Edisi 22-11-2015
Tak Ada Angkot di Surabaya


Angkot atau angkutan kota, istilah ini baru muncul seiring perkembangan media yang membuat segala sesuatu menjadi Jakartasentris. Masyarakat Surabaya dulu lebih mengenal angkutan umum tersebut sebagai bemo.

Pada Kamis (19/11) lalu, bemo-bemo ini tidak tampak menyusuri jalanan Surabaya yang aspalnya berasap lantaran suhu panas. Para sopir bemo tersebut ternyata menggelar mogok kerja.

Mereka memarkir bemonya memenuhi Jalan Yos Sudarso, depan Kantor DPRD Surabaya. Para sopir bemo ini menuntut penghapusan PP 74 tahun 2014 tentang Kewajiban Pengusaha Angkot Membentuk Badan Hukum. Ini adalah mogok kerja yang kedua. Mogok pertama dilakukan sekira Mei 2015.

Ketika itu, Amin warga Kedinding Lor akan melakukan transaksi cash on delivery (COD) dengan salah satu pelanggannya di Plasa Surabaya. Amin termasuk orang yang tepat waktu saat memiliki janji. Sebab itu, sekira pukul 11.30 WIB ia sudah meluncur ke lokasi pertemuan. Sesuai kesepakatan Amin bertemu pelanggannya pukul 12.00.

Jalanan tidak seperti biasanya. Saat melintas di Jl Prof Moestopo arah Viaduk Gubeng, lalu lintas macet total dan Amin terpaksa terlambat COD. Ya, ini hanya contoh kecil imbas dari mogok kerja dan pemblokiran jalan di depan Kantor DPRD Surabaya. ”Waduh, gara-gara sopi bemo mogok kerja, hari itu saya nyaris gagal COD.

Kalau setiap hari sopir mogok seperti ini ya ngeri,” ujar pria beranak dua ini. Di tempat terpisah, sekira pukul 13.00WIB di depan RSU dr Soetomo tampak beberapa truk Satpol PP diparkir di tepi Jl Darmawangsa. Saat itu saya sedang ada keperluan di kawasan Jl Manyar Kertoarjo. Awalnya saya mengira ada penertiban pedagang kaki lima (PKL) seperti yang sering terjadi di sekitar RSU dr Soetomo.

Namun ternyata truk tersebut digunakan untuk mengangkut masyarakat yang tidak bisa mendapat tumpangan bemo. Bergeser sedikit di Jalan Airlangga, saya berhenti untuk menikmati es cao untuk membasahai kerongkongan yang kekeringan karena panas di Surabaya sedang luar biasa.

Saat menikmati es murah itu, saya menyaksikan seorang ibu penjual pecel semanggi dengan wajah kebingungan. Ia berbincang dengan penjual es cao. ”Kok ga ono bemo lewat yo,” tanya dia karena kebingungan mencari angkutan untuk membawanya pulang ke Benowo. Ia lalu bercerita sudah lama menunggu bemo di tepi Jalan Airlangga namun tak ada yang kunjung lewat.

”Ak mau yo wis mlaku nang Darmawangsa kok yo ga ono blas sing lewat,” lanjut ibu itu polos. ”Loala, ini tadi katanya sopire mogok. Makanya tidak ada yang lewat,” jawab penjual es cao. Ibu penjual pecel semanggi itu semakin panik. Ia bingung bagaimana harus pulang ke Benowo yang jaraknya cukup jauh.

”Sampeyan numpak taksi ae,” celetuk tukang becak. ”Piro nek numpak taksi. Ga larang ta?” penjual pecel semanggi cemas karena tidak pernah naik taksi. Saya pun menjadi iba melihatnya. Seorang ibu tua yang menyambung hidup dengan berjualan pecel semanggi di sekitar Kampus B Universitas Airlangga (Unair).

Saya pun akhirnya menjelaskan jika ada tumpangan gratis yang disediakan untuk masyarakat yang tidak bisa naik bemo. Ibu itu pun tidak langsung merasa mendapat solusi. Ia khawatir tidak sampai langsung tiba di rumahnya. Ia masih terus ngobrol dengan penjual es cao.

Sementara saya harus meneruskan perjalanan. Dibenci Tapi Masih Dicari ”Kapan bemo belok atau menepi? Hanya Tuhan dan sopir yang tahu”. Ungkapan ini sering digunakan untuk perilaku sopir bemo yang seenaknya sendiri. Ya, bemo memang termasuk yang sering membikin jengkel pengguna jalan lain.

Meski demikian saat bemo tidak melintas di jalan ternyata banyak juga yang kebingungan. ”Kalau punya uang banyak ya lebih baik baik tidak naik bemo,” kata Sayuti. Mahasiswa Unair ini setiap akhir pekan naik bemo untuk menuju Joyoboyo. Ia mengaku tidak punya pilihan karena uang sakunya hanya cukup untuk naik bemo.

Sayuti mungkin dapat mewakili masyarakat yang masih menggunakan bemo sebagai sarana utama transportasi. Bahwa, bemo merupakan angkotan yang sering dianggap menjengkelkan adalah tidak salah. Untuk penumpang, paling terasa adalah soal waktu. Bemo melaju pelan karena kursinya masih banyak yang kosong.

Selain pelan, sumuk pasti dirasakan para penumpang. Belum lagi interior bemo yang banyak tidak menarik. Walaupun memiliki segudang permasalahan, para penumpang pun sebenarnya diuntungkan dengan adanya fasilitas umum seperti bemo. Selain pandangan negatif penumpang pun memberikan pandangan positif berupa kelebihan terhadap bemo. Bemo salah satu transportasi yang ekonomis.

Ekonomis tidak selalu berarti murah. Namun dalam hal ini, penumpang bebas membawa muatan yang ia bawa. Salah satu contoh, barang bawaan penjual pecel semanggi. Sementara itu, Jannah, seorang ibu rumah tangga mengaku tetap membutuhkan bemo bagaimanapun kondisinya. ”Saya tidak bisa mengantar dan menjemput anak saat sekolah.

Kalau tidak ada bemo, ya repot,” ungkap warga Manyar Kertoarjo itu. Dia juga mengaku, bemo tidak bisa tergantikan meski sudah ada Gojek. ”Pakai Gojek untuk anak-anak itu masih ribet. Sementara anak sekolah tidak boleh bawa handphone. Mending bemo, tinggal nunggu pinggir jalan langsung naik,” papar dia.

Masyarakat masih butuh bemo, dan para sopir bemo juga masih butuh mencari nafkah. Jauhari, korlap mogok sopir bemo pun mengaku tidak memaksa semua sopir. Ia mengaku mogok adalah satu-satunya agar tuntutannya didengar. ”Mohon maaf kepada masyarakat yang mengalami kesulitan karena aksi ini,” tuturnya.

Kota ini masih tetap butuh transportasi umum yang terjangkau. Semua saling membutuhkan. Semoga semua menjadi lebih baik dengan menemukan solusi. Jika bemo nyaman digunakan untuk berkeliling kota, pasti akan menarik.

Zaki zubaidi

Berita Lainnya...