Edisi 09-01-2016
Tradisi Kuno Kembali Bangkit


Pemerintah India mencabut larangan Festival Jallikattu yang identik dengan kekerasan terhadap banteng di Negara Bagian Tamil Nadu. Larangan itu memicu protes dari sebagian kalangan yang menganggap festival tersebut terlalu sadis terhadap banteng.

Festival yang digelar setiap Januari itu ditujukan untuk menandai panen musim dingin di Tamil Nadu. Sejak 2015 festival tersebut dilarang pemerintah pusat karena banyak protes dari kalangan aktivis hewan. “Banteng mungkin akan dipertunjukkan atau dilatih dalam pertunjukan binatang dalam festival seperti Jallikattu di Tamil Nadu,” demikian keterangan Kementerian Lingkungan dan Kehutanan.

Menteri Lingkungan dan Kehutanan Prakash Javadekar mengeluarkan keputusan yang mengumumkan pencabutan larangan tersebut. “Festival itu seharusnya bisa dilaksanakan di wilayah, di mana secara tradisional setiap tahun melaksanakannya,” kata Javadekar, dikutip The Times of India .

Dia mengatakan, banteng yang diikutkan dalam festival itu seharusnya diatur dalam jalur yang layak dan tidak melebihi 2 kilometer. Keputusan itu disambut meraih di Tamil Nadu dan para pejabat pemerintahan negara bagian. Menteri Transportasi Jalan, Jalur Tol, dan Perkapalan Pon Radhakrishman, mengucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri Narendra Modi dan Javadekar atas keputusan pencabutan tersebut.

Keputusan pemerintah pusat India untuk mencabut larangan tersebut karena mendapatkan tekanan dari politisi lokal, termasuk Menteri Besar Tamil Nadu Jayalalithaa Jayaram. Media lokal melaporkan pelarangan itu juga terkait pemilihan umum lokal yang akan dilaksanakan beberapa bulan mendatang.

Festival Jallikattu atau yang berarti “menjinakkan banteng” dikenal sebagai kompetisi anak muda untuk menundukkan banteng. Berbeda dengan tradisi Spanyol yang bertarung dengan banteng, Jallikattu tidak membunuh binatang tersebut, hanya menjinakkan. Kendati demikian, selama bertahuntahun puluhan orang tewas dan ratusan lainnya terluka dalam Festival Jallikattu.

Dalam Festival Jallikattu, pemenangnya adalah siapa yang bisa memegang banteng yang berlari selama 15-20 meter atau ketika banteng itu melompat sebanyak tiga kali. Jallikattu telah menjadi tradisi yang berlangsung selama lebih dari 2.000 tahun di India. Itu juga sebagai salah olahraga tertua yang masih dipraktikkan pada era modern.

Namun, banyak kalangan aktivis protes festival tersebut karena banteng yang dilepas ke festival kerap diolesi bubuk cabai dan anggur merah. Selain itu, banyak orang memandang tanduk banteng kerap dilukai dengan pecahan gelas. “Menjinakkan” bagi pelaku festival tersebut kerap diidentikkan dengan luka dan kematian menyakitkan yang dirasakan banteng.

Poorva Joshipura, pemimpin eksekutif People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) di India, mengatakan kelompoknya menentang langkah pencabutan larangan festival tersebut. “Kita sangat khawatir dan marah dengan pencabutan larangan Jallikattu,” katanya kepada AFP.

Dia juga mempertanyakan kenapa pemerintah justru tidak memperbolehkan pertarungan melawan sapi dengan alasan keagamaan. Joshipura mengatakan banteng kerap disorientasi karena terpengaruh alkohol, dipukul, dan ditusuk dengan pisau dan pecahan gelas. “Festival Jallikattu itu bukan olahraga,” protesnya.

Sebenarnya pemerintah pusat resmi melarang festival Jallikattu pada 2011. Namun, larangan itu tidak diimplementasikan hingga 2015 setelah Mahkamah Agung membatalkan gugatan hukum terhadap larangan tersebut.

ARVIN




Berita Lainnya...