Edisi 05-10-2015
Seluruh Tambang Lumajang Distop


MALANG– Seluruh kegiatan pentambangan pasir di Kabupaten Lumajang dihentikan. Kebijakan ini diberlakukan hingga waktu yang belum bisa ditentukan.

Bupati Lumajang As’at Malik menyatakan, saat ini seluruh kegiatan penambangan pasir baik yang berizin maupun tidak telah dihentikandemimenjagakondusifitas masyarakat. ”Penghentian penambangan pasir ini juga bertujuan untuk melakukan pendataan terhadap penambangan pasir di wilayah Kabupaten Lumajang. Kami sudah berkoordinasi dengan Polres Lumajang dan gubernur Jawa Timur untuk penghentian ini,” ujarnya.

Menurut As’at, pendataan tersebut meliputi penambangan pasir yang sudah memiliki izin, untuk memastikan kesesuaian luas area (lahan) yang diizinkan dengan realisasi di lapangan. Apabila ditemukan ada ketidaksesuaian, As’at mengatakan pengelola tambang akan diberikan peringatan dan untuk sementara tetap tidak beroperasi. Namun tambang-tambang yang jelas tidak punya izin, As’at mengatakan akan langsung ditutup dan dihentikan aktivitasnya.

As’at menjelaskan, lokasi penambangan pasir di Desa Selok Awar-Awar, Pasirian awalnya adalah tambang legal, yang dikelola PT Indo Modern Mining Sejahtera (IMMS). Namun karena perusahaan tersebut belum membangun smelter atau pemurnian material hasil tambang sesuai aturan baru, penambangan di kawasan Pantai Watu Pecak itu pun dihentikan. Namun belakangan tiba-tiba saja lokasi tambang ini dikelola orang lain.

"Awalnya milik PT IMMS, kok jadi berpindah ke orang lain? Itulah dikatakan ilegal,” kata As'at seusai menjenguk Tosan di RSSA kemarin. Seperti diketahui, bermula dari polemik tambang pasir di Desa Selok Awar-awar, Pasirian, Kabupaten Lumajang, dua petani dan aktivis lingkungan desa tersebut menjadi korban. Salim Kancil meninggal dan rekannya Tosan terluka parah setelah dianiaya secara brutal dan kejam oleh kelompok warga pendukung tambang pasir.

Belakangan diketahui, kelompok orang yang menculik Salim Kancil dan Tosan dari rumah mereka, lalu dibawa ke balai desa untuk dianiaya secara keji merupakan preman-preman bayaran. Merekadibiayaikepaladesauntuk mengamankan lokasi tambang pasir ilegal milik sang kepala desa. Hingga saat ini, Tosan masih dirawat di Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Malang.

Polisi telah menetapkan 33 tersangka, 19 di antaranya adalah pelaku penganiayaan dan pembunuhan, 9 orang murni pelaku illegal minning, dan 5 orang sisanya tersangka penganiayaan dan pembunuhan, serta illegal minning. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Anton Charlyan mengungkapkan, satu di antara para tersangka illegal minning tersebut adalah pengusaha.

”Ada beberapa orang dari PT IMMS yang sudah dimintai keterangan sebagai saksi. Satu orang di antaranya juga sudah ditetapkan sebagai tersangka,” ungkap Anton saat menjenguk Tosan di RSAA Malang kemarin. Menurut Anton, penyelidikan masih terus berjalan sehingga tetap ada kemungkinan jumlah tersangka terus bertambah. Penyelidikan juga bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya keterlibatan pengusaha terhadap kasus pengeroyokan dan pembunuhan petani dan aktivis lingkungan Salim Kancil.

Mulai kemarin, tim dari Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri sudah diturunkan ke Lumajang untuk memeriksa sejumlah anggota Polri yang diduga terlibat dalam kasus penambangan pasir ilegal serta pengeroyokan dan pembunuhan. ”Sudah ada lebih dari tiga anggota kita yang sedang diperiksa terkait adanya dugaan keterlibatan dalam kasus ini,” ungkapnya.

Anton pun berjanji akan mengumumkan kepada publik hasil pemeriksaan terhadap anggota Polri yang diduga terlibat. Saat ini, ujarnya, sedang didalami sejauh mana keterlibatan mereka. Dia pun menyebut, oknum di polsek dan polres yang diperiksa akan disampaikan secara bertahap. Selain itu, tim juga akan mengungkap siapapun yang terlibat dan bukan hanya dari polisi saja karena masalah seperti ini saling terkait. ”Akan kita usut tuntas, sanksi bagi anggota bisa sampai pemecatan,” katanya.

Anggota Polri, lanjutnya, dilarang keras terlibat dalam kegiatan- kegiatan penambangan semacam ini, termasuk dalam bentuk dikaryakan. Apalagi menjadi beking kegiatan penambangan ilegal. Anton pun memastikan proses hukum yang berjalan akan dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku. Penyelidikan yang dilaksanakan juga bertujuan untuk mengungkap seluruh tersangka yang terlibat dalam kasus ini.

Anton mengaku kehadirannya di RSSA Malang selain untuk menjenguk juga memastikan kondisi kesehatan Tosan. Mengingat selain sebagai korban, Tosan juga salah satu saksi kunci dalam kasus ini. ”Alhamdulilah, tadi kondisinya sudah mulai membaik,” terang Anton.

Tragedi Kemanusiaan Akibat Eksploitasi Alam

Sementara solidaritas untuk Salim Kancil dan Tosan terus mengalir. Kemarin, Fatayat NU Jember menggelar aksi keprihatinan di Alun-Alun Jember. Agustina Dewi, korlap aksi menyatakan, aksi tersebut adalah solidaritas atas jatuhnya korban dalam perjuangan mempertahankan kelestarian lingkungan dari eksploitasi.

"Yang lebih memprihatinkan, penyiksaan yang mengakibatkan aktivis Salim Kancil terbunuh dilakukan dihadapan anak-anak usia pendidikan dini. Ini akan menjadi pengalaman buruk dan traumatik bagi mereka,” ujar Dewi. Dalam pernyataanya, Fatayat NU Jember mendesak polisi mengusut tuntas pelaku kekerasan tersebut serta terus menyelidiki kemungkinan keterlibatan aparat pemerintahan mulai dari desa hingga provinsi.

"Kami juga menuntut Polres dan Pemkab Lumajang untuk bertanggung jawab terhadap pembunuhan dan penganiayaan yang menimpa Salim Kancil dan Tosan karena tidak menanggapi laporan yang dilakukan Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-Awar Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang," katanya.

Solidaritas juga ditunjukkan Universitas Jember melalui Rektor M Hasan yang memberikan santunan kepada keluarga Salim Kancil di Lumajang. Hasan sangat menyayangkan peristiwa di Selok Awar-awar. “Jelas sangat disayangkan karena seharusnya almarhum (Salim Kancil) mendapatkan dukungan warga agar lingkungan tidak rusak. Tapi yang terjadi sebaliknya, justru beliau menjadi korban,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, selama ini Universitas Jember banyak melakukan upaya nyata dalam mewujudkan bentuk kepedulian pada lingkungan. Beberapa waktu lalu Unej baru saja menanami bakau wilayah pantai di sekitar Probolinggo, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi yang melibatkan para

Yuswantoro/ p juliatmoko

Berita Lainnya...