Edisi 21-01-2016
Kontranarasi Kelompok Ekstremis


Setelah diblokir Kemenkominfo, blog milik Bahrun Naim, terduga pemimpin aksi teror di Jalan MH Thamrin, muncul kembali di dunia maya dengan domain baru dan dapat diakses publik.

Dalam update terbarunya tertanggal 18 Januari 2016, terdapat dua tulisan. Satu tulisan Naim bertajuk ”Nasihat untuk Penonton” merupakan respons pertamanya atas serangan kepada target yang ia sebut sebagai ”thagut Indonesia”, yaitu Polri.

Tulisan berikutnya, masih di tanggal yang sama, bertajuk ”4 Strategi Gerilya Kota”, merupakan seruannya kepada kaum ”muslimin muwahhidin ”—satu nama lain yang sering diidentikkan dengan kelompok berideologi Wahabi—untuk melakukan 4 taktik menyerang ”anshar thagut ” (pelindung thagut ): membunuh, menangkap, mengepung, dan mengintai.

Dua tulisan yang mengandung pesan ekstrem karena penuh warna dan ajakan melakukan kekerasan tersebut menyeruakkan rentannya dunia maya yang dapat disalahgunakan oleh kelompok ekstremis. Lebih jauh, dengan semakin banyaknya pesan berbau ajakan pada ekstremisme dan radikalisme ini, muncul perhatian kita tentang perlunya kesadaran masyarakat agar berhati-hati dalam mencerna narasi berbahaya mereka.

ISIS dan Dunia Maya

Jika ada sebuah inovasi yang pernah dilakukan kelompok radikal pascaserangan 11 September 2001 di World Trade Center (WTC), New York, itu adalah pemanfaatan dunia maya sebagai alat menyebarkan ideologi mereka, termasuk sarana perekrutan dan radikalisasi. Sifat dunia maya yang bersifat murah, berjangkauan luas, tanpa batas dan interaktif seakan menjadi nilai tambah bagi kelompok ekstrem untuk memperoleh anggota—atau setidaknya— simpatisan baru.

Kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) misalnya memang sudah terbukti dapat memanfaatkan sarana media baru ini dengan efektif. Data dari Brooking Institute yang dirilis 2015 lalu mengungkapkan fakta-faktanya. Dalam empat bulan (September-Desember 2014), terdapat 46.000 akun media sosial Twitter yang terafiliasi ke ISIS. Dari total angka tersebut, arus deras tweets muncul dari sekitar 500-2.000 akun.

Data tersebut juga mengungkap bahwa setiap akun terafiliasi ISIS tersebut setidaknya memiliki 1.000 pengikut (follower ). Tak hanya lewat media sosial, ISIS juga memanfaatkan beragam situs (website ) untuk menyebarkan ideologinya.

Fox News pada 12 Januari 2016, mengutip mantan Direktur badan intelijen AS (CIA) Michael Morell, melaporkan bahwa perkembangan situs-situs terafiliasi ISIS jauh melebihi situssitus pada era Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Walaupun tidak mengungkap angka pasti, Morell menyebut bahwa situs-situs ISIS tersebut dapat menjangkau setidaknya 20 negara dalam periode satu tahun ini saja.

Cognitive Opening

Terorisme dapat muncul jika terdapat tiga hal ini: terdapat sosok yang teralienasi (alienated individual ), legitimasi ideologi (legitimized ideology), dan lingkungan yang memungkinkannya menjadi radikal (enabling environment ). Dalam konteks ini, media baru dikatakan paling bertanggung jawab pada aspek penyebaran pesan-pesan yang dapat menjadi legitimasi ideologi mereka.

Menelaah lebih jeli pesanpesan kelompok ekstremis yang tersebar melalui dunia maya, termasuk blog yang ditulis Naim, selalu ada sebuah narasi penggugah emosi yang menurut istilah Eroll Southers (2013) sebagai cognitive opening atau pembuka nalar. Cognitive opening ini merupakan sebuah episode peristiwa atau pengalaman yang melecut keluhan/ penderitaan (grievances ) personal sehingga seseorang jadi lebih rentan tertular untuk menerima ideologi ekstrem.

