Edisi 22-11-2015
AFI Gagas Futsal Lokal


SEMARANG– Anggota Exco Asosiasi Futsal Indonesia (AFI) Jateng, Tauriq Farhan, mengatakan perlu digelar liga futsal amatir regional untuk memperbaiki prestasi ke depan. Pembinaan futsal di provinsi selama ini dinilai tidak berjalan baik, lantaran tidak ada kompetisi berjenjang.

Futsal lebih banyak dipertandingkan dalam turnamen-turnamen secara insidentil, dan tidak mengedepankan prestasi. “Jateng tertinggal dari Jawa Timur. Di sana liga amatir sudah berjalan sejak lima tahun lalu, sementara Jateng tidak ada liga,” kata Tauriq kepada KORAN SINDO, kemarin.

Karenanya, Tauriq tidak kaget ketika tim futsal Pra-PON beberapa waktu lalu gagal total di Surabaya. Jateng harus tersingkir di babak penyisihan, lantaran kurangnya pembinaan selama ini. “Kekalahan itu bukan karena pemain ataupun pelatih yang tidak maksimal. Tapi penyebabnya karena selama ini tidak ada liga,” ujar dia.

Menurut Tauriq, liga bisa diputar untuk kelompok umur (KU) di bawah 21 dan 23. Untuk KU 21, bisa digelar di tingkat kabupaten/kota. Sementara, di tingkat provinsi menggelar KU-23, sesuai dengan regulasi PON. ”Saya pikir, kami ini ketinggalan. Bukan tidak bisa, tapi selama ini (pembinaan) hanya konvensional, dan tidak terarah,” ucapnya.

Terkait dengan rencana menggelar liga amatir, pihaknya akan memasukkan dalam program kerja 2016. Karena jumlah excoada lima orang, dia juga akan meminta masukan dan pertimbangan kepada anggota yang lain. Di Jateng yang sudah berjalan baru kompetisi level nasional, yakni Liga Nusantara. Pada 2015 Liga Nusantara mempertandingkan 16 tim, dan pelaksanaannya dipusatkan di Purwokerto.

Tim Liga Nusantara untuk bisa lolos ke dalam Futsal Super League (FSL), atau di level profesional, harus menjadi empat besar se-Indonesia. Secara keseluruhan, ada 33 klub yang mewakili provinsi untuk memperebutkan empat tiket tersebut. Tahun ini yang menjadi juara Liga Nusantara adalah klub Pelindo.

Dia mengakui, beberapa pemain asal Jateng ada yang membela klubklub profesional. Namun, jumlahnya tidak terlalu banyak. ”Kalau tiga sampai empat orang ada, yang membela klub profesional,” paparnya. Dari 16 klub di FSL yang bersaing pada 2015, tidak ada satu pun yang berasal dari Jateng.

Mayoritas dihuni oleh klub dari DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat. Seperti FC Libido Bandung, Futsal Kota Bandung, Persija Raya Jakarta, Biang Bola Bogor dan Electric PLN Jakarta. Pihaknya mendorong agar liga futsal regional diputar, lantaran animo cabang olahraga tersebut sangat tinggi di provinsi ini. Sangat disayangkan jika minat bermain futsal yang tinggi tidak berbanding lurus dengan prestasi.

Arif purniawan

Berita Lainnya...