Edisi 22-11-2015
Metamorfosis Songket


PALEMBANG– Pesona kain khas Palembang, songket makin dilirik. Berbagai kreasi dihasilkan dari tekstil asli Sumsel tersebut. Kini kain yang ditenun dengan kekhasan budaya masyarakat Palembang itu sudah bermetamorfosis.

Tak ada lagi kesan kuno. Songket telah menembus para pemakai dengan level usia dan kalangan yang beragam. Buktinya di Festival Fashion Karnaval Songket Palembang, kemarin. Nampak ragam fashion dengan tema songket dipakai para peserta. Kreasi songket dikreasikan dengan menghasilkan beragam jenis.

Meski rata-rata menggunakan songket menjadi kain atau rok, namun kreasinya telah membawa songket tidak semata-mata untuk acara formal. Di barisan peserta asal Kota Palembang misalnya, songket telah dikreasikan dengan gaya fashionlebih ngepop. Songket telah digunakan oleh kalangan anak muda, sebagai topi dan rompi dengan nuansa fashion kalangan abad 20.

Sementara di sisi lain, laki-laki dewasa menggunakan motif kain songket sebagai bawahan celana. Hampir sama, nuansa yang dibawakan dengan kain songket yang lebih fleksibel. Tidak hanya itu, kain songket juga dikenalkan dalam bentuk rok bawahan dengan tipe potongan A, juga memberikan eksensebagai perempuan modern.

Sementara itu, pesona kain songket memang tidak lepas dari sisi budaya yang kental. Di barisan peserta yang berasal dari perbankan misalnya, membawakan songket dalam bungkusan tradisi China. Barisan peserta ini menggunakan kreasi songket dengan judul “Laksamana Ceng-Ho”.

Dikatakan Yusmana, Marketing Manajer Hotel Swarna Dwipa Palembang, sekaligus designer busana, timnya memilih mengkreasikan kain songket dengan tema China bukanlah tanpa sebab. Berdasarkan historisnya, songket telah digunakan sejak lama oleh para raja, termasuk Pengeran Ceng-Ho yang datang hingga menjadi sejarah bagi masyarakat Palembang.

Songket diabadikan menjadi bagian dari perkembangan masyarakat Palembang yang tidak lepas dari kultur China. “Lihat saja misalnya, songket yang identik dengan benang-benang emas. Kami pilih Ceng-Ho karena ingin mengingatkan sejarah songket Palembang. Tadi songketnya dikreasikan seperti keluarga kerajaan,” ungkap Yusmama yang mengaku sebagai masyarakat asli Palembang.

Ia mengatakan, kain songket kini sudah makin kreatif. Berbagai motif telah lahir dari beragam motif asli dan modifikasi, dari perkembangan fashionsaat ini. Kain songket sudah berubah lebih modern dan sudah tidak asing lagi digunakan masyarakat. “Berbeda dengan dahulu, yang menganggap songket kain mahal yang hanya dipakai untuk waktu-waktu tertentu.

Tapi sekarang mungkin motifnya yang dikembangkan dalam bentuk tekstil lainnya,” ungkapnya. Tidak ketinggalan, peserta dari Kabupaten Banyuasin juga mengenalkan kain batiknya. Meski bukan berbentuk kain songket, namun budayawan asli Banyuasin Raden Gunawan ini mengatakan, biasanya masyarakat juga menggunakan kain songket karena secara topografi juga banyak menetap di sekeliling Kota Palembang.

“Jika Banyuasin tidak ada songket, adanya batik. Jika ingin songket, tentu pakai songket Palembang. Songket kini sudah berkembang dan makin dikenal,” sebutnya. Jika dulu, sambung ia, menggunakan songket hanya untuk kalangan tertentu. Kalangan yang biasa menggunakan songket biasanya kalangan raja, bangsawan, atau masyarakat kelas atas.

Hal itu cukup realistis mengingat kain songket memang dihasilkan dengan waktu pengerjaan yang lama serta bahan kain dan benang yang mahal. “Tapi kini, songket sudah bermetamorfosis menjadi lebih modern, lebih populer, lebih merakyat dan bisa digunakan setiap saat. Meski bukan songket asli, masyarakat bisa pilih produk tekstil dengan motif songket,” ungkapnya.

Tasmalinda

Berita Lainnya...