Edisi 22-11-2015
Memilih Klinik Kecantikan Terbaik


Sebaiknya berhati-hati memilih klinik kecantikan untuk mendapatkan perawatan terbaik. Artinya, perhatikan perawatan kecantikan yang ada, sekaligus dokter yang praktik di klinik tersebut.

Menurut dermatolog Dr Stefanie Williams dari European Dermatology London, wanita biasanya ketika melihat seorang wanita lain yang cantik dengan melakukan perawatan kecantikan di sebuah klinik kecantikan, maka bisanya wanita tersebut langsung tertarik untuk melakukan perawatan di klinik yang sama. Namun, banyak wanita yang tidak memperhatikan secara saksama biaya perawatan dan produkproduk apa yang akan digunakan di klinik tersebut.

Williams mengatakan, perawatan kecantikan di klinik kecantikan membutuhkan biaya yang cukup banyak dan dilakukan secara berkala. “Oleh karena itu, kita harus selektif dalam memilih klinik kecantikan sehingga tidak perlu membuang biaya dan waktu. Apalagi jika sampai berdampak buruk bagi kecantikan,” ujarnya, seperti dilansir Dailymail.co.uk . Menurut Williams, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika seseorang memilih klinik kecantikan. Hal pertama yaitu dokter.

Menurut dia, di klinik kecantikan yang baik, dokter selalu ada di klinik setiap kali dilakukan prosedur perawatan, mengingat para ahli setingkat spesialis kulit harus mendapatkan pelatihan tambahan dalam melakukan perawatan kecantikan, seperti filler, botox , terapi laser, bedah pisau, dan prosedur kosmetik medis lainnya. “Ada baiknya Anda coba memeriksa apakah akreditasi spesialis kulit dan kecantikan atau sertifikat pelatihan lainnya terpasang di klinik,” kata Williams.

Selain dokter yang bersertifikat, perhatikan juga produk-produk yang digunakan dalam perawatan kecantikan. Klinik kecantikan yang baik biasanya memberikan jaminan keamanan berupa peralatan yang sudah memiliki cap lolos uji klinis nasional maupun internasional, baik itu dari cap lolos uji Food and Drug Administration (FDA) dari Amerika Serikat, atau Conformity European (CE) jika produk berasal dari Eropa.

Seorang calon pasien klinik kecantikan juga perlu paham bahwa dalam setiap tindakan harus ada surat persetujuan medis yang ditandatangani dokter dan pasien. “Pastikan dokter di klinik kecantikan memeriksa kondisi fisik dan kesehatan kita terlebih dulu, serta membuat persetujuan medis,” ujar Williams. Profesionalitas sebuah klinik kecantikan juga tercermin dari kebersihan dan suasana klinik.

Dia menyarankan untuk memperhatikan hal-hal kecil, seperti kebersihan ruang tunggu, debu di sofa atau meja, atau apakah dokter atau perawat memakai sarung tangan saat menangani pasien. Dalam menampilkan standar klinik kecantikan yang baik, Natasha Skin Clinic Center melakukan reopening kliniknya yang bertempat di Mall of Indonesia, Jakarta Utara. Natasha memiliki tiga varian produk, yaitu women series , men series, dan teens series .

Hal ini karena klinik kecantikan ini memahami bahwa setiap individu memiliki karakter kulit yang berbeda hingga memerlukan perawatan yang berbeda pula. Tidak itu saja, demi untuk memberikan rasa aman terhadap pasien, produk di klinik kecantikan terbuat dari bahan-bahan dasar botanical yang alami.

“Produk-produk Natasha diproduksi sendiri dan telah mendapat sertifikat Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB), yang disahkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), serta mendapat sertifikat halal dari MUI,” kata General Manager Operation Natasha Skin Clinic Center dr Dody Budiarso, di Jakarta Utara, Jumat (20/11).

Selain perawatan, kini Natasha juga menghadirkan enam produk unggulan Natasha Hair Series-Botanical Medicated Hair Care, yakni rangkaian perawatan rambut, seperti masalah rambut rontok, botak, dan sebagainya. “Tidak perlu takut perawatan di Natasha karena dilayani oleh para ahlinya,” kata dr Dody Budiarso.

Selain Natasha Skin Clinic Center, ada pula klinik kecantikan lainnya, salah satunya adalah Jakarta Aesthetic Clinic (JAC). Untuk memberikan perawatan kecantikan terbaik bagi pasien, JAC selalu sangat berhati-hati memilih produk. Hanya produk dengan profil keamanan yang tinggi dan tahan lama secara ilmiah yang digunakan untuk pasien di JAC.

dwi nur ratnaningsih