Edisi 22-11-2015
Berani Pasarkan Permainan Edukatif Melawan Arus Kuat Game Gadget


Perkembangan teknologi yang semakin pesat juga berdampak pada bentuk mainan bagi anak-anak. Jadi harus hati-hati memilih mainan anak-anak.

Salah memilih permainan akan berdampak pada perkembangan otak dan tingkah laku anak. Hal inilah yang menjadi alasan utama Purnama Sari, Marctini, dan Susanti melawan arus deras perkembangan teknologi. Mereka memilih berbisnis mainan anak-anak yang edukatif.

Bagi mereka, derasnya perkembangan teknologi saat ini membuat orang tua, mau tidak mau turut mencekoki anaknya dengan berbagai model mainan berbasis teknologi. Sangat sedikit orang tua yang tetap mengawal perkembangan anaknya dengan mainan edukatif.

Minimnya mainan edukatif tersebut pula yang mendasari Purnama Sari, Marctini, dan Susanti untuk membuka toko mainan edukatif untuk anak-anak bernama Edu Toys City di Mal Cambridge Medan sejak 2007 silam. “Yang melatarbelakangi kami membangun bisnis ini adalah karena hobi.

Kebetulan hobi kami itu masuknya ke pangsa anakanak,” ujar Purnama saat ditemui di Outlet Edu Toys City Mal Cambridge Lantai 2, Medan. Mereka miris melihat kondisi sekarang ini. Permainan anak sangat sedikit yang memberikan edukatif. Sayangnya, orang tua tidak mengetahui hal ini dan hanya memberikan apa yang diinginkan sang anak, tanpa melihat bibit, bobot, dan bebet mainan tersebut.

“Setiap saya bepergian, saya masuk ke toko mainan anak-anak. Saya lihat banyak toko dengan mainan robot atau yang sebegitu saja, dan sangat sedikit sekali mainan yang memiliki nilai edukatif bagi anak,” ujarnya saat di dampingi Marctini. Saat keliling Indonesia beberapa tahun silam, Purnama sangat sulit menemukan toko mainan spesial untuk edukasi anakanak.

Kondisi ini sangat berbanding terbalik dengan luar negeri. Di luar negeri, mainan yang dipasarkan memiliki nilai edukasi bagi anak. Melalui mainan itulah anak diajarkan untuk belajar. Dari dasar inilah ketiganya sepakat melawan arus deras. Di tengah banyaknya produk yang dipasarkan oleh toko lain, mereka malah memilih permainan yang benar-benar memiliki pelajaran bagi anak.

“Dari sanalah (luar negeri) kami mengumpulkan ide, terus ditambah dengan background kami yang suka anak-anak. Secara perlahanlahan kami kembangkan,” ungkap perempuan berusia 39 tahun itu. Pertama kali membuka gerai, Edu Toys masih bergabung di Chimmon Cambridge sebagai lokasi permainan anak-anak.

Mereka membuka outlet paling sudut. Nama juga mengalami evolusi dari M Toys, Kids Corner hinga Edu Toys. Kids Corner sesuai lokasi di sudut yang ditempati usaha ini di Cambridge. Di sini mereka mengembangkan permainan berbasis edukasi, terutama art and craft atau ceramic painting .

Berjalan empat tahun, Edu Toys mengembangkan sayap dengan membuka toko khusus Edu Toys di Jalan Boulevard Raya No.88 D, Kompleks Cemara Asri, Medan. “Di Cemara Asri kami punya toko spesial produk kami semua. Dan sekarang kami mengembangkan usaha di dua cabang ini,” ujarnya.

Di Cemara Asri sejatinya jauh dari kota. Namun, peluang bisnisnya ternyata besar. Kejelian ketiganya patut diacungi jempol. “Kami merangkum wilayah Cemara Asri karena ada komunitas dengan penghuninya sudah banyak. Belum lagi kalau hari libur dan ada acara, banyak masyarakat yang datang ke Cemara.

Selain itu, di sana lokasi kompleks perumahan, anak-anak kalau ke luar malas. Makanya, kami buka di sana, dan sangat baik perkembangannya selama setahun ini,” ungkapnya.

HARIS DASRIL
Kota Medan

Berita Lainnya...