Edisi 22-11-2015
KBAM, Tetap Kreatif di Masa Senja


Usia boleh setengah abad, bahkan ada pula yang memasuki 60 tahun. Namun urusan semangat selalu bergolak. Hal itu pula yang di buk - tikan oleh para penyanyi pen - tolan Kota Bandung yang pernah jaya pada era tahun 80-90.

Meski tawaran manggung sudah tak segencar masa emasnya, artis-artis gaek ini tak surut menunjukkan kecintaannya terhadap industri musik Tanah Air.Salah satunya Euis Cahya alias Euis Dunbar yang di tahun 1990-an sohor sebagai seorang lady rocker. Di usianya yang menginjak 50 tahun, dia semakin termotivasi mem be ri - kan sumbangsih terhadap ke - majuan industri musik.

Kendati sudah jarang manggung secara profesional, nyatanya dia tak mau jauh dari dunianya tempat dia dibesarkan. Salah satu langkah nyata itu dibuktikannya lewat komunitas yang dia dirikan Keluarga Besar Artis Musisi (KBAM) Bandung, Jawa Barat. Sebagai entertainer asli Bandung, Euis sadar di masanya banyak nama-nama yang sempat populer hingga kancah nasional.

Selepas kepulangannya merantau di Canberra, Australia, dia mulai merangkul beberapa nama terkenal untuk mengukuhkan komunitas ini. “Semangat sebagai seniman ini tak pernah surut. Meski tidak sejaya dulu, kami justru ingin terus berbuat sesuatu untuk musik Indonesia.

Apalagi di Bandung yang terkenal kota musik, setidaknya kami ingin melakukan pembinaan kepada generasi muda yang punya passion besar di dunia musik,” ujar Euis Cahya, belum lama ini di Kafe Saung Raden Bule miliknya. KBAM yang didirikan tahun lalu ini menghimpun sederet artis kahotasal Bandung di zamannya.

Sebut saja Tetty Kadi, Rieke Adriati, Hetty Kelana, Lina Hara, Marti Samala, Rita Gama, Ahmat Barnes (Unang), juga seniman Gugum Gumbira dan Adjie Esa Putra, Ardan Mastura, Hetty Koes Endang, dan masih banyak lagi. “Banyak kegiatan yang digelar seperti lomba nyanyi, bakti sosial. Bahkan dalam waktu dekat KBAM akan segara luncurkan album kompilasi.

Hal terpenting kita harus senantiasa bermanfaat bagi orang banyak,” tambahnya. Bagi para artis era lama, kebersamaan masih menjadi rumus utama di panggung musik. Sah saja karena di era tersebut persaingan industri hi - buran belum seketat sekarang. Terlebih zaman dulu penjualan kaset atau produk fisik masih kencang dan diminati.

Tak heran jika banyak penyanyi yang mudah mengeluarkan album full dan laris dipasaran. “Lagu yang sempat boomingyaitu ketika saya luncurkan lagu daur ulang dari ‘Isabella’ dimana saya mendapat penghargaan platinum karena lagu tersebut sukses terjual hingga 300.000 copydi zaman itu,” terang Euis. Senada dengan Euis, penyanyi Lina Hara juga bercerita tentang kontribusinya di KBAM.

Meski sudah semakin tak dikenal, semangatnya untuk membuat album kompilasi tetap berkobar. Baginya bermusik tak mengenal istilah pensiun, karena profesi tersebut didorong oleh hobi dan kecintaan. “Tak bisa dipungkiri, nama terkenal di zaman dulu, tak jaminan akan dikenal secara luas terus menerus. Namun bernyanyi itu sebuah healing (penyembuhan)bagi kita.

Apalagi sambil bersilaturahim dengan sesama musisi senior. Hal sederhana ini bisa dilakoni dengan kembali ke dapur rekaman, bikin kompilasi, nyanyi bareng di kafe dan apa pun bentuknya. Hal terpenting mengobati rasa kangen,” ungkap Lina. Meski usia tak lagi muda, mereka pun tak kehilangan ide dalam berkreasi.

Terbukti, KBAM sempat sukses menggelar minikonser Hetty Koes Endang, bahkan akan membuat konser juga untuk Nicky Astria. Tak tertutup kemungkinan pula, sejumlah penyanyi ternama era 2000- an bisa didatangkan.

DINI BUDIMAN
Kota Bandung

Berita Lainnya...