Edisi 22-11-2015
PLTA Asahan IV Dibangun


MEDAN – Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan IV berkapasitas 3 x 30 megawatt (90 MW) di Desa Tangga dan Desa Lubu Rappa, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan, mulai dibangun.

Peletakan batu pertama pembangunan proyek oleh PT Berkat Bina Karya senilai Rp3 triliun ini langsung dilakukan oleh Asisten I Pemkab Asahan, Taufik Z, Sabtu (21/11). “Tadi peletakan batu pertamanya langsung dilakukan Asisten I Pemkab Asahan, dengan begitu proyek pembangunan PLTA Asahan IV ini resmi kami mulai,” ujar Kabag Humas PT Berkat Bina Karya, Ramli Asshiddiqi didampingi Deputi Teknik M Noor El Husein Dalimunte, ketika dikonfirmasi usai melakukan peletakan batu pertama pembangunan, Sabtu (21/11).

Ramli menjelaskan, dengan peletakan batu pertama pembangunan tersebut, maka proyek yang sudah direncanakan sejak tahun 2015 itu sudah dapat mulai dibangun. Pembangunan PLTA Asahan IV akan dilakukan oleh perusahaan asal Tiongkok, Northwest Engineering Corporation Limited.

Kesepahaman untuk proyek pembangunan tersebut sudah dilakukan sejak 5 September 2015. “Untuk modal pembangunan, kami menggunakan pinjaman dari Bank of China dan kami perkirakan pembangunan akan selesai selama tiga tahun. Setelah itu barulah bisa beroperasi,” kata Ramli.

Sesuai rencana, listrik dari PLTA Asahan IV ini akan digunakan untuk kepentingan sendiri. Perusahaan akan menjual kepada manajemen Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei yang membutuhkan 1.000 MW. “Bisa saja, dalam saat tertentu seperti malam hari mereka tidak menggunakannya, jadi listrik akan mereka jual lagi ke PLN untuk dipergunakan masyarakat Asahan.

Tapi dari kami nanti jual sepenuhnya ke manajemen KEK Sei Mangkei dulu,” tambah Ramli. Karena itu pula, PLTA Asahan IV tidak memerlukan izin listrik untuk kepentingan umum (IUKU). Kalau ada izin IUKU, mereka wajib menjual ke PLN. “Kami mendapatkan izin untuk kepentingan sendiri dari BPPT Sumut.

Sebenarnya kami sudah beberapa kali mencoba mohon ke PLN agar didaftarkan dalam Rencana Umum Pembangkit Tenaga Listrik (RUPTL), tapi surat kami tidak direspons. Jadi, kami urus izin untuk kepentingan sendiri, sama seperti PT Inalum,” ungkap Ramli lagi. Dari perhitungan mereka, paling tidak dalam kurun waktu 14 tahun, PLTA Asahan IV sudah bisa mencapai break event point (BEP).

Dengan rincian, tiga tahun pertama tahap pekerjaan, mereka hanya membayar bunga bank. Di tahun ke empat hingga 12 tahun selanjutnya, mereka membayar cicilan utang. “Makanya di tahun ke- 15 lah kami baru bisa memberikan sharing untuk pendapatan asli daerah (PAD) kepada Pemprov Sumut seperti pajak air permukaan,” kata Ramli.

Ramli mengatakan, sejauh ini proyek PLTA Asahan IV sudah jelas titik koordinat lokasinya sesuai izin dari Bupati Asahan. PLTA ini berada di jalur yang tepat dan tidak ada lagi permasalahan. Soal izin bendung, mereka sudah mempercayakan kepada PT Lapi Ganeshatama Consulting.

Sesuai kesepakatan, pihak Lapi berjanji mengurus sampai tuntas. Hingga saat ini, sudah beberapa kali sidang dan masih berproses. “Jadi, tidak benar kalau kami tidak mendapatkan izin bendung,” katanya. Untuk saat ini, kata Ramli, pihaknya sudah mengantongi 16 IMB dari pemerintah setempat untuk pembangunan sarana dan prasarana di kawasan proyek.

Izin prinsip diberikan dari Gubernur Sumut Tengku Rizal Nurdin tanggal 30 juni 2005 dan kemudian dilanjutkan dengan surat Gubernur Sumut Rudolf M Pardede tanggal 27 Maret 2006 untuk percepatan pembangunan PLTA Asahan IV. Barulah di tahun 2011, pihaknya mendapatkan izin lokasi dari Bupati Asahan.

“Proses perizinan ini memang lama, begitu juga birokrasinya. Untuk mengurus analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) saja, kami butuh dua tahun. Mengurus feasibility study atau studi kelayakan satu tahun setengah dan mengurus Detail Engineering Design (DED) butuh dua tahun.

Belum lagi izin pinjam pakai dari Menteri Kehutanan. Makanya baru bisa saat ini terealisasi,” papar Ramli. Asisten I Pemkab Asahan, Taufik Z mengapresiasi dimulainya pembangunan PLTA Asahan IV ini. Pengoperasian PLTA ini akan membantu masyarakat Sumut menghadapi krisis listrik selama ini. Taufik juga berharap agar semakin banyak investor lain mau menanamkan modal untuk proyek pembangunan listrik di Sumut.

Lia anggia nasution

Berita Lainnya...