Edisi 28-10-2015
Pemuda Harus Jadi Penggerak Perubahan


JAKARTA– Hari Sumpah Pemuda harus jadi momentum untuk membangkitkan kembali semangat pemuda sebagai lokomotif pembangunan nasional. Pemuda harus bergerak membuat Indonesia lebih baik dan lebih maju.

Di sisi lain, pemerintah harus mampu menggarap potensi pemuda ini karena perannya yang signifikan dalam memajukan perekonomian nasional. Ketua Umum DPP Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) mengatakan, Indonesia dianugerahi bonus demografi, yaitu mayoritas penduduknya berusia produktif. Dengan bonus demografi tersebut, pemerintah seharusnya lebih mudah menggerakkan pembangunan ekonomi nasional.

HT menjelaskan, komposisi penduduk Indonesia saat ini separuhnya berusia di bawah 30 tahun. Kondisi tersebut masih akan terus berlangsung hingga 15 tahun mendatang. “Jumlah mereka besar, staminanya jauh lebih baik secara fisik. Dan seharusnya secara edukasi juga harus lebih baik dari generasi terdahulu. Masa depan kita ada di tangan mereka,” kata HT dalam pidato pada Rembuk Pemuda bertema “Kiprah Pergerakan Pemuda dalam Membangun Indonesia” di Kantor DPP Partai Perindo, Jakarta, kemarin.

Namun, dia mengingatkan besarnya jumlah kaum muda ini harus diimbangi lapangan kerja yang memadai sehingga tidak menciptakan pengangguran. Untuk itu, merupakan pekerjaan rumah bersama dalam membangun industri yang menciptakan nilai tambah dan padat karya.

Selain itu, sektor usaha kecil, mikro dan menengah (UMKM) harus didorong maksimal karena pemuda juga bisa mengambil peran besar di dalamnya. Pada kesempatan itu HT juga mengungkapkan keprihatinan melihat keterpurukan Indonesia, termasuk di bidang olahraga yang juga banyak melibatkan pemuda.

“Olahraga kita terpuruk hampir di semua bidang. Kita harapkan bagaimana pemuda bisa membangun semua bidang itu sesuai dengan peranan mereka masing-masing,” ujarnya. Kegiatan rembuk pemuda yang digelar untuk menyambut Hari Sumpah Pemuda itu diikuti sejumlah organisasi kepemudaan.

Ada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Minimnya lapangan pekerjaan, khususnya bagi kaum muda, menjadi sorotan Ketua IMM Beni Pramula.

Dia membandingkan kondisi para pemuda di Indonesia dengan negara Belanda. “Kami sempat ke Den Haag, di sana kalau siang atau malam hari hampir enggak ada pemuda atau mahasiswa di pinggir jalan, nongkrong, atau bergosip. Mereka sibuk di dalam gedung, berbicara masalah sektor industri, berbicara bagaimana mereka mengembangkan kewirausahaan,” ungkapnya.

Menurutnya, selama ini Pemerintah Indonesia belum memberikan kesempatan bagi kaum muda untuk berperan lebih besar dalam pembangunan. Mereka juga tidak mendapatkan kesempatan dan kepercayaan untuk mengisi posisiposisi strategis termasuk di pemerintahan.

”Negara tidak memberikan porsi yang spesial bagi pemuda. Kaum tua yang sudah tidak mampu lagi membangun bangsa tidak memberikan kesempatan kepada generasi- generasi muda untuk mengisi posisi-posisi strategis,” tuturnya. Beni berharap, ke depan ada regulasi khusus yang memaksimalkan potensi pemuda.

Ketua Umum PB HMI Arief Rosyid Hasan mengatakan, Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober menjadi momentum untuk meningkatkan peran pemuda dalam berbagai aspek kehidupan. ”Catatan sejarah 1908 dan beberapa momen-momen penting negara, selalu didorong anak muda. Mudah-mudahan di 2015, Sumpah Pemuda bisa dimaknai sebagai momentum sejarah yang mengingatkan anak bangsa betapa pentingnya peran pemuda dalam agendaagenda perubahan,” harap Arief.

Ketua Umum PP PMKRI Lidya Natalia mengatakan, hal yang diinginkan para pemuda adalah keterbukaan dan kebebasan dalam bergerak. ”Pertama kita hancurkan korupsi, kolusi, itu tujuan kita. Kita mau kembalikan semua milik rakyat untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan elite,” serunya.

Ketua Pemuda Partai Perindo, Effendy Syahputra, berharap terjadi konsolidasi para pemuda. Dia mengajak seluruh pemuda untuk bekerja membenahi bangsa ini agar bisa kembali meraih optimismenya dan memantapkan langkah menuju masa depan. Dia menambahkan, banyak anak muda yang sekarang apatis terhadap partai.

Namun, kehadiran Perindo diharapkan menjadi sarana bagi generasi muda untuk berkarya bagi bangsa. ”Ya, ini ada partai baru yang diisi oleh pemuda. Kami membuka pintu selebar-lebarnya kepada generasi muda untuk bergabung,” ujarnya. Di dalam Partai Perindo anak muda tidak hanya bersuara, tapi bisa mengubah dari dalam.

”Suka tidak suka, partai tetap merupakan elemen terpenting dalam sistem ketatanegaraan kita,” katanya. Rembuk tersebut diikuti oleh peneliti LIPI Lili Romli, Ketua PMII Aminudin Ma’aruf, Analis geopolitik Suryo AB, dan segenap pengurus Partai Perindo.

khoirul muzakki