Edisi 09-01-2016
Kerja Sama PDAM dengan Bahrain Mandek


TANGERANG – Proyek pengembangan air bersih yang dilakukan PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang bekerja sama dengan PT Moya, perusahaan asal Bahrain, mandek.

Berbagai kendala menyebabkan proyek pengembangan tak berjalan sebagaimana mestinya. Kerja sama PDAM dengan perusahaan tersebut dimulai sejak 18 Februari 2012. Proyek kemitraan berupa peningkatan kapasitas produksi melalui pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru dengan kapasitas 3x500 liter per detik dan rehabilitasi IPA lama 420 liter per detik dengan nilai investasi Rp1,06 triliun.

Dengan kerja sama itu, PDAM diharapkan bisa mempercepat pelayanan air minum masyarakat Kota Tangerang di tiga zona wilayah yaitu Zona 1 (Cipondoh, Neglasari, Benda, dan Batu Ceper), Zona 2 (Karawaci, Cibodas, Jatiuwung, Priuk), dan Zona 3 (Karang Tengah, Pinang, Larangan, Ciledug).

Namun, dalam perkembangannya kerja sama itu malah menjadi temuan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) karena dianggap merugikan PDAM. Anggota Dewan Pengawas PDAM Kota Tangerang Dodi Effendi mengatakan, salah satu penyebab mandeknya proyek pengembangan tersebut adalah masalah tarif. Pada awal perjanjian PT Moya meminta tarif air Rp3.750 per kubik air bersih yang harus dibayar PDAM untuk disalurkan kepada masyarakat.

Besar tarif tersebut menjadi temuan BPKP karena dinilai berpotensi merugikan PDAM. ”Atas temuan itu, BPKP mengeluarkan rekomendasi agar PDAM mengkaji ulang kerja sama dengan PT Moya yakni mengubah tarif agar lebih rendah dari Rp3.750 per kubik dan memfokuskan pengembangan di Zona 1 saja. Intinya agar tidak merugi,” katanya kemarin.

Dodi menambahkan, temuan tersebut mengakibatkan terhentinya pengerjaan proyek untuk sementara waktu. Dewan Pengawas terus mendorong PDAM melakukan kerja sama ulang dengan PT Moya. Namun, hingga kini belum ada kejelasan. Dia menilai satu tahun kinerja Direktur PDAM TB Suyanto belum ada hasil.

”Dia (Suyanto) kan dipilih untuk memperbaiki kinerja PDAM serta menindaklanjuti kerja sama dengan PT Moya. Tapi, belum terlihat kemajuan seperti apa yang diharapkan dewan pengawas. Kita berharap persoalan tersebut segera diselesaikan agar proyek pengembangan kembali berjalan karena banyak masyarakat menunggu disalurkan air bersih,” ungkapnya.

Kepala Bagian Hubungan Langganan PDAM TB Edi Kurniadi menjelaskan, kendala lain kerja sama pengembangan air bersih dengan PT Moya adalah penghapusan UU No 7/ 2004 tentang Sumber Daya Air oleh Mahkamah Konstitusi (MK). ”Karena undang-undang dihapus, kerja sama penyediaan air bersih dengan perusahaan swasta dan asing harus dikaji ulang. Mereka (PT Moya) pasti juga tidak mau terlibat masalah hukum,” ucapnya.

Menurut Edi, sejak awal kerja sama PT Moya telah membangun satu IPA berkapasitas 500 liter per detik di atas tanah seluas 1 hektare di Zona 1. Tempat pengolahan juga sudah selesai dibangun, namun jaringan pipa baru dibangun untuk ke Bandara Internasional Soekarno- Hatta.

”Pengembangan Zona 1 ini nanti untuk melayani 25.800 sambungan langganan. Untuk melanjutkan pengerjaannya, kita masih menunggu kesepakatan reviu kerja sama dengan PT Moya,” terangnya.

denny irawan

Berita Lainnya...