Edisi 03-01-2016
Lompat Galah sang Pemimpin


Banyak pemimpin memilih langkah aman untuk tidak mengambil jalan yang rumit dan pada akhirnya banyak yang terjerembab dengan kubangan kotor bernama korupsi.

Berbeda dengan pemimpin perubahan atau change leader, mereka akan berjuang untuk menuju zona baru meskipun diselimuti dengan ketidakpastian. Hal itu wajar karena pemimpin pembaharuan akan selalu memikirkan pembangunan besar dan jangka panjang yang belum tentu ada dana dan selesai pada masa kepemimpinannya.

Namun, dengan ketidakpastian itu, pemimpin pembaharuan akan merasa tertantang untuk menyelesaikan persoalan yang belum terlihat ujungnya. Selain itu, pemimpin pembaharu akan mendapatkan perlawanan keras bahkan bisa meregang nyawa dari pihak-pihak yang tidak senang dengan adanya perubahan, karena kepentingan mereka akan terganggu.

Seperti Abraham Lincoln yang menghapus perbudakan di Amerika Serikat atau Martin Luther King yang memperjuangkan hak-hak sipil sekaligus menghapus segregasi. Keduanya tertembak di tangan kaum ekstremis yang menentang perubahan. Dan, banyak lagi tokoh-tokoh yang kehilangan nyawanya akibat melakukan pembaharuan. Namun, hal itu tidak menyurutkan lahirnya para pemimpin- pemimpin perubahan baru.

Bahkan semakin hari terus bermunculan seperti apa yang diceritakan dalam buku ini, Rhenald menceritakan tokohtokoh yang disebutnya sebagai pemimpin pembaharu seperti Awang Faroek Ishak (Gubernur Kaltim), Joko Widodo (saat Walikota Solo dan DKI), Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), Suyoto atau Kang Yoto (Bupati Bojonegoro), Ridwan Kamil (Walikota Bandung).

Dalam buku Change Leadership Non-Finito, Rhenald Kasali banyak mengambil contoh Awang Faroek sebagai pemimpin perubahan. Awang yang saat ini masih menjabat Gubernur Kalimantan Timur memilih mengambil kebijakan pembangunan jangka panjang yang hasilnya tidak akan dirasakan dalam waktu dekat, dibandingkan mengambil kebijakan populis, namun sesaat.

Pada hakikatnya perubahan untuk yang lebih baik itu bukanlah hal yang instan. Sebab, tidak mungkin pemimpin langsung bisa menghilangkan kemacetan, banjir, kemiskinan namun butuh proses yang panjang. Maka dari itu, banyak para pemimpin yang mengambil jalur instan agar mendapat pujian dan terpilih kembali. Pemimpin seperti ini juga biasanya picik pikirannya.

Di tengah kondisi politisasi kekuasaan dan penuh intrik, Indonesia perlu dipimpin oleh orang yang mampu melakukan perubahan radikal. Perubahan ini tidak diatasi dengan lompatan- lompatan populis jangka pendek. Karena, kebijakan populis hanya akan mewariskan pil beracun yang mematikan pemimpinpemimpin selanjutnya.

Di tengah banyaknya kepala daerah yang melakukan langkah pendek dan pragmatis, Awang Faroek mencoba melakukan langkah yang berbeda. Ia mengambil langkah panjang yang hasilnya baru bisa dinikmati rakyatnya dalam jangka panjang. Namun, Awang sadar bahwa dengan visinya itu ia akan menemui banyak hambatan dan waktunya juga terbatas.

Awang memiliki visi yang jauh ke depan, yaitu Kaltim 2030 sebagai transformasi ekonomi pasca-migas dan batu bara. Visi ini merupakan kaca dari masalah serius yang bakal dihadapi Kaltim. Sebab, cadangan minyak bumi Kaltim hanya cukup 10 tahun ke depan. Gas bakal habis dalam 20 tahun dan batu bara untuk 40 tahun lagi. Untuk itu, Awang mengubah pembangunan ekonomi dari sumber daya alam menjadi sumber daya manusia.

Guna mewujudkan transformasi tadi, ia akan membangun delapan kawasan yang akan menjadi pusat ekonomi baru, yaitu kawasan industri Kariangan di Balikpapan, kawasan industri jasa dan perdagangan di Samarinda, kawasan industri gas dan kondensat di Bontang, kawasan industri wisata di Beru, kawasan industri pertanian dan pangan di Paser Utara dan Paser.

hasyim ashari
Wartawan KORAN SINDO