Edisi 31-01-2016
Jessica Akhirnya Ditahan


JAKARTA– Polda Metro Jaya akhirnya menahan Jessica Kumala Wongso, 27. Penahanan dilakukan setelah polisi merampungkan berita acara pemeriksaan (BAP) dirinya sebagai tersangka kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin dan gelar perkara bersama penyidik.

Atas kasus yang menyeretnya tersebut, Jessica terancam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman maksimal hukuman mati. Pengumuman penahanan Jessica disampaikan Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti di Gedung Dirkrimum Mapolda Metro Jaya, Jakarta, tadi malam.

”Malam ini terhadap Saudarai J (Jessica) tersangka kasus tewasnya Saudari Mirna yang saya tanda tangani selaku direktur akan dilakukan penahanan mulai malam ini pukul 23.00 WIB,” ujar Krishna Murti kepada wartawan tadi malam. Sekitar 10 menit setelah pengumuman penahanan, Jessica langsung digelandang ke ruang tahanan, Direktorat Perawatan Tahanan dan Barang Bukti Polda Metro, yang hanya berjarak sekitar 8 meter dari ruang pemeriksaan.

Pemindahan Jessica ke ruang tahanan dikawal puluhan anggota Dirkrimum yang kompak mengenakan kaos Turn Back Crime. Jessica sendiri saat itu masih mengenakan pakaian yang dia kenakan saat ditangkap di sebuah hotel di kawasan Mangga Dua, Jakarta, kemarin pagi, yakni kaus warna hitam dengan celana jeans warna biru. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini dia terlihat sangat kusut.

Dia juga tidak lagi mengumbar senyum seperti dalam berbagai momen sebelumnya. Rencananya Jessica akan menjalani penahanan selama 20 hari. ”Kami memiliki alasan subjektif kekhawatiran akan melarikan diri dan menghilangkan alat bukti. Alasan objektif untuk mengusut pasal gelar perkara yang mencukupi,” ujar Krishna Murti.

Dia memaparkan, penahanan dilakukan karena Jessica memberikan keterangan yang berbeda dengan bukti-bukti yang dimiliki penyidik. Adapun alasan objektif penahanan adalah untuk mengusut pasal gelar perkara yang mencukupi atas Jessica tentang pembunuhan berencana. Sebelumnya, Polda Metro Jaya menangkap Jessica, kemarin pagi.

Tindakan tersebut diambil setelah polisi menetapkannya sebagai tersangka kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin pada Jumat malam, pukul 23.15 WIB. Khrisna Murti menjelaskan, Jessica resmi ditetapkan sebagai tersangka setelah dilakukan gelar perkara pada Jumat (29/1) sore.

Dalam gelar perkara yang dihadiri penyidik, propam, bidkum, irwasda, dan para ahli itu pihaknya meyakini alat bukti yang dimiliki cukup untuk menetapkan Jessica sebagai tersangka. Siang hari sebelumnya, Polda melakukan koordinasi dengan Kejati DKI Jakarta dengan membawa bukti baru.

Ada alat bukti. Selain laporan polisi, ada juga bukti permulaan cukup. Bahkan dalam ekspose kami ada empat (alat bukti),” ujar Krishna Murti, kemarin. Meski sudah menetapkan Jessica sebagai tersangka, polisi hingga tadi malam belum mengetahui apa motif dia membunuh teman satu kampusnya (Billy Blue College, Sydney, Australia) tersebut.

Sempat beredar ada motif asmara sesama jenis di balik kasus ini, tetapi Jessica seusai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya pada 20 Januari membantah kabar tersebut. Polisi masih mendalami motif pembunuhan tersebut. Kuasa hukum Jessica, Andi Joesoef, menegaskan akan mengajukan penangguhan penahanan dengan alasan penangkapan itu tidak sesuai prosedur. ”Kami kecewa karena penetapan tersangka baru tadi malam, bahkan kami tidak diberi tahu. Seharusnya ada pemberitahuan terlebih dahulu sebelum ditangkap,” katanya.

Ditangkap di Hotel

Berdasarkan keterangan kepolisian, begitu menetapkan Jessica sebagai tersangka, sekitar pukul 00.00 tim yang terdiri atas 10 personel, di antaranya dua polwan, langsung meluncur ke kediaman Jessica di Kawasan Sunter, Jakarta Utara. Namun hingga pukul 05.00 WIB tim tidak menjumpai Jessica dan orang tuanya. Tim kemudian mendapat informasi Jessica berada di sebuah hotel di Jakarta Utara.

Pukul 07.00 WIB, tim menemukan lokasi hotel Jessica di kawasan Mangga Dua. Saat tim akan melakukan penangkapan, orang tua Jessica sempat meminta petugas menunjukkan surat penahanan. Sekitar pukul 07.45 WIB, tim membawa Jessica ke Polda untuk pemeriksaan dengan didampingi orang tuanya.

Penetapan Jessica yang langsung disertai dengan penangkapan dan penahanan merupakan klimaks dari rumitnya penyelidikan kasus pembunuhan Mirna yang menggegerkan ini. Seperti diketahui, Mirna meninggal dunia seusai meminum es kopi vietnam di Restoran Olivia, West Mall Grand Indonesia Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (6/1).

Kopi yang belakangan diketahui bercampur dengan racun sianida tersebut dipesankan Jessica yang memang datang sekitar satu jam sebelumnya. Jessica memesan minuman cocktail dan fashioned sazerac untuk Hani, sedangkan Mirna dipesankan es kopi vietnam. Begitu menyeruput minuman tersebut, Mirna langsung kejang- kejang dan kemudian meninggal saat mendapatkan perawatan di RS Abdi Waluyo, Menteng.

Polisi sebenarnya sudah mengeluarkan surat perintah dimulainya penyidikan (SPDP) Selasa lalu (26/1). Kendati demikian polisi ternyata tidak menetapkan siapa tersangka pembunuhan sadis tersebut. Krishna Murti menegaskan bahwa pihaknya sudah memiliki empat alat bukti, tapi masih ada sedikit kekurangan. Karena itu pihaknya berkonsultasi dulu dengan Kejati untuk melengkapi kekurangan dimaksud.

Ada yang Ditutupi

Pakar hipnoterapi Dewi P Faeni meyakini Jessica telah menunjukkan banyak tanda bahwa dia sebagai pelaku pembunuhan. Pernyataan yang berubah-ubah ditambah gerak dari organ tubuhnya yang mencurigakan menunjukkan ada yang ditutupi Jessica. ”Konsistensi itu penting, bahasa tubuh adalah entry point.

Jadi secara saintifik banyak barometer, tes yang mendukung antara konsistensi suatu statemen dan gerak tubuh, ini bisa saling dukung,” kata Dewi. Psikiater Syailendra melihat sosok Jessica memiliki pembawaan yang tenang, bahkan ketika dia harus berhadapan dengan publik.

Menurut dia, ketenangan yang diperagakan Jessica bisa dilihat dari dua sisi, apakah yang bersangkutan memang tidak melakukan pembunuhan itu atau karena sudah terbiasa melakukan itu. ”Sehingga biasa dan itu bisa jadi masalah bagi yang berwenang (polisi),” tutur Syailendra.

Helmi syarief/ dian ramdhani