Edisi 22-11-2015
Sugeng Tindak Sri Paduka PA IX


YOGYAKARTA– Wakil Gubernur DIY yang juga Adipati Puro Pakualam Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam IX meninggal dunia pada pukul 15.10 WIB kemarin.

Jenazah akan dimakamkan hari ini di Astana Girigondo, Kecamatan Temon, Kulonprogo. Kepala Hukum dan Humas RSUP dr Sardjito Trisno Heru Nugroho menjelaskan, Sri Paduka PA IX masuk rumah sakit sejak 6 November lalu. Karena kondisinya semakin kritis, PA IX dipindahkan ke ruang ICU pada 16 November.

“Meninggal tadi siang menjelang sore, pukul 15.10 WIB, karena gerah sepuh,” katanya kemarin. Penghageng Urusan Pembudidayan Kadipatan Pakualaman, Kanjeng Pangeran Haryo Kusumoparasto, mengutarakan, sebelum meninggal pria kelahiran Yogyakarta 7 Mei 1938 ini sempat mengeluhkan sakit pada kakinya. “Kagungan suku (bagian kaki) sering dikeluhkan beliau,” katanya di Kompleks Puro Kadipaten Pakualaman tadi malam.

Sri Paduka PA IX pun akhirnya sering kontrol kesehatan ke rumah sakit. Pada 6 November lalu dokter mengharuskannya rawat inap di RSUP dr Sardjito Yogyakarta. Kondisinya sempat membaik dan menjalani rawat jalan. Namun, pada 16 November kondisinya turun lagi dan langsung masuk ICU RSUP dr Sardjito.

Penghageng yang juga Ketua Hudiana (Keluarga) Pakualaman Yogyakarta ini mengatakan, mendiang yang bernama lahir BRMH Ambarkusumo ini akan dimakamkan di pemakaman keluarga di Astana Girigondo Kecamatan Temon, Kulonprogo. “Jam pemakamannya baru kami rapatkan dalam keluarga,” imbuhnya.

Saat PA IX dalam kondisi sakit keluarga sudah mengadakan rapat agar tidak terjadi kekosongan kepemimpinan di Puro Kadipaten Pakualaman. Hasil rapat tersebut memutuskan Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Suryodilogo sebagai pelaksana tugas.

“Agar tidak terjadi kekosongan kepemimpinan di Kadipaten Pakualaman,” ucap KPH Kusumoparasto. KBPH Suryodilogo merupakan putra mahkota Puro Pakualaman. KBPH Suryodilogo yang juga bernama RM Wijoseno Hario Bimo saat ini menjabat sebagai Kepala Biro Administrasi Kesra dan Kemasyarakat Setda DIY.

Dua hari sebelum wafat almarhum dikabarkan tidak mau makan. “Beliau tidak mau makan selama dua hari. Beliau juga menderita sakit paru-paru,” tambah Penghageng Kawedanan Sentono KPH Tjandro Kusumo. Sampai tadi malam sejumlah tokoh berdatangan ke Puro Pakualaman untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Warga juga berbondongbondong datang untuk melaksanakan salat jenazah bagi Sri Paduka PA IX di Kompleks Puro Pakualaman. Sekretaris Daerah DIY Ichsanuri mengatakan, informasi dari Sekretariat Negara, Presiden Joko Widodo memberikan mandat kepada Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo untuk mewakili pemerintah pusat.

Untuk jalannya pemerintahan Pemda DIY, secara otomatis tugasnya diemban oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. “Secara otomatis, sesuai undang-undang, dirangkap Gubernur DIY. Di Perdais juga ada,” sebut Ichsanuri. Wafatnya pria yang dinobatkan sebagai Raja Paku Alam pada 26 Mei 1999 ini menjadi duka mendalam bagi warga Yogyakarta dan Tanah Air.

Di mata warga Yogyakarta, Sri Paduka Paku Alam IX merupakan sosok yang low profile . “Beliau adalah sosok yang suka mencari teman, low profile . Dia adalah tokoh yang luar biasa,” puji Adik Sri Sultan HB X, Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo. Ajudan Sri Paduka PA IX, Agus Timur, menuturkan pengalamannya selama 11 tahun menjadi pendamping.

Almarhum tidak pernah sedikit pun menunjukkan kekecewaan terhadap apa yang ditemuinya. “Beliau sosok yang tidak pernah kecewa,” katanya. Banyak kesan mendalam yang dialami Agus bersama Sri PadukaPA IX. Saat tugasluarkota sering kali Paku Alam IX yang menjadi sopir dalam perjalanan pulang.

“Dari Semarang, misalnya, beliau yang meminta nyopiri mobil. Itu luar biasa semangatnya, padahal usianya sudah sepuh,” ungkapnya. Sebagai catatan, KGPAA Paku Alam IX lahir di Yogyakarta pada 7 Mei 1983. Sebelum dinobatkan sebagai raja, dia bernama BRMH Ambarkusumo.

Almarhum merupakan putra dari KGPAA Paku Alam VIII dengan permaisuri KBRAy Purnamaningrum. Almarhum meninggalkan satu istri, GKRAy Koesoemarini, dan tiga orang putra: KBPH Suryodilogo, Bendara Pangeran Hario Seno, Bendara Pangeran Hario Danardono.

BRMH Ambarkusumo dinobatkan sebagai KGPAA Paku Alam IX pada 26 Mei 1999, menggantikan ayahnya. Pada 2003 diangkat menjadi wakil gubernur DIY, mendampingi Sri Sultan HB X.

Anglingkusumo Tolak Suksesi Paku Alam X

Di tempat terpisah KGPAA Paku Alam IX Al Haj -Anglingkusumo menyatakan rasa bela sungkawa atas wafatnya Wakil Gubernur DIY Sri Paduka Paku Alam IX. Meski demikian, dia tetap belum mengakui almarhum sebagai KGPAA Paku Alam IX yang sah. “Kami keluarga besar KGPAA Paku Alam IX Al Haj -Anglingkusumo dengan ini menyatakan rasa bela sungkawa yang sebesar-besarnya atas wafatnya salah seorang keluarga kami, yakni Kanjeng Pangeran Haryo Ambarkusumo.

Namun, walaupun beliau telah wafat, kami tetap belum mengakuinya sebagai Paku Alam IX yang sah,” kata menantu Angling, KPH Wiroyudo, saat membacakan pernyataan Angling kepada wartawan saat jumpa pers di kediamannya, Jalan Harjowinatan Nomor 6, Paku Alaman, tadi malam.

Karena itu, Anglingkusumo menentang jika akan terjadi penobatan Raden Mas Wijoseno Hario Bimo (putra mahkota Ambarkusumo) sebagai Paku Alam X. Alasannya, ayah Wijoseno dianggap bukan sebagai PA IX yang sah. Pihak Angling menegaskan tidak hanya akan melakukan penolakan suksesi secara moral, tapi juga dengan langkah konkret. “Kami ibaratnya sudah tanding, sudah berjuang untuk menempatkan yang hak pada tempatnya,” ujar Wiroyudo.

Angling menyatakan, atas nama rasa persaudaraan dan kemanusiaan laporan polisi ke Bareskrim Mabes Polri tentang dugaan penggunaan ijazah palsu yang dilakukan KPH Ambarkusumo selama menjabat sebagai wakil gubernur DIY tidak akan dilanjutkan lagi. “Walaupun kami 100% yakin benar dan akan menang.

Tetapi untuk laporan polisi tentang penghinaan dan fitnah yang kami terima dari kubu almarhum KPH Ambarkusumo tetap akan kami lanjutkan demi menegakkan kedaulatan dan supremasi hukum,” tutur Wiroyudo. Dalam jumpa pers ini Wiroyudo didampingi para kerabat Anglingkusumo.

Ada KRT Wirobimo, KRTH Cahyoningiromejo, Raden Tumenggung Dwi Hermanto dan Raden Tumenggung Sutopo. Wafatnya Sri Paduka Paku Alam IX membuat sejumlah seniman Ngayogjazz 2015 berduka. Di sela-sela pembukaan, pihak penyelenggara mengajak penonton Ngayogjazz memanjatkan doa dan mengheningkan cipta untuk menghormati almarhum. “Baru tahu kabar meninggalnya almarhum.

Meski belum pernah bertemu saya turut berduka cita,” ujar Erix Soekamti, anggota Endank Soekamti yang dalam kesempatan ini menjadi produser Jalu Tegar Prastawa, solois jazz yang turut mengisi Ngayogjazz 2015. Musisi senior Djaduk Ferianto merasa sedih dan kehilangan sosok yang juga pemegang tampuk kekuasaan Pura Pakualaman itu.

Dia berharap masyarakat dan generasi muda bisa mencontoh semangat almarhum yang merakyat, serta dekat dengan orang kecil. “Mudah-mudahan perjalanan beliau diterima Tuhan dan tidak terjadi persoalan di internal Pakualaman,” harap Djaduk.

Ridwan anshori/ ristu hanafi/ siti estuningsih


Berita Lainnya...