Edisi 22-11-2015
Jangan Salah Memilih


Alat Permainan untuk AnakUntuk memaksimalkan pertumbuhan anak, orang tua harus selektif memberikan alat permainan kepada anak. Seperti memberikan alat permainan edukatif (APE) yang mampu mengembangkan aspek psikomotorik anak.

Salah memberikan alat permainan kepada anak, tidak menutup kemungkinan pertumbuhan anak kurang maksimal. Salah satunya menyebabkan daya interaksi seorang anak tidak berkembang sebagaimana mestinya. Director Minauli Consulting Irna Minauli menjelaskan alat permainan yang baik untuk anak adalah alat permainan yang mengandung unsur pendidik atau APE.

Melalui APE itu, kemampuan motorik kasar dan motorik halus dapat berkembang dengan baik melalui APE tersebut. “Mainan merupakan hal yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Melalui permainan, anak belajar banyak hal. Contoh APE itu seperti alat permainan seperti puzzle dan rancang bangun seperti menyusun balok sangat baik untuk mengembangkan kemampuan motorik anak,” katanya belum lama ini.

Dengan memberikan alat permainan yang tepat, anak tersebut akan mampu mengembangkan kreativitasnya sendiri. Permainan tradisional lebih memungkinkan anak untuk belajar banyak tentang sosialisasi dan menunggu giliran. Misalnya, saat anak bermain congklak, mereka harus sabar menunggu gilirannya dan memberi kesempatan temannya untuk bermain.

Permainan tradisional umumnya lebih melibatkan aktivitas fisik seperti berlari sehingga hal itu akan meningkatkan kesehatan anak. “Umumnya permainan tradisional seperti jinjit dan meronce sangat membantu motorik kasar dan motorik halus si anak untuk beraktivitas dan bersosialisasi,” ungkapnya.

Untuk itu, Irna Minauli mengingatkan tidak semua alat permainan anak mempengaruhi tumbuh kembang anak dengan baik. Seperti alat permainan modern seperti mobil remot dan lainnya. Karena secara teoritis, alat permainan yang menggunakan baterai dan remot kontrol tidak membangkitkan kreativitas anak karena mereka tidak melakukan uji coba dengan mainan tersebut.

Anak hanya bisa menggerakkan alat permainan itu. “Permainan yang siap jadi seperti mobil-mobilan dan yang menggunakan baterai dinilai tidak baik untuk perkembangan kreativitas anak,” ujarnya. Selain itu, seiring dengan berkembangnya teknologi, tidak sedikit orang tua yang memberikan anaknya gadget .

Padahal di usai balita, gadget bukanlah alat permainan yang tepat untuk anak. Maklum saja, di dalam gadget itu terdapat banyak mainan yang bisa dimainkan. Saat ini banyak orang tua yang salah kaprah dengan memberikan gadget sejak usia dini tanpa mengetahui dampak negatif pada perkembangan anak di kemudian hari.

Karena bagaimanapun, menurut Irna gadget bukanlah permainan. Gadget merupakan bentuk dari perkembangan teknologi. “Ketika anak terpapar dengan gadget maka anak akan mengembangkan sikap lazy and moody. Penelitian menunjukkan banyak dampak negatif dari gadget terhadap konsentrasi belajar anak.

Mereka menjadi kurang mampu berkonsentrasi sehingga menjadi malas atau lazy dan mereka cenderung sering menunda pekerjaan atau pelajaran,” ucapnya. Secara emosional, anakanak juga menjadi labil sehingga nak menjadi mudah marah dan mungkin bersikap cengeng dan bersikap tantrum atau cenderung marah ketika dilarang memainkan gadget.

Tidak menutup kemungkinan anak menjadi adiksi dan sulit untuk dihentikan untuk bermain gadget. Selain itu, anak-anak yang terbiasa bermain gadget juga cenderung akan menjadi solitair. anak tidak biasa bersosialisasi sehingga tidak mampu bekerja sama dengan orang lain. “Sayangnya lagi, banyak orang tua yang memberikan gadget kepada anaknya, sementara mereka sendiri gaptek sehingga tidak bisa mengontrol apa yang ditonton atau dimainkan anaknya di gadget itu.

Selain itu, banyak orang tua juga memberikan gadget hanya sebagai pengalihan agar anaknya tidak mengganggu kesenangan orang tua,” ungkapnya. Untuk itu, Irna Minauli mengimbau agar orang tua menyesuaikan umur si anak dengan alat permainan yang akan mainkan oleh anaknya.

“Anak layak mendapat gadget ketika mereka sudah mampu mengatur dia sendiri dalam belajar dan beraktivitas dan ketika mereka sudah bisa menegakkan disiplin diri. Hal itu biasanya baru tercapai ketika anak sudah memasuki SMP atau SMA. Untuk itu, orang tua harus menyesuaikan usia anak dengan alat permainan yang diberikan,” ucapnya.

Director Group Marketing and Communications PT Multitrend Indo (salah satu pusat penjualan alat permainan anak di Kota Medan), Bertha Septiani mengungkapkan alat permainan untuk anak-anak menjadi salah satu aspek penting dalam tumbuh kembang anak. Memang pada dasarnya seorang anak bisa tumbuh secara alami.

Tumbuh kembang seorang anak bisa berlangsung secara pasif atau aktif dan itu bisa menjadi pilihan. Untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, tidak ada salahnya, orang tua memberikan mainan yang edukatif. Soalnya, usia 0-8 tahun merupakan masa golden year anak yang sangat membutuhkan perhatian khusus dari orang tua.

“Orang tua yang bijak tidak hanya memberikan anaknya mainan yang tidak memiliki fungsi edukatif sama sekali. Namun sebaliknya, orang tua itu akan lebih selektif dalam memberikan mainan kepada anaknya. Karena alat mainan anak juga menjadi aspek penting dalam tumbuh kembang anak,” ucapnya.

Namun demikian, Bertha menambahkan walau anak tersebut sudah diberikan mainan yang edukatif, bukan berarti orang tuanya bisa lepas tangan, sambil menonton televisi dan mengerjakan pekerjaan rumah. “Bukan berarti, anak itu bisa dilepas begitu saja setelah ibunya memberikan mainan edukatif itu. Si ibu, harus turut serta bermain dengan anaknya.

Karena itu merupakan masa interaktif yang sangat baik bagi seorang ibu dengan anaknya,” ujarnya. Untuk memilih mainan anak yang edukatif, Bertha mengungkapkan seorang ibu harus pintar memilih mainan anak sesuai usianya. “Perusahaan kami menyesuaikan jenis mainannya dengan tahap perkembangan anak.

Sehingga mainan tersebut dapat membantu dalam mengoptimalkan tumbuh kembang buah hati anda. Seperti mainan bertemakan my discovery zone yang diperuntukkan khusus bagi anak berusia 0-18 bulan. Selain itu, kami juga menyediakan alat permainan anak bertemakan sport and activity, puzzle and games, action and adventure, art and creative, making music, serta learning and books,” paparnya.

Seorang ibu rumah tangga, Irma Suriani, 27, mengungkapkan, dia selama ini memberikan alat permainan modern dan tradisional kepada anaknya dan dia merasa penggabungan kedua jenis alat permainan itu membuat tumbuh kembang anaknya baik. Irma Suriani kerap memberikan anaknya alat permainan yang menggunakan baterai seperti boneka anak yang bisa bernyanyi, unta-untaan yang bisa berjalan sendiri dan bahkan gadget .

“Selain itu, saya juga memberikan alat permainan tradisional seperti menyusun balok, poster huruf dan angka. Tapi sesekali, anak saya yang berusia 8 tahun itu saya berikan ipad , tapi sambil saya temani. Di ipad itu saya ajarkan dia menghafal ayat-ayat Alquran dan aplikasi yang mendidik lainnya,” ungkap warga Medan Denai itu.

Dicky irawan

Berita Lainnya...