Edisi 31-01-2016
Pikiran, Kunci Kebahagiaan


”Anda adalah apa yang Anda pikirkan”. Kita tahu, ungkapan tersebut terkesan sederhana, namun bermakna mendalam. Ia mengisyaratkan betapa pikiran begitu penting dan sangat memengaruhi kehidupan kita.

Nyaris segala perasaan yang kita rasakan, semua bergantung pada bagaimana kita mengelola pikiran. Buku berjudul Kekuatan Pikiran ini mengajak kita menyadari betapaberharganyapikirandan betapa pentingnya se-tiap orang untuk bisa mengendalikan pikiran agar membawa kebahagiaan dalam kehidupan.

Di awal, kita disadarkan akan begitu urgennya pikiran dalam hidup kita. Rata-rata orang berpikir 60.000-80.000 kali sehari. Ini menunjukkan betapa setiap keputusan dan tindakan kita selalu berawal dari pikiran di kepala. Apa yang kita pikirkan, simpulkan, dan putuskan, pada akhirnya terejawantah dalam setiap laku atau tindakan.

Jadi, pikiran kita sejatinya amat menentukan; apakah akan mendorong tindakan-tindakan yang mengarahkan pada kesuksesan, atau sebaliknya, membelenggu dan membawa kita terperosok dalam jurang penderitaan. Kita sering tak sadar bahwa pikiran kita sendirilah yang memicu beragam perasaan; sedih, marah, cemas, dan sebagainya.

Alih-alih kita cenderung menyalahkan orang lain ketika mengalami perasaan- perasaan tersebut, seolah- olah semua masalah datang dari luar diri kita. Di buku ini dikatakan, meskipun perasaan tersebut merupakan bagian yang tak bisa lepas dari keseharian kita, sebenarnya pikiran kitalah yang lebih menentukan.

Cara kita mengatasi masalah sehari-hari, benarbenar terjadi berdasarkan cara berpikir kita tentang situasi itu sendiri. Kita dapat menggunakan” kekuatan pikiran” untuk mengubah cara berpikir, yang pada gilirannya mengubah cara kita merasakan suatu keadaan. Kebiasaan berpikir negatif perlu diubah.

Dalam buku ini dicontohkan beberapa pikiran pesimistis seperti; Rasanya akan hujan hari Sabtu nanti saat kita mengadakan pesta, atau Saya yakin keretanya akan terlambat lagi, atauSaya tak pernah memahami sistem akunting ini. Kita harus mulai mengubah cara berpikir dan ”menyusun ulang” kerangka pikiran dari contoh-contoh tersebut.

Jika kita berpikir positif, contoh-contoh pikiran buruk tersebut diubah menjadi; Saya harap cuacanya cerah saat kita berpesta. Tetapi kalau hujan ya, biarin aja. Kita tetap dapat bergembira, dan, Mari berharap keretanya tepat waktu kali ini, dan Sistem akunting baru ini memang membuat saya frustrasi, tapi saya akan memecahkannya. Saya hanyabutuhwaktuduahari untuk memahaminya (hal. 11-12).

Kita lihat, cukup dengan mengubah ”dialog” dalam diri kita, dampaknya akan sangat besar terhadap perasaan dan fisiologi kita. Jika diperhatikan, tak ada perubahan signifikan dari kalimat tersebut di atas; pesta masih akan dilaksanakan, kereta akan datang, masalah program akunting.

Yang berubah adalah ”keyakinan” tentang keadaan yang berhubungan dengan kejadian. Dengan berkata demikian, berarti kita telah menekan ”saklar” untuk mengubah hal yang pesimistis menjadi lebih positif dan optimistis. Ini yang dinamakan perubahan sikap dengan berpikir positif.

Buku ini juga menyadarkan kita bahwa proses berpikir bukan hal yang terjadi dengan sendirinya dalam diri kita, tapi proses yang kita lakukan dengan sadar dan bisa kita kendalikan. Jika kita memikirkan sesuatu yang membuat depresi, takut, marah, menyesal, atau sedih, maka sebenarnya kita sedang menyakiti diri sendiri.

Di titik ini, dapat disimpulkan; jika kita adalah pencipta pikiran kita sendiri, berarti kemampuan untuk menolak pikiran-pikiran yang negatif juga ada di tangan kita (hal. 27). Kuncinya adalah, kita harus selalu mengawasi pikiran kita, bukan justru terperangkap dalam pikiran yang mengarah pada perasaan negatif. Bagaimana cara mengawasi dan mengendalikan pikiran?

Disadari atau tidak, saat kita sadar sebuah pikiran muncul di kepala, kita dapat mengendalikan dan melakukan sesuatu terhadap pikiran tersebut. Misalnya, ketika kita berkeinginan menjadi seorang pengusaha sukses, namun tiba- tiba muncul rasa ragu karena merasa tak punya pengalaman sama sekali dan bayangan menakutkan akan kegagalan.

Nah , saat perasaan itu muncul, kita harus segera menghentikan pikiran negatif tersebut dan mengendalikannya agar tetap dalam koridor positif dan optimistis. Mengapa? Karena berpikir negatif adalah keahlian manusia.

Harus disadari, kita cenderung mudah merasakan pikiran yang membawa kesedihan dan rasa pesimistis daripada pikiran yang membangkitkan semangat. Kecemasan, kekhawatiran, depresi, kemarahan, rasa bersalah-semua merupakan kecenderungan pikiran.

Al Mahfud
Lulusan STAIN Kudus,
bermukim di Pati,
Jawa Tengah.
Ia menulis artikel dan esai .