Edisi 05-10-2015
BTS Sepi, Dishub Tak Berani Tambah Armada


SIDOARJO– Setelah dua pekan Bus Trans Sidoarjo (BTS) beroperasi, hingga kini jumlah penumpangnya masih bisa dihitung dengan jari.

Kendati begitu, Dinas Perhubungan (Dishub) Sidoarjo mengklaim jumlah penumpang sudah sesuai target. Namun, Dishub belum berani menambah jumlah armada. Sampai saat ini, Dishub baru mengerahkan 10 dari 30 armada yang dimiliki. ”Kalau hasilnya bagus, penumpang banyak, ya akan kami tambah armada busnya,” ujarKepalaDishubSidoarjo Joko Santosa, kemarin. Joko membantah jika penumpang yang naik bus bantuan Kementerian Perhubungan itu sepi.

Menurutnya, Dishub belum menambah armada bus karena masih menunggu evaluasi. Joko menargetkan paling lambat pertengahan Oktober ini akan melakukan evaluasi menyeluruh. ”Kalau uji cobanya memang selama tiga bulan untuk 10 armada,” ujarnya. Pihaknya akan melihat respon masyarakat, terutama rasio antara penumpang dan jumlah armada. Joko mengklaim, warga Sidoarjo yang memanfaatkan BTS terus meningkat. Namun dia tidak mengetahui berapa jumlah penumpang BTS dalam satu hari.

”Kalau prosentase jumlah penumpang dengan kursi yang tersedia yakni mencapai 50 persen,” tandas mantan kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) tersebut. BTS yang dioperasikan bisa menampung 60 orang. Namun, dari pantauan selama dua pekan ini, penumpang yang naik kurang dari separuhnya. Bahkan bus dengan tarid Rp5.000 ini sering terlihat kosong saat melintas.

Di sepanjang Taman Pinang, Pondok Mutiara, Pahlawan sampai Majapahit, misalnya, terlihat lebih banyak kursi bus yang kosong. Joko mengaku BTS diisi lebih dari separuh kapasitasnya pada jam berangkat dan pulang kerja. ”BTS juga lumayan ramai pada hari-hari libur. Fungsi BTS pada hari libur ini berubah menjadi wahana wisata. Kalau Minggu pagi dan sore ramai juga. Banyak satu keluarga yang naik bus,” pungkas Joko Santosa. Sugeng, salah satu penumpang, mengaku, dirinya sengaja naik BTS untuk coba-coba untuk menghilangkan rasa penasaran.

Setelah itu, dia kembali beralih naik motor saat berangkat kerja. Pria yang bekerja di Surabaya ini mengaku jika naik motor, biaya bensin Rp10.000 tidak habis sehari. ”Kalau naik bus harus oper dua kali. Lebih baik pakai motor saja,” ujar pria yang tinggal di wilayah Candi ini.

Demikian pula bagi pelajar, tarif Rp5.000 untuk sekali jalan dinilai masih terlalu mahal. Terutama kalau sekolahnya dekat. ”Kalau naik angkot paling Rp3.000 karena pelajar,” ujar salah satu pelajar asal Porong.

Abdul rouf


Berita Lainnya...