Edisi 04-01-2016
Menjaga Eksistensi Lapangan Merdeka


Lapangan Merdeka bukan sekadar taman bermain, tapi memiliki nilai sejarah yang kuat. Mungkin banyak yang tidak sadar dan tidak tahu, dari lapangan inilah Kota Medan mengumandangkan kemerdekaan.

Tapi belakangan, minat orang datang ke lapangan ini bukan karena sejarahnya, tapi lebih kepada keberadaan pusat jajanannya alias tongkrongan kekinian. Lapangan Merdeka, sebagai kawasan, merupakan peninggalan peradaban Eropa yang tersisa di Kota Medan.

Dulunya Lapangan Merdeka disebut sebagai Esplanade, yang berasal dari bahasa Belanda diartikan sebagai Lapangan Tengah Kota (alun-alun). Ciri khas lapangan yang disebut dengan Esplanade adalah lokasinya yang berada di jantung kota, sehingga posisinya mudah diakses dari segala penjuru kota.

Menurut Sejarawan dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Erond Damanik, bangsa Eropa dan Belanda khususnya, terbiasa membuat lapangan inti kota berdekatan dengan kantor wali kota, bank, kantor pos, jasa pelayaran, kantor telepon dan telegraf ataupun moda transportasi kota seperti kereta api. Pola pembangunan seperti ini pada awalnya dimaksudkan untuk mempermudah urusanurusan pemerintahan, keuangan, ekspedisi, perjalanan maupun perhubungan.

Kota-kota di Eropa seperti di Amsterdam, Berlin, Paris, dan lainnya merencanakan lapangan serupa. Inibukan saja berkaitan dengan estetika kota, tetapi juga untuk menghindari keriuhan diinti kota.“Jadi, lapangan terbuka mempermudah aksesibilitas pejabat-pejabat teras kota yang bertugas dan berkantor di sekitar lapangan,” ungkap Erond Damanik.

Semasa Belanda berkuasa di Indonesia, kebiasaan menata kota seperti di negaranya di Eropa terbawa ke Indonesia, tak ubahnya seperti di Medan. Karena itu, hampir seluruh kotakota besar yang dikuasai pemerintah kolonial memiliki lapangan terbuka yang persis berada di inti kota, termasuk Pematangsiantar, Binjai, Sibolga, dan lainnya.

Dari dokumen yang diperoleh KORAN SINDO MEDAN , Esplanade (Lapangan Merdeka) Kota Medan direncanakan pembangunannya sejak 1872. Perencanaan pembangunan lapangan ini sejalan dengan kepindahan pusat administrasi bisnis 13 perusahaan perkebunan dari Labuhan Deli ke Medan. Demikian pula kepindahan tersebut diikuti Pemerintahan Kesultanan Deli.

“Kedua peristiwa penting ini menandai perkembangan pesat Kampung Medan, dari sebuah kampung kecil di muara sungai Deli dan Babura, menjadi kota metropolitan seperti sekarang ini. Selanjutnya, kemajuan pesat kampung Medan didukung penetapan Medan sebagai ibu kota Keresidenan Sumatera Timur (1887) dan Medan menjadi Gemeente (kotapraja) pada 1 April 1909,” ujar Erond.

Sejak dulu sampai sekarang, lapangan ini dikelilingi beragam bangunan pemerintah dan swasta. Tak ayal, bangunanbangunan bergaya art deco dan sebagian empire style dan bahkan rennaisance tersebut, masih bisa terlihat menambah estetika bangunan di jantung kota. Beberapa kegiatan penting pernah diadakan di Esplanade Kota Medan pada era kolonial Belanda.

Di antaranya upacara penyambutan pilot pesawat yang mendarat pertama kali di Medan pada 22 November 1924 di arena Pacuan Kuda sekitar Pusat Pasar Medan (Medan Central Market) pada era Daniel Mackay, Wali Kota Medan yang pertama. Pada 1942, nama Esplanade berubah menjadi Fukuraido pada era pendudukan Jepang di Medan. Kedua nama itu mengandung makna dan arti yang sama, yakni Lapangan Tengah Kota.

Di era pendudukan Jepang, fungsi lapangan ini tidak jauh berbeda, yakni hanya untuk upacara-upacara resmi pemerintahan Jepang selama berkuasa di Medan. Sejalan dengan takluknya Jepang pada 15 Agustus 1945, maka pemimpin bangsa di Medan bergerak untuk menyuarakan berita kemerdekaan (proklamasi). Pada 6 Oktober 1945, dilangsungkan rapat raksasa di Lapangan Fukuraido Medan.

Rapat raksasa yang dibarengi pawai besar masyarakat Kota Medan yang menantikan proklamasi itu, dimaksudkan untuk pengibaran Bendera Merah Putih sekaligus pembacaan teks proklamasi. Sejak 6 Oktober 1945, maka resmilah berita proklamasi di Sumatera Timur diumumkan, yang terlambat delapan pekan dari Jakarta. Penyambutan proklamasi tersebut dilakukan selama tiga hari.

Pembacaan proklamasi di Lapangan Esplanade (bahasa Belanda), Fukuraido (bahasa Jepang) menjadi momentum untuk mengubah nama lapangan itu menjadi Lapangan Merdeka Medan. “ Sejak 9 Oktober 1945, peralihan nama menjadi Lapangan Merdeka dilakukan dan disahkan Wali Kota Medan, Luat Siregar. Fenomena seperti ini juga terjadi di daerah-daerah lain, yang mengubah alun-alun inti kota dengan nama Lapangan Merdeka,” ujar Erond.

Menurut Erond, menjaga eksistensi Lapangan Merdeka seutuhnya menjadi penting bagi wajah Kota Medan ke depannya. Pasalnya, memperhatikan kondisi Lapangan Merdeka Medan dewasa ini, dapat dikatakan lapangan tersebut telah kehilangan spiritnya. Lebih kurang sepanjang 20 meter sisi lapangan sebelah barat dengan luas 6.600 meter persegi difungsikan menjadi pusat jajanan makanan (food court) yang disebut Merdeka Walk.

Demikian pula dengan ukuran yang sama seluas 6.600 meter persegi di sebelah timur difungsikan menjadi lapangan parkir kereta api ataupun pertokoan yang belum jelas peruntukannya. Sementara seluas 3.300 meter sebelah selatan, dialihkan menjadi kantor polisi dan lapangan parkir motor bagi pengunjung pusat jajanan.

Alhasil, Esplanade pada era kolonial atau Lapangan Merdeka saat ini hanya menyisakan ukuran yang relatif kecil dari ukuran semula. “Lapangan Merdeka Medan awalnya merupakan simbol peradaban Kota Medan sebagai plantations city sekaligus embrio Medan Metropolitan Urban nyaris kehilangan bentuknya yang semula,” ucap Erond.

Jati diri lapangan ini tergerus kepentingan ekonomi sesaat dengan mengorbankan basis historis pertumbuhan kota. Ini berarti, kita pun sedang menantikan tergerusnya simbolsimbol peradaban Kota Medan lainnya sebagai kota berbasis perkebunan. Seharusnya, Kota Medan juga memiliki ikon berupa monumen perkebunan, mengingat basis historis pertumbuhan dan perkembangan pesat Kampung Medan menjadi Kota Medan ialah faktor perkebunan.

Paling tidak Kota Medan, di samping 30% masih menyisakan bangunan bersejarah periode perkebunan, seharusnya juga memiliki monumen untuk mencirikan embrio dan kelahiran sebuah kota, atau kekhususan sebuah kota yang menandai karakter dan peradaban kota.

fakhrur rozi/ irwan siregar

Berita Lainnya...