Edisi 05-10-2015
PTAI Sulit Cari Dosen Tetap S2


PALEMBANG- Kelengkapan rasio Dosen Tetap wajib dipatuhi setiap Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). Hal ini terus diingatkan Kopertais Wilayah VII, agar PTAI tidak dinonaktifkan oleh Kemenristek Dikti.

SekretarisKopertaisWilayahVII A Rifai Abun mengatakan, PTAI swasta yang berada di naungan kopertais wilayah VII yaitu Provinsi Sumsel, Lam pung, dan Bengkulu harus su dah me nyiap - kan dosen tet ap nya minimal 6 orang. Di bawah Kopertais Wilayah VII total ada 40 PTAI de - ngan kisaran 12.000 mahasiswa yang terdiri dari STAI, STIT, dan Sekolah Tinggi Bisnis Syariah.

Menurutnya, PTAI yang ti - dak memenuhi kuota dosen atau kekurangan dosen S2, ma - ka siap-siap menerima risiko la - ma PDPT-nya ditutup. Saat kampus dikatakan nonaktif, ma ka semua bentuk pelayanan baik berupa pelayanan aka de - mik, sertifikasi dosen, ban - tuan/beasiswa, dan layanan Di - rektorat lainnya akan terham - bat sehingga membuat setiap warga di PTAI akan dirugikan. Rifai mengakui, kendala yang dihadapi setiap PTAI un - tuk memenuhi rasio dosen te - tap lebih dikarenakan akan dua hal, mulai dari regulasi pro fe - sional dosen yang kedisplinan il mu nya harus sesuai (linier), dan tahapan proses yang sangat selektif dalam mengangkat dosen.

”Kebanyakan kampus su lit cari dosen tetap yang ber la - tar pendidikan S2,” ulas dia. Profesional dosen yang ha - rus memiliki disiplim keilmuan misalnya menjadi kendala bagi setiap PTAI dalam me nye diakan dosen bagi beberapa mata kuliah. Sebab untuk program pascasarjana yang ada di UIN ini be lum semua menyediakan bi - dang ilmu yang sama. ”Con - tohnya untuk program studi RA (Raudhatul Athfal) yang khusus mengajar anak TK di pasc a sar - jana belum ada,” ulas Rifai.

Untuk mengatasinya, tam - bah dia, kebijakan yang diambil yakni memperbolehkan mengam bil dosen umum yang me mi - li ki bidang keilmuan hampir sa - ma dengan program studi yang ada. Selain itu, untuk beberapa PTAI yang berada di daerah bisa memanfaatkan putra daerah yang lulus dari PT di luar daerah untuk dijadikan tenaga pengajar. Namun tetap disesuaikan de ngan aturan pengangkatan yang ada. “Alhamdulilah ke ba - nya kan putra di beberapa da - erah yang sementara belum ada kesempatan menjadi pegawai ne geri bisa memilih untuk men - j adi dosen PTAI di daerahnya,” pungkasnya.

Dewan Pendidikan Sumsel Sirozi menyayangkan adanya kampus di Sumsel yang mesti dinonaktifkan oleh Kemen ris - tek Dikti. Tapi diakuinya mau bagaimana lagi jika kampus ti - dak mengindahkan standar dan aturan pendirian per gu - ruan tinggi yang ditetapkan. Hal ini diharapkannya tidak ter - jadi pada PTAI. Secara umum, dia men je las - kan, jika rasio dosen belum te r - pe nuhi atau ada masalah lain seperti akreditasi dan lainnya, maka akan ada teguran untuk membenahi.

”Kalau sudah ada teguran, itu artinya kampus itu tidak sehat. Perlu ada pengu - rangan mahasiswa atau pemenuhan dosen.

Yulia savitri

Berita Lainnya...