Edisi 22-11-2015
Koneksikan Zaman Lewat Aksara


Perkembangan aksara tak lepas dari suatu kebudayaan dan peradaban. Kemajemukan budaya di Indonesia adalah kekayaan tersendiri yang tak bisa dinilai dengan materi.

Budaya merupakan identitas suatu daerah, untuk menggali kekayaan itu diperlukan keahlian khusus dalam mempelajari sejarah suatu daerah dan kebudayaanya. Dahulu, sejarah diabadikan dengan cara lisan yang disampaikan kepada setiap generasi berikutnya, hanya saja kemampuan menyampaikan secara lisan seiring waktu terus berubah.

Berbeda dengan dokumentasi secara tulisan yang tercetak dalam dedaunan, rotan, ataupun bebatuan. Penyampaian seperti ini akan lebih mudah disampaikan lantaran dapat dilakukan penyalinan dengan cara pembukuan. Namun aksara yang digunakan pada zaman dulu akan sangat berbeda dengan saat ini.

Dibutuhkan kemampuan khusus untuk mempelajari dan membaca aksara kuno, dan kemampuan pada ilmu tersebut itu sangat minim sekali dipelajari oleh pemuda di zaman sekarang, lantaran penggunaan huruf latin lebih mendominasi di bandingkan huruf aksara Sunda. Koran Sindoberkesempatan menemui sesosok anak muda yang giat mempelajari aksara Sunda kuno ini.

Tak hanya satu aksara yang mampu dipelajari, juga beberapa macam aksara Sunda yang dapat dia baca dari beberapa naskah kuno yang sedang dipelajari. Di usianya yang masih 27 tahun, Sobar yang memiliki nama lengkap Septiyadi Sobar Barokah Saripin ini mampu mempelajari lima macam aksara, yakni pranagari, palawa, cacarakan, gakanga, sampaiArab regon. Lalu bagaimana awal Sobar mempelajari aksara Sunda kuno ini, dan apa motivasinya, berikut petikan wawancaranya:

Bagaiamana Anda bisa tertarik dengan aksara Sunda?

Awalnya, ketika masih duduk di SMA saya memiliki seorang guru yang mengajarkan aksara cacarakan, namun disana saya belum ada ketertarikan. Setelah masuk dunia perkuliahan semester satu, saya kenal dengan dosen Dedi Permadi yang mengajarkan banyak kearifan lokal, khususnya tentang sastra nusantara.

Bagaimana kearifan lokal itu dapat membangun seseorang menjadi lebih menghargai manusia itu sendiri. Semenjak itu kebetulan semester dua, rumah sedang direnovasi ternyata ada beberapa naskah yang saya temukan di rumah. Saat ditanyakan kepada nenek, dari mana ini naskah? Katanya harus dijaga karena suatu saat ada yang bisa menggali, saat saya tanyakan apa nenek bisa? Ternyata beliau bisa, dari sana saya mulai tertarik dan belajar huruf demi huruf.

Apakah sulit mempelajari aksara Sunda?

Satu huruf itu awalnya memang terasa sulit, karena setiap orang punya karakter yang berbeda-beda. Bahkan, saya buat pedoman literasinya, agar mengerti bunyinya, ke sananya jadi terbisaa. Awalnya saya belajar semua ini dari nenek saat berumur 20 tahun, sedikit demi sedikit, sampai saya di bangku perkuliahan sama teman-teman di Unpad, saya cari dan belajar hingga akhirnya bisa sharingdengan nenek dan menjadi sebuah percakapan yang menarik.

Di zaman modern seperti ini bagaimana Anda bisa tertarik pada sesuatu yang kuno, dan apa gunanya bagi Anda sendiri dengan mempelajarinya?

Pada dasarnya gini, kalau orangorang bilang aksara kuno itu berfungsi untuk penamaan jalan, tapi buat saya tidak. Kalau ada orang yang bertanya apa gunanya belajar huruf kuno itu di kehidupan modern ini? Saya akan tanya kembali, untuk apa Anda bisa membaca dan belajar huruf a, b, c, tentu untuk menggali informasi secara tertulis.

Karena informasi itu bisa didapat secara lisan dan tulisan juga. Nah, apabila lisan tentu bagaimana transmisinya atau turunannya, tentu dari awal siapa pencetusnya dan dari sini ada perubahan karena itu lisan. Tapi tulisan setidaknya terdapat beberapa, tidak konsisten juga dalam penulisan naskah karena setiap penyalin itu punya ideologinya masingmasing, jika ada ide itu dianggap vulgar.

Maka penyalin itu harus dilakukan dengan cara edit, apabila tak pantas digunakan. Namun pada dasarnya, keutuhan teks itu sendiri tak terlampau jauh dari teks aslinya. Jadi kenapa saya belajar huruf itu karena untuk mengetahui sejauh mana ideologi orang zaman dulu itu mempengaruhi kita di zaman sekarang.

Ada anggapan jika beberapa ajaran dalam naskah kuno itu menjurus kepada sesuatu yang mistis? Bagaimana menurut Anda?

Ada juga beberapa meninggalkan jejak kurang baik seperti sekarang, misal kalau dulu kanlebih banyak mempercayai naskah itu sebagai ajimat dan lainnya. Tapi sekarang kan, budaya Islam bisa langsung pada sumbernya. Kalau dulu kansalah satu pesannya ditulis dalam naskah.

Ada orang tertentu, yang mewakili golongan tertentu mengatakan untuk apa mempelajari naskah, itu sama halnya dengan syirik. Padahal naskah itu tak ubahnya dari membaca cerpen. Jadi banyak yang salah tafsir. Seperti halnya Seno tak akan tahu bagaimana menggambarkan tentang sosok yang digambarkannya dalam puisi dan cerpennya, begitupun dalam naskah.

Informasi apa yang Anda dapat dari membedah suatu nasakah kuno?

Banyak tentunya, contohnya Alquran, itu ditulis pada abad ke-7, tapi sekarang di modern sience. Semua bisa terbukti, bahkan dalam Alquran bulan mengelilingi bumi, tapi sekarang teori itu baru ditemukan ahli science modern. Tak menutup kemungkinan juga orang terdahulu dalam naskah orang tani contohnya yang ditulis oleh Musa,

bagaimana mengembangkan tanaman organik, itu sampai sekarang digali lagi menjadi suatu pengetahuan. Kalau kata Justin Garden mahorang yang tak mengambil pelajaran dari 3.000 tahun lalu, dia artinya tak tahu apa-apa padahal sejarah itu miliki kita, entah siapa pelakunya di masa lalu tetapi kan dampaknya akan dirasakan sekarang dan masa datang.

Bisa diceritakan sejarah aksara Sunda masuk ke Indonesia berdasarkan informasi yang Anda gali?

Setelah saya bagankan pengaruh India itu sangat kuat di masyarakat Indonesia, India Utara menghasilkan aksara pranagari, India Selatan melahirkan aksara palawa, kalau di batu tulis Bogor tulisannya palawa bahasanya sangsekerta, dari aksara palawa itu turun lagi menjadi bahasa kawi itu sekitar abad 8-13, bahasa kawi menjadi aksara, mempengaruhi aksara bali,

Jawa dan proto Sumatera, dan Sunda itu tak banyak terpengaruh oleh Jawa meski berdekatan, tetapi Sumatera, Batak dengan aksara kagana, dan bugis sangat dekat kagana dibanding carakan. Sunda itu dekat dengan Sumatera jika dilihat dari cerita rakyat yang pesanya moralnya sama seperti Malin Kundang dan Tangkuban Parahu, juga dilihat dari makanan. Kalau dirunut, satu sama lain itu saling mempengaruhi, saling mengadopsi dan melahirkan budaya baru.

Apakah ilmu dulu itu bisa diaplikasikan di zaman sekarang? Apa manfaat besarnya?

Ada beberapa orang mempertimbangkan, bagaiman hari ini dan besok. Katakanlah ini pilihan, saya memilih ini. Sebetulnya manfaat bagi kita kalau mempelajari budaya sejarah entah itu ide atau aktivitas, saya lebih tahu menyikapi lingkungan masyarakat. Saya lebih menghargai, ketika sikap ini muncul di masyarakat, dan saya lebih arif menyikapinya.

Perbincangan dengan Pak Iman Soleh di Sumaedang yang artinya bagaimana kita dapat mengetahui pola pikir di tempat tersebut dengan mempelajari sejarah yang ditulis berbagai daerah, saya tak membatasi naskah itu. Misal sifat-sifat yang diwariskan secara sadar atau tak sadar, sepeti Sunda mahpemalu. Dengan aksara itu saya bisa lebih belajar terbuka, menerima sisi apapun yang ada di suatu masyarakat tertentu.

Lalu dimana posisi aksara Sunda di zaman modern ini?

Sempat terlihat beberapa aksara di beberapa jalan dan itu salah satu pelestarian, kalau untuk mengenalkan kembali ke masyarakat gakmungkin karena semuanya sudah modern, hurufnya juga sudah latin. Bahasa merupakan media dalam mengembangakan ide, ilmiah dan lainya. Kedudukannya sendiri, kalau bukan kita yang melek kepada masyarakat, entah apa pun yang terjadi.

Apa tantangan terbesar untuk menjaga kelestarian aksara Sunda ke depan?

Apabila aksara ini dianggap kering dan kolot, dianggap hal bisaa, tapi menurut saya berisi tentang sejarah kerajaan. Zaman sekarang itu yang dikejar materi bersifat kebendaan. Yaitu sah-sah saja, tapi usaha saya ini tetap sesuatu yang harus dipertahankan,

tidak untuk orang banyak tapi minimal kelak untuk lingkungan kecil saya, untuk keluarga dan keturunan. Hidup harus terus berlangsung, tapi tidak pula melupakan jati diri kita sendiri dan semuanya itu tak harus menghasilkan. Yang penting bagi kita adalah mencari jati diri sendiri, itu yang lebih sulit.

Agie permadi






Berita Lainnya...