Bentuk keluhan/penderitaan ini misalnya pertentangan identitas, ketidakadilan, situasi tertindas dan termarginalkan atau lainnya. Karena itu, tidaklah mengherankan bila Naim dalam pesan ajakan melakukan kekerasannya berangkat tidak hanya dari menyitir (dengan interpretasi yang keliru tentunya) ayat suci Alquran sebagai ”narasi teologis”, tetapi ia juga mencoba memaparkan ”narasi politik” yang klasik bahwa umat Islam sedang dalam episode grievances seperti di Palestina, Irak, Suriah, Somalia, Pattani, dan Moro (Filipina).

Ia juga tak segan berargumen dengan memainkan ”narasi historis” bahwa pemerintah ”sekuler” Republik Indonesia (termasuk aparat TNI/Polri) sebagai pihak musuh yang dari dulu selalu berusaha menghalangi ”perjuangan sakral” kaum mereka membentuk daulah Islamiah dan terus menangkapi dan ”membunuh” rekan-rekan mereka. Terakhir, Naim lalu mengelaborasi sebuah ”narasi instrumental”, yaitu menawarkan betapa ”efektifnya” metode kekerasan untuk mencapai tujuan mereka, lewat ”4 Strategi Gerilya Kota ”.

Literasi Digital

Perkembangan teknologi dunia maya di Indonesia saat ini tengah berkembang pesat. Dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJI) pada 2015, jumlah pengguna internet di Tanah Air mencapai angka 88,1 juta. Dari angka tersebut, menariknya, 49%-nya berusia 18-25 tahun dan 33,8% lagi merupakan usia 26-35 tahun.

Lebih lanjut dua aktivitas yang paling banyak dilakukan pengguna internet di Indonesia adalah untuk bermedia sosial (87,4%) dan berselancar (68,7%). Kondisi demografi ini ditambah aspek latar belakang religius-historis menjadikan pengguna internet Indonesia menjadi sasaran strategis kelompok radikal dalam menjaring simpatisan yang dapat berakhir sebagai teroris homegrown .

Oleh karena itu, upayaupaya countering violent extremism (CVE ) juga perlu menyasar pada palung dunia maya. Apalagi upaya pemblokiran sudah terbukti tidak efektif. Strategi kampanye dalam jaringan harus disusun dengan matang dengan pelibatan beragam peran konstruksi pesan yang pas dan medium yang tepat.

Dalam beberapa model bestpractices terkait dengan upaya CVE via internet, strategi kontranarasi dapat dilakukan dengan menerapkan tiga hal berikut: pesan, penyampai pesan, dan strategi media daring. Mengenai pesan, perlu sebuah kajian detail mengenali narasi-narasi mereka sebelum membentuk kontranarasi untuk mematahkan segala klaim dan pernyataan mereka.

Sementara dalam perspektif penyampai pesan diperlukan aktivasi peran aktor-aktor atau meminjam istilah Gidden (2011) ”strukturagen” yang jelas. Melembaganya secara kultural historis nilai- nilai Islam Nusantara sebagai praktik sosial dalam elemenelemen masyarakat, misalnya, menjadi sebuah struktur nilai dan ideologi kuat hingga dapat memandu para agen berpengaruh/ influencer (pemuda, santri, ulama) menjadi ”satu suara” menentang ideologi ekstrem.

Terakhir, mengenai strategi media baru, tidak semua agen (tokoh agama dan institusi masyarakat keagamaan, santri, dan masyarakat secara umum) memiliki waktu dan kapasitas dalam hal new media outreach (termasuk media sosial). Program peningkatan strategi komprehensif atas leadership and new (social) media capacity perlu digagas.

Lebih dari itu, pemberdayaan dan pembekalan para agen berpengaruh lewat riset dan informasi serta pembangunan jaringan media sosial oleh para pegiat kampanye CVE akan menjadi jaminan lahirnya kontranarasi efektif yang makin menyempitkan ruang pengaruh kelompok ekstrem di dunia maya.

AMBANG PRIYONGGO, MA
Dosen Universitas Multimedia Nusantara; Anggota Tim Program Countering Violence Extremism (CVE) Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)


Berita Lainnya...