Edisi 22-11-2015
Habis Adipura, Habis TPA Sarimukti


BANDUNG – Euforia Kota Bandung dapat Piala Adipura sepertinya harus direm. Se - bab, kontrak TPA Sarimukti segera habis Februari 2016, sementara TPA Le gok nang - ka baru beroperasi 2017.

Setelah Adipura, sampah Ban dung mau dikemanakan? Direktur Utama PD Ke be r sih an Kota Bandung Deni Nur dia na mengaku belum me nge ta hui pas - ti nasib sampah Kota Ban dung se - telah Tempat Pem bu angan Sam - pah (TPA) Sari muk ti di Ka bu - paten Bandung Ba rat ditutup.

“Kemungkinan per pan jang - an kontrak TPA Sarimukti kami ju ga belum mengetahui. Mung - kin diperpanjang,” ujarnya ke - pa da KORAN SINDOkemarin. Ada kabar menyebutkan Gu - ber nur Jawa Barat Ahmad Her - ya wan akan memerpanjang kon trak TPA Sarimukti. Tapi se - jauh ini belum ada kejelasan pas ti soal perpanjangan kon - trak itu.

Menurut Deni, bila TPA Le - go knangka di Nagreg, Ka bu pa - ten Bandung belum beres, maka pem buangan sampah warga Kota Bandung kemungkinan te tap di Sarimukti. “Kontrak TPA Sarimukti ak - an habis di 2016 dan ren ca - nanya TPA Legoknangka akan ber ope rasi pada akhir 2017 atau 2018. Ka lau TPA Sarimukti tu - tup, ya ka mi akan memilih TPA Le go k nang ka sebagai pem - buang an sam pah di Kota Ban - dung,” tutur nya.

Dia melanjutkan, ke se pa - kat an antara Pemkot Bandung deng an beberapa kabupaten se - ki tar untuk membuang min i - mal 500 ton sampah per hari ke TPA sudah dituangkan. Tinggal Pemkot Bandung me nambah anggaran untuk mem bayar tipping feedan Kom - pen sasi Dampak Lingkungan (KDL) di TPA Legoknangka.

Sebab, dua variabel biaya di Legokangka jauh lebih mahal dibandingkan di Sarimukti. Pengelola TPA Sarimukti mem bebankan tipping fee se - besar Rp29.000 per ton sam - pah, dan KDL Rp10.500 per ton. Sementara di Legoknangka tip - ping feeRp123.000 per ton dan KDL Rp30.000. “Kita butuh da - na tiga kali lipat lebih besar,” ka - ta Deni.

Jika saat itu datang, dimana TPA Sarimukti tutup dan TPA Le goknangka belum buka, se - mentara perpanjangan kontrak Sarimukti tidak dilakukan, satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah mengurangi pro duksi sampah, meski itu pun tidak akan terlalu banyak mem - bantu. Menurut Deni, caranya de ng an mengaktifkan bi o di - gester di tiap RW, pasar, dan sejumlah titik lain.

Asum - sinya dengan teknologi itu, jumlah sampah per hari yang dibuang bisa jauh lebih berkurang. “Bila hal itu dilakukan jumlah sam pah per hari yang asal nya 1.500 ton bisa ber - kurang hingga 500 ton,” ujarnya. Dengan teknologi bi odi ges - ter, sampah bisa habis di sum - bernya. “Idealnya sampah itu bisa habis di sumbernya. Iba rat - nya kalau di tiap RW ada tek - nologi biodigister, sekitar se - tengah ton sampah per hari su - dah bisa didaur ulang,” tam - bahnya.

Disinggung mengenai PL - TSa Gedebage, Deni tak mau memberi keterangan lebih lan - jut. Menurutnya, PLTSa Ge de - bage sebagai solusi sampah me - rupakan kewenangan Wali Kota Ridwan Kamil. “Kami hanya operator, untuk PLTSa Gedebage itu bukan wilayah PD Kebersihan, tapi Wali Kota Bandung,” ucapnya.

Sekretaris Komisi C DPRD Kota Bandung Rendiana Awang - ga mengatakan, Kota Ban dung menghadapi masalah besar ketika menggantungkan TPA kepada daerah lain. “Ini risiko yang harus dihadapi. Se baiknya Pemkot Bandung se ge ra memikirkan alternatif pe nge - lolaan akhir sampah,” katanya.

Menurutnya, Pemkot Ban - dung harus segera me ngim - plementasikan Perda Nomor 14 tahun 2010 tentang Teknologi Pengelolaan Sampah Berbasis Ling kungan.Sehingga pe nge lo - laan sampah dari hulu sampai hilir di bawah kendali pemkot. “Pem kot juga harus fokus m e - ngurangi volume sampah dari sum bernya, dari rumah-rumah tangga,” katanya.

Ketika ditanya apakah sudah ada pembahasan ang - ga r an tipping fee dan KDL di TPA Legoknangka antara Pem kot Bandung dengan DP - RD untuk APBD 2016, me nu - rut Rendiana itu baru dibahas ba ru-baru ini. “Terkait ang - garan saya belum bisa men ja - wab,” katanya.

Heru muthahari/ anne rufaidah

Berita Lainnya...