Edisi 31-01-2016
Percakapan Riwayat Manusia


Karya seni selain sebagai wadah mengekspresikan gagasan seniman, salah satunya juga bisa dijadikan wadah diskusi. Diskusi untuk memperbincangkan kembali riwayat hidup dan peradaban manusia.

Seperti pameran yang digelar dua seniman lintasbudaya Entang Wiharso dan Sally Smart, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran yang bertajuk Conversation: Endless Acts in Human History banyak menyajikan percakapan kasatmata riwayat manusia. Karya seni paduan seniman asal Indonesia dan Australia ini sejatinya memiliki minat yang sejalan dengan gagasan dan ide yang berbeda.

Entang Wiharso menilai, karya-karyanya lebih merepresentasikan sejarah sepanjang zaman melalui patung dan lukisan. Entang juga lebih melihat persoalan masyarakat dari dalam dan luar. Kondisi kekacauan dalam pandangan Entang adalah cerminan struktur arsitektural masyarakat. ”Saya mencoba melihat persoalan manusia dari dalam dan luarnya,” katanya. Karya-karya Entang nampak keras, namun tak eksplisit.

Karyanya tetap dibalut ambiguitas kode dan tanda yang multitafsir. Hal itu diungkapkannya lewat salah satu karya instalasinya berjudul Chronic Satanic Privacy . Karya instalasi ini menggambarkan lima sosok manusia dengan lidah menjulur keluar di sela-sela jeruji besi. Kelimanya bertelanjang tubuh dan diberi motif macan tutul dengan warna hitam putih.

Menurut Entang, motif tersebut merupakan ekspresi naluri kebinatangan. Ekspresi kebinