Edisi 08-10-2015
Bayi di Palembang Tewas karena ISPA


PALEMBANG- Bencana kabut asap di Sumsel memakan korban jiwa. M Husen Saputra, seorang bayi yang baru berumur 28 hari tewas karena ISPA.

Saat ditemui di kediamannya, Jalan Talang Banten,16 Ulu Pa - lembang, tadi malam, Hendra Sa - pura,33, ayah korban meng ungkapkan anak ketiganya itu me - ninggal Selasa (6/10) malam lalu di RS Muhammadiyah Pa lem - bang. “Anak saya meninggal sete - lah dirawat di rumah sakit Mu - ham madiyah Selasa (6/10) pu kul 19.30 WIB. Vonis dari dok ter menderita ISPA,” kata Hendra dengan berl inang air mata.

Sabtu (3/10), tiga hari sebe - lum meninggal, bayi Husen se - lalu menangis dan suhu badan - nya panas. Hari itu, kondisi udara Palembang sangat tidak bersahabat. “Mulai dari sore hari sampai fajar asap memang sangat tebal. Asap masuk dari celah jendela dan pintu. Setelah anak saya itu dibawa ke rumah sakit, tetapi anak saya sulit tertolong lagi kata dokter dia terkena ISPA,” ungkap Hendra.

Menurut buruh bangunan ini, anaknya yang lahir pada tanggal 11 September 2015 di ru mah sakit Muhammadiyah awalnya memiliki berat badan sekitar 2,5 kg. Namun beberapa hari kemudian, beratnya naik menjadi 3,5 kg. “Dia sehat-sehat saja awal dilahirkan walapun bobot ba - dan nya kecil. Gara-gara kabut asap ini, ia sakit dan mening - gal,”ujar suami Musidah,34 ini.

Husen dikebumikan kema rin pagi di TPU Telaga Swidak, Seberang Ulu II. Selain Husen, anak pertama Hen dra, Nurul Aisah,7, juga masih dirawat karena susah bernapas dan demam. Dokter yang merawat menyatakan anak nya itu terkena ISPA. “Anak saya pertama juga ter - kena ISPA. Ada di dalam rumah dia juga sakit. Tetapi tidak parah, sudah dibawa ke dokter. Semoga tidak terjadi apa-apa,” ucapnya polos.

Sementara satu anaknya lagi, M Nopal Zuan - da,2, kondisinya masih sehat. Dari kejadian tersebut, Hen dra berharap pemerintah provinsi segera memberikan solusi kongkret agar bencana asap di Sumsel cepat berakhir. Ia takut, orang yang tidak me - miliki ekonomi cukup, seperti dirinya akan mengalami pen - deritaan yang sama sepertinya. “Semoga kabut asap cepat berakhir. Kasihan kalau ada lagi korban seperti ini. Jujur saya masih sangat kehilangan dan terpukul sekali,” katanya, berharap.

Meninggalnya Husen me - nambah daftar korban jiwa karena kabut asap. Sebelum - nya pada Selasa (6/10) di Pe - kanbaru, Muhammad Iqbal Hali, PNS di kantor wilayah Ke - menterian Agama Riau me - ngembuskan napas terakhir akibat terpapar asap.

Hasan Amal, ayah korban menu tur - kan, sakit asma yang diderita Iqbal Ali mendadak kambuh. Dia sempat dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong. ”Menurut penjelasan dokter, asap menyebabkan asmanya kambuh dan semakin parah,” ujar Hasan Amal.

Hasan menjelaskan, anak - nya menderita asma sejak du - duk di bangku SMP. Meski de - mikian, selama beberapa tahun terakhir sakit tersebut tidak pernah kambuh. Begitu asap menerjang Pekanbaru, kondisi anaknya memburuk. Sebelumnya Muhanum Ang griawati, 12, meninggal du nia seusai terpapar kabut asap yang semakin pekat (10/9).

Masih di Pekanbaru, Sardi Ramadoni, 19, seorang mahasiswa meninggal dunia akibat menabrak mobil pe ma - dam. Petugas menyatakan kor - ban tidak bisa melihat jalan karena asap sangat pekat. Dari data Di nas Kesehatan (Din kes) Sumsel, per 5 Oktober tercatat, jumlah penderita ISPA berjumlah 2.207 orang. Jika diakumulasi dari awal tahun, jumlah penderita sudah men ca pai angka 364.221 pa - sien.

“Ada peningkatan di awal bulan ini, terutama pada empat wi la yah yang cukup ber de ka - tan de ngan Palembang, misal - nya Ba nyuasin, Musi Banyu - asin, OKI dan Ogan Ilir,” kata Kepala Dinkes Sumsel Lesty Nuraini, kemarin.

Di Sumsel ada lima kabu pa - tendenganpenderitaISPA yak ni Palembang (141.761 pa sien), Ogan Ilir (14.696), Musi Ba - nyuasin (10.417), OKI (31.500) dan Banyuasin (50.608). Dari Jakarta, kalangan DPR melayangkan su rat kepada Kepala Negara agar memimpin langsung penangg ulangan kabut asap. “Peme rin tah jangan me nung gu keajaiban alam berupa turunnya hujan tan pa melakukan langkah-langkah yang kon kret untuk meng hen - tikan kabut asap ini,” kata Ketua Komisi IV DPR Edhy Pra bowo di Ge dung DPR, Jakarta, kemarin.

Edhy meminta pemerintah menetapkan persoalan kabut asap sebagai bencana nasional mengingat dampaknya de mi - ki an masif. Asap pekat bukan hanya melumpuhkan aktivitas pen didikan, penerbangan, dan ge rak ekonomi, namun juga me nyebar hingga ke sejumlah ne gara tetangga.

Penetapan ben cana nasional agar peme - rin tah bisa mengerahkan se - mua sum ber daya yang ada, dari pusat hingga daerah. “Kami tak bisa tinggal diam karena kabut asap tidak hanya mengancam kerusakan ling - kungan tetapi juga memakan korban jiwa dan jutaan nyawa,” tegas Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra ini.

Anggota Komisi IV Herman Khaeron mengingatkan, pen - ting bagi Presiden mengambil alih komando penyelesaian ma salah asap agar bencana tidak berlarut-larut. Dengan Presiden turun tangan lang - sung, pemerintah daerah da - pat digerakkan lebih opti - mal. ”Karena ini sudah me - nyang kut nasib dan kesehatan ju taan orang,” katanya.

Badan Nasional Penang gu - langan Bencana (BNPB) me - ngakui kabut asap masih me - nyel imuti sejumlah daerah an - tara lain Riau, Jambi dan Ka - limantan Tengah. Berdasarkan pantauan satelit Terra Aqua, kemarin, ada 421 titik api di Sumatra, yakni Sumatra Se la - tan 351 titik, Lampung 45 titik, Babel 7 titik, Jambi 14 titik dan Bengkulu 4 titik.

Sementara di Kalimantan ada 39 titik, dengan perincian Kalimantan Barat 2 titik, Kalimantan Ti - mur 32 titik dan, Kalimantan Utara 5 titik. Kepala Pusat Data In for - masi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menegaskan, pe nanganan darurat bencana asap hingga saat ini masih terus dilakukan. Petugas pemad a - man darat merupakan gabu ng - an dari BPBD, TNI, Polri, Mang - gala Agni, Masyarakat dan lem - baga lainnya.

“Upaya pem a - daman melalui udara juga terus dilakukan,” katanya. Sementara itu saat me - nyambangi Air Sugihan, OKI, kemarin, Kepala BNPB Laksda Willem Rampangilei menga ta - kan akan membuat kanal bloc kingdi lahan gambut yang ter ba - kar. Menurut Willem, dari pan - tauan satelit ada titik api di Kecamatan Air Sugihan yang tidak kunjung padam.

”Saya lihat dari satelit sudah 7 hari titik api di air sugihan Kabu pa - ten OKI ini tidak padam-pa - dam, makanya untuk memas ti - kannya kita datang langsung ke sini. Ternyata benar api yang membakar lahan gambut itu belum padam karena api berada dalam kedalaman 5-8 meter,” ujarnya.

Sebelumnya pembuatan ka - nal blocking sudah dilakukan PT SBA untuk mengatisispasi agar api tidak meluas. Dia meminta pola seperti ini diterapkan di wilayah lahan yang rawan terbakar. ”Nanti pemerintah Daerah bisa saja menerapkan sistem kanal Blocking ini, BNPB tentu akan membantu pembuatan Kanal blocking di buat di lahan gambut yang ra - wan terbakar, ini bisa dibuat di Kabupaten OKI,” kata Willem.

Kepala BPBD OKI Azhar mengatakan pihaknya akan memetakan wilayah-wilayah gambut yang rawan terbakar untuk melaksanakan rencana tersebut. Proses itu menurut dia membutuhkan dana yang tidak sedikit. “Tidak mungkin menggunakan APBD, karena anggoran kita sangat terbatas,” ujarnya.

Thailand-Singapura Protes

Kabut asap tak hanya me - nyebar ke Singapura dan Ma - lay sia. Masyarakat Songkhla, Thailand, kemarin mulai me - ngeluhkan buruknya kualitas udara akibat paparan asap. Me - reka pun melayangkan surat keluhan kepada Indonesia melalui Konsulat Jenderal Re - pub lik Indonesia (KJRI) Song - hkla.

”Kami, termasuk anakanak, mulai mengalami gang - gu an pernapasan dan alergi,” bunyi surat tersebut. Pemerintah Thailand me - ngatakan, ASEAN perlu mem - bantu Indonesia karena mu - sibah ini sudah lintas negara. Pada Selasa (6/10), angka in deks standar polusi (pollutant stan - dard index/PSI) di tujuh wilayah Thailand mengalami fluktuasi. PSI tertinggi ter de teksi di Satun (210), disusul Songkhla (163), Phuket(136), Pattani(102), Yala (97), Nar a thiwat (72), dan Surat Thani (59).

Sementara itu Pemerintah Singapura mengirimkan surat resmi kepada pemerintah In - do nesia terkait permintaan nama-nama perusahaan yang diduga bertanggung jawab da - lam peristiwa kebakaran hutan dan lahan di Sumatera.

Berdasarkan keterangan Ke menterian Luar Negeri Sing - apura, langkah tersebut diambil untuk menindaklanjuti respons Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nur - baya Bakar yang menolak memberikan nama-nama pe - ru sahaan berstatus tersangka secara resmi, kecuali Singapura melakukan permintaan secara resmi pula. “Mudah-mudahan kami dapat mengambil langkah yang tepat dalam mengatasi kasus ini,” ungkap Kemlu Singapura, dikutip Channel NewsAsia.

Melalui KBRI, Kemlu Singa pu - ra juga siap memberikan ban - tu an kepada Indonesia antara lain berupa tiga pesawat A C- 130, tim dari SCDF, foto sa - telite, dan helikopter. “Kami siap membantu In - donesia dalam memadamkan api kebakaran dan kabut asap,” tambah Kemlu Singapura.

Ke - marin, indeks standar polusi di Singapura berkisar antara 116- 141. Namun menurut Lem ba - ga Lingkungan Nasional (Na - tio nal Environment Agency/ NEA) angka itu sempat turun sampai 83. “Dampak akibat asap kali ini saya kira tinggi,” kata Euston Quah, profesor dan kepala eko - nomi di Universitas Teknologi Nanyang. “Kita harus mem per - hitungkannya secara berkelanjutan dan perlu menimbang kerusakan yang terjadi tidak hanya di Singapura, Malaysia, dan negara tetangga, tapi juga di Indonesia,” tambahnya.

Dari sisi ekonomi, menurut Quah, Singapura akan ke hi - langan PDB antara 0,1% - 0,4%. Hal itu bergantung pada lam a - nya kabut asap menyelimuti Singapura. “Biaya kesehatan kemungkinan meningkat se - cara sangat cepat jika kabut asap ini berlangsung dalam periode yang lama dan terus memburuk,” tandasnya.

Peristiwa kabut asap terburuk pernah terjadi pada 1997. Saat itu, Singapura harus mengeluarkan dana hingga USD300 juta. Kerugian serupa juga pernah ditelan peru sa - haan-perusahaan dan bisnis di Singapura dalam peristiwa kabut asap 2013.

m moeslim/rahmat s/ m rohali/ muh shamil/ant

Berita Lainnya...