Edisi 22-11-2015
Menggunakan Bahasa Ibu Merupakan Keharusan


Ketika kebanyakan orang seusianya lebih tertarik mempelajari bahasa asing. Septiyadi Sobar Barokah Saripin lebih memilih mempelajar bahasa leluhur. Bagi Sobar mempelajari bahasa asing itu kebutuhan, bahasa nasional itu keperluan, aksara bahasa tradisional itu suatu keharusan, karena bahasa ibu adalah bahasa yang kuat bagi seseorang.

“Kalau bahasa Indonesia akan di pelajari di sekolah, kemudian bahasa asing perlu untuk menghadapi modernisasi. Motivasi saya yaitu suatu kewajiban. Jadi motivasinya saya ingin mempelajari lebih, karena kalau kita membaca karangan terkenal pun karena ingin mengetahui informasi lebih, dengan aksara itu tak hanya dilihat dari struktur latar belakang saja, tapi saya berpaling ke masyarakat zaman dulu.

Saya ingin memperkuat bahwa saya berasal dari sini, ini bekal saya bahwa untuk kehidupan besok tuh ini harus dan ini suatu kebutuhan,” tuturnya. Untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, Sobar rutin melakukan kegiatan bersama komunitas Celah-celah Langit (CCL). Saat ini pun Sobar berusaha memberikan ilmu yang dimilikinya kepada anak-anak dengan cara yang menarik.

Misal jika anak-anak suka main bola, pada kaos timnya nama dibuat dengan aksara Sunda. “Anak-anak itu akan lebih exploreketika mereka ceria. Meski hanya memberikan pelajaran itu kepada anak SMA atau SMP, dari 30 orang mungkin ada 1-2 orang yang tertarik,” katanya. “Di bangku kuliah saja, banyak yang malas untuk belajar aksara Sunda. Mereka lebih mengangap suatu hal yang keren itu ketika membedah karya ilmiah.

Nahitu kenapa mereka tak mencoba membedah karya naskah yang lebih sulit. Sebetulnya sama-sama rumit. Tapi mungkin kembali ke niat masing-masing,” sambungnya. Sobar pun berharap, ke depan banyak orang nantinya bisa menulis aksara Sunda dan mempelajarinya. “Kalau kita semua melihat sisi baiknya dari naskah, itulah tugas kita untuk memberikan pemahaman.

Tapi kalau kita mampu memberikan penjelasan mungkin mereka akan lebih tertarik, ketika mereka menjelaskan sejarahnya,” terangnya. Sobar melihat gairah itu sudah kembali, munculnya komunitas Sunda, dan dukungan pemerintah setempat, seperti hari Rabu itu harus memaki pangsi. “Rebo itu indung poeSunda.

Awal perhitungan orang Sunda. Adanya peran serta dari pemerintah seperti itu, aksara Sunda ini masih bisa di kembangkan,” terangnya. Lebih jauh menurut Sobar perlu adanya dukungan dari banyak pihak dan wadah untuk mempelajari naskah kuno Sunda. Seperti komunitas CCL.

“Mungkin sedikit demi sedkiti akan menjadi media untuk menyampaikan bahwa kamu punya sejarah dan aksara. Jadinya tak terlepas dari situ juga. Untuk beberapa tahun ke depan aksara ini selama ada orang yang memperkenalkannya akan terus hidup, jadi jangan sampai terlepas mata rantainya untuk mempelajari kebudayaan masyarakat masa lalu,” pungkasnya.

Agie permadi

Berita Lainnya...