Edisi 22-11-2015
Kampung Tua Semarang Terancam Hilang


SEMARANG- Perkampungan kuno di Kota Semarang yang memiliki nilai sejarah serta budaya tinggi kini nyaris hilang. Pesatnya pembangunan properti di Kota Lumpia ini membuat kampung-kampung tua itu semakin terhimpit dan nyaris hilang.

Lokasi kampung-kampung tua yang berada di segitiga emas Kota Semarang, yakni Jalan Pandanaran, Pemuda dan Gajahmada membuat kampungkampung itu diminati investor. Saat ini di sejumlah kampung tua itu sudah berdiri mall, hotel serta menjadi lahan parkir pengusaha- pengusaha kelas kakap.

Menurut cerita warga asli Kota Semarang, Jalidin Supriyadi, 61, sejumlah kampung kuno di Kota Semarang telah hilang. Kampung-kampung itu seperti Kampung Petempen, Kampung Jayengan, Kampung Mijen, Kampung Jayengjatan, Kampung Petrus, Kampung Mertojoyo, Kampung Surodinalan, Kampung Gendingan serta beberapa kampung lainnya.

“Dulu saat saya masih kecil, kampung-kampung itu masih ada. Masih hangat di benak saya saat bermain ke kampung-kampung itu,” kata Jalidin yang mengaku lahir di salah satu kampung tua Kota Semarang bernama Kampung Grobogan, kemarin. Menurut Jalidin, sejumlah kampung tua yang telah lenyap itu dulu memiliki kebudayaan serta keunikan sendiri-sendiri.

Seperti Kampung Mijen, dahulu dikenal sebagai sentra pembuatan anyaman rotan. Sementara kampung Mertojoyo dikenal sebagai sentra pembuatan alat musik tradisional. “Dulu di dua kampung itu ada pabriknya, bangunannya besar karena itu peninggalan Belanda,” kenangnya.

Menurut Jalidin, awal mula kampung tua di Kota Semarang hilang saat ada swalayan Sri Ratu di Jalan Pemuda masuk sekitar 1984. Setelah itu, banyak investor lain yang berdatangan dan membeli rumah-rumah di kampung tua itu. Selain bangunan kampung tua yang hilang, menurut Jalidin hilangnya kampung tua itu juga menghilangkan budaya tradisional Kota Semarang asli.

Dahulu lanjut dia, budaya tradisional sangat kental di kampung- kampung itu. “Kegiatan gotong royong, budaya apitan setiap lebaran, budaya dolanan tradisional serta budaya-budaya luhur lainnya masih kental saat kampung itu ada. Sekarang, semuanya hilang ditelan modernisasi,” pungkasnya. Pantauan KORAN SINDO di lapangan, di Kampung Sekayu misalnya, kampung itu sebagian besar sudah hilang.

Lokasi kampung kini menjadi tempat parkir sebuah mall besar di Kota Semarang. Hal yang sama juga terlihat di Kampung Basahan. Di kampung itu, kini tinggal menyisakan tiga bangunan rumah warga yang masih asli. Namun, salah satu bangunan juga sudah tertulis Rumah Ini Dijual. Saat mengunjungi Kampung Basahan, KORAN SINDO menjumpai seorang laki-laki yang mengaku mantan warga kampung tersebut.

Pria berumur 67 tahun tersebut mengaku bernama Sugiarto. “Dulu rumah saya di sini, saya jual untuk pembangunan hotel. Dulu dijual permeter Rp3 juta di tahun 2005,” kata Sugiarto. Bersama dirinya, sebanyak delapan rumah yang ikut menjual ke pihak pengembang. Saat ini, tinggal tiga rumah yang tersisa di kampung yang dahulu terkenal dengan es campurnya itu.

“Sebenarnya saya menyesal telah menjual rumah saya, karena saat ini saya tidak punya rumah dan hidup sebagai gelandangan,” imbuhnya. Budayawan Kota Semarang, Djawahir Muhammad mengamati, hilangnya kampung-kampung tua di Kota Semarang akibat tiga faktor. Pertama desakan kebutuhan ekonomi dari pemilik rumah, tidak adanya perhatian pemerintah dan adanya niat yang kurang terkendali dari pengusaha besar.

“Tiga hal itu yang membuat kampung tua di Kota Semarang hilang. Dan jika dibiarkan, maka kampung tua yang saat ini tersisa juga akan ikut hilang,” ujarnya. Padahal lanjut dia, keberadaan kampung tua sangatlah penting bagi sebuah kota besar. Sebab, perjalanan sebuah kota dapat dilihat dari keberadaan kampung tua yang ada di dalamnya. “Selain itu, kampung tua itu bagian dari artefak budaya yang harus dipertahankan.”

Pemerintah lanjut Djawahir harus aktif untuk menjaga dan melindungi kampung tua Kota Semarang dari kepunahan. Berbagai upaya harus dilakukan, seperti menetapkan kampung tua sebagai lokasi cagar budaya, membeli bangunan yang akan dijual pemiliknya serta memanajemen kampung tua sebagai tempat wisata sejarah.

“Semuanya harus segera dilakukan untuk mengantisipasi semakin banyaknya kampung tua yang hilang. Pemerintah harus cepat untuk menyelamatkannya,” pungkasnya.

Andika prabowo




Berita Lainnya...