Edisi 09-01-2016
Wabah DBD Kembali Mengancam


SUBANG– Wabah demam berdarah dengue (DBD) kembali mengancam sejumlah wilayah Indonesia seiring dimulainya musim hujan. Di Kabupaten Subang, Jawa Barat, penderita DBD mencapai 150 kasus selama Januari ini.

”Tiap hari, pasien DBD yang masukruanganIGD( InstalasiGawat Darurat) tak kurang dari 25 orang. Jadi, dalam sepekan terakhir, telah mencapai 150 kasus lebih,” ujar Wakil Direktur RSUD Subang Bidang Pelayanan Medis Dwinan Marchiawaty kemarin. Menurut Dwinan, kemarin saja pasien DBD yang dirawat inap sebanyak 28 orang. Delapan di antaranya pasien anakanak berusia 6-15 tahun.

Banyaknya penderita yang dirawat menyebabkan ruangan IGD membludak. Alhasil, sejumlah pasien terpaksa dirawat di luar ruangan dan di loronglorong IGD. Mereka yang dirawat di dalam ruangan IGD pun banyak yang tidak kebagian tempat tidur (ranjang), sehingga ditempatkan di kursi atau velbed . ”Banyak yang tak kebagian kamar dan tempat tidur. Ruangan penuh, sementara pasien yang datang terus bertambah setiap harinya dan sebaliknya pasien yang pulang sedikit. Rata-rata mereka dirawat 2-3 hari,” tuturnya.

Dwinan menyebut, pengidap DBD terus mengalami lonjakan. Bahkan, sebulan terakhir, yakni Desember 2015, pengidap DBD mencapai 330 orang lebih. Untuk mengantisipasi terus membludaknya jumlah pasien yang berdatangan ke RSUD, pihaknya meminta 40 puskesmas dan klinik di seluruh Subang untuk mengoptimalkan penanganan dan pelayanan pasien DBD di daerah masing-masing. ”Kami juga menyarankan agar warga yang terjangkit DBD sebaiknya dirawat di puskesmas dulu,”ucap Dwinan.

Kondisi sama terjadi di Indramayu, Jawa Barat. Kasus wabah DBD di daerah itu juga meningkat tajam. Kondisi ini mengakibatkan ruang perawatan di RSUD Indramayu dibanjiri pasien DBD. Hampir 100% penderita DBD merupakan balita dan anak-anak berusia satu hingga sepuluh tahun.

Dari 31 kecamatan di Kabupaten Indramayu, hanya satu kecamatan yang tidak ditemukan adanya kasus demam berdarah. Peningkatan jumlah demam berdarah ini terjadi sejak dua bulan terakhir, sehingga pihak rumah sakit kewalahan menampung puluhan pasien DBD yang terus berdatangan. ”Pasien kebanyakan demam berdarah, terus berdatangan, hampir semuanya masih balita dan anak-anak,” ungkap Ayu, kepala ruang perawat RSUD Indramayu, Kamis (7/1).

Kepala Dinas Kesehatan Indramayu Dedi Rohendi mencatat, dari Oktober 2015 hingga awal Januari 2016 ini, jumlah kasus demam berdarah mencapai 153 orang pasien dirawat dan 16 orang meninggal dunia. Selain itu, dia juga memprediksi angka tersebut akan mengalami peningkatan karena musim penghujandiIndramayumasihterjadi hingga Maret mendatang. ”Kemungkinan memang bertambah jumlahnya, karena musim penghujan diprediksi baru akan berhenti Maret mendatang,” ujar Dedi.

Sebagai upaya penanganan wabah penyakit demam berdarah, pihak Dinas Kesehatan Indramayu sudah melakukan fogging di berbagai kecamatan. Penanganan dan antisipasi seperti itu memang harus dilakukan. Sebab, di beberapa daerah lain, kasus DBD sudah memakan korban jiwa dalam sepekan ini.

Di Balikpapan, Kalimantan Timur, dua bocah di kota itu, Zidan, 11; dan Elsa, 8, meninggal dunia karena virus yang dibawa nyamuk aedes aegypti tersebut. ”Zidan meninggal pada 1 Januari 2016, sedangkan Elsa pada 31 Desember 2015 selang beberapa jam saja,” kata Kepala Puskesmas Kelurahan Telaga Sari, Tien Fatimatuzzahra.

usep husaeni/ okezone/ant



Berita Lainnya...