyawan pulang pukul 23.00 WIB. Bahkan di bagian jahit, karyawan pulang pukul 01.00 WIB dini hari. Ia mengungkapkan, sudah dua pekan ini karyawan tidak libur. “Bosnya kebangetan, terima order tanpa memperhatikan kondisi karyawan,” ucapnya.

Sementara itu, karyawan lain asal Kecamatan Piyungan yang juga enggan disebutkan namanya menambahkan, untuk lembur ini karyawan mendapatkan upah sebesar Rp10.000 pada jam pertama dan selanjutnya Rp12.000 setiap jamnya. Selain itu, karyawan juga mendapatkan jatah makan nasi bungkus. Hanya saja, jatah nasi bungkus tersebut hanya diberikan untuk karyawan yang lembur lebih dari tiga jam setiap harinya.

Karena beban yang cukup berat tersebut, wanita yang masih melajang ini mengaku, banyak karyawan yang tidak kuat menahan diri. Banyak dari karyawan yang melarikan diri pulang tanpa pamit kepada atasan mereka karena jam kerjanya melebihi batas dan melebihi SPL yang sebelumnya dibuat. Konsekuensinya, karyawan-karyawan yang melarikan diri tersebut paginya dipanggil dan diberi sanksi.

“Di sini 80% karyawan lama memilih untuk berhenti bekerja. Karena bebannya memang berat, meskipun gaji yang kami terima sesuai dengan UMK (upah minimum kota),” ungkapnya. Sementara itu, melalui nomor yang berhasil dihubungi oleh media ini, Human Resource Departement (HRD) PT Komitrando, Arum mengaku, tidak mengetahui adanya lembur melebihi batas waktu yang diperkenankan oleh pemerintah.

Setahunya, lembur tersebut terjadi karena memang ada peningkatan permintaan dari luar negeri. “Kalau lembur iya, tetapi saya tidak tahu kalau melebihi jam kerja. Itu yang tahu bagian umum,” katanya. Media ini mencoba menanyakan kejanggalan ketidaktahuan tersebut karena berkaitan dengan urusan gaji para karyawan. Namun ketika pertanyaan selesai disampaikan, Arum buru-buru menutup teleponnya tanpa sebab yang jelas.

Erfanto linangkung

Berita Lainnya...