Edisi 22-11-2015
Kantor Dispenda Diduga Dibakar


MEDAN – Gedung Dinas Pendapatan (Dispenda) Sumatera Utara berlantai tiga di Jalan Sisingamangaraja, Kecamatan Medan Amplas, pada Sabtu (21/11) sekitar pukul 18.45 WIB dilalap si jago merah.

Dari informasi yang dapat dikumpulkan KORAN SINDO MEDAN di lokasi, sumber api berasal dari lantai dua di mana H Rajali berkantor. Setelah melahap seluruh ruangan Kepala Dinas, api kemudian menjalar dan melahap lantai satu, tepat di bawah ruangan H Rajali. Api kemudian menjalar ke lantai tiga hingga menghanguskan seluruh areal perkantoran Dispenda Sumut itu.

Kantor Samsat Medan Selatan yang berdampingan dengan Gedung Dispenda hanya mengalami kerusakan di lantai dua dan atap di lantai tiga. Peristiwa ini tak pelak menimbulkan spekulasi dari berbagai kalangan. Anggota DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan, menduga ada unsur kesengajaan dalam peristiwa tersebut. Secara logika, pada Sabtu (21/11) kantor pemerintahan terbakar itu jelas tidak masuk akal.

“Hari ini kan tidak ada aktivitas di sana. PNS libur. Makanya, sangat sulit kalau terjadi kebakaran sebab arus listrik juga kan mati. AC, komputer dan lainnya kan mati sehingga sulit diterima akal sehat kalau kantor Dispenda itu terbakar,” ujar Sutrisno, Sabtu (21/11). Itu akan berbeda kalau ada aktivitas kerja yang memerlukan aliran listrik sehingga bisa jadi terjadi arus pendek ataupun korsleting listrik.

“Biasanya penyebab kebakaran seperti itu sering diklaim karena arus pendek ataupun korsleting listrik, tapi kalau tidak ada aktivitas, tidak mungkin itu terjadi. Sepertinya ada unsur kesengajaan, saya menduganya seperti itu,” kata politisi dari PDIP itu. Apalagi, saat ini penyidik hukum, terutama Kejaksaan Agung (Kejagung) masih terus mengembangkan kasus aliran dana bantuan sosial dan dana hibah.

Termasuk yang mulai merebak, Korps Adhyaksa mulai membidik dugaan korupsi dana bagi hasil (DBH) Sumut. Dua kasus tersebut, yakni bansos dan hibah, membuat Gubernur Sumut Nonaktif Gatot Pujo Nugroho dan Kepala Badan Kesbangpolinmas Eddy Syofian ditetapkan Kejagung sebagai tersangka.

Sutrisno menambahkan, belum lama ini dalam rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD Sumut terungkap terjadi selisih data jumlah kendaraan dengan jumlah pajak kendaraan yang diterima itu terlalu jauh. “Ini saya melihat seperti ada upaya untuk melakukan penghilangan barang bukti.

Sebab, dari rapat Banggar sebelumnya, angka riil jumlah kendaraan di Sumut itu mencapai 5,2 juta, namun jumlah pajak yang ditarik hanya 2 juta lebih kendaraan saja. Selisihnya sangat besar. Ini yang kita lihat. Apa karena pajak kendaraan itu memang tidak bisa ditarik atau ada upaya sengaja ditutupi,” kata Sutrisno.

Apalagi kalau sudah terjadi kebakaran seperti ini, kata Sutrisno, data-data berupa laporan yang berbentuk fisik tentu sudah ludes dilalap api. Karena itu, untuk saat ini dibutuhkan kejujuran dari semua pihak. Selama ini dari kasus-kasus kebakaran yang terjadi senantiasa penyebabnya diklaim dari laporan polisi saja.

“Harusnya untuk mengungkap penyebab kebakaran ini tidak semata dari laporan polisi, tapi harus ada tim independen dari kampus seperti USU, UI, dan lainnya yang dapat menganalisis dengan jernih apa penyebab kebakaran itu,” desaknya. Kalau hanya berpatokan dari hasil laporan polisi, kasus terbakarnya kantor Dispenda Sumut dan kantor Samsat Medan Selatan ini jelas tidak akan independen, karena internal polisi juga terkait dengan datadata kendaraan di Sumut.

Selain itu, tambah Sutrisno, kalau polisi menganalisis kebakaran itu karena arus pendek, maka akan lebih baik jika pihak PLN juga ikut turun dan menyatakan bahwa memang itu disebabkan arus pendek. “Selama ini kan kalau ada kejadian kebakaran polisi menyatakan disebabkan arus pendek, pihak PLN tidak pernah turun menganalisis.

Harusnya kalau disebabkan arus pendek itu yang menyatakan bukan polisi, tapi PLN,” kata Sutrisno. Ditambah lagi, saat ini bangunan Dispenda Sumut juga sedang direnovasi menggunakan anggaran APBD 2015. Jadi, ini juga termasuk unsur penghilangan jejak kemungkinan pengerjaan renovasi ini.

“Makanya kami juga akan meminta informasi terkait pengerjaan renovasi ini. Jangan-jangan ini juga terkait dengan penghilangan jejak dari pengerjaan renovasi itu, karena kalau kebakaran dapat disebut merupakan bencana, sehingga bisa saja pihak ketiga yang mengerjakan itu lepas tuntutan. Makanya saya duga ini juga ada kaitannya dengan renovasi gedung,” kata Sutrisno.

Pengamat sosial dari Universitas Sumatera Utara (USU), Agus Suryadi, mengatakan, dugaan adanya unsur kesengajaan pada peristiwa yang menimpa kantor Dispenda Sumut bisa saja benar. Apalagi kalau dikaitkan dengan persoalan hukum di Sumut saat ini. Ditambah lagi sumbersumber dan data keuangan hasil pajak Pemprov Sumut ada di Dispenda.

Namun, untuk memastikan asumsi dan dugaan itu harus menunggu kepastian dari pihak penyidik (kepolisian). “Becermin dari kejadian kebakaran Medan Plaza, asumsi orang-orang kejadian itu sengaja dibakar, tapi nyatanya kan tidak? Terhadap kejadian ini masyarakat juga pasti berasumsi begitu.

Apalagi, suhu politik di Sumut saat ini sedang panas-panasnya. Ada yang (diperiksa) KPK, ada yang (diperiksa) Kejagung,” katanya. Menurut Agus, untuk menjawab semua asumsi dan dugaan masyarakat polisi harus cepat melihat. Sebenarnya polisi bisa menjelaskan dengan cepat mengetahui penyebab kebakaran agar peristiwa tersebut tidak melebar ke mana-mana.

Kriminolog Nur Sariani Simatupang mengatakan hal yang sama. Dia belum bisa menyimpulkan apa penyebab kebakaran tersebut. Bahwa kemungkinan ada unsur kesengajaan atau kelalaian itu bisa saja terjadi. Namun, untuk memastikan apa penyebabnya, harus menunggu kepastian dari kepolisian.

“Saya belum dapat menyimpulkan, tapi kemungkinan bisa saja terjadi. Untuk itu, kita berharap pihak penyidik dapat menjelaskan penyebab kejadiannya secara terbuka kepada masyarakat,” harapnya. Dari lokasi kebakaran, informasi yang dihimpun KORAN SINDO MEDAN dari seorang warga Hermanto, 40, mengatakan, peristiwa itu sempat menjadi tontonan warga sekitar 30 menit.

Tidak ada satu pun dokumen yang bisa diselamatkan dari gedung yang terbakar. Kepala Bidang Humas Polda Sumut Komisaris Besar (Kombes) Pol Helfi Assegaf mengatakan, proses penyelidikan akan dilakukan setelah api berhasil dipadamkan. “Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri Cabang Medan sudah berada di lokasi,” katanya.

Selain itu, konstruksi gedung dipastikan tidak roboh saat dilakukan penelitian sehingga tim Labfor bisa bekerja dengan baik untuk mengungkap penyebab terjadinya kebakaran itu.

Frans marbun/ lia anggia nasution/ eko agustyo fb

Berita Lainnya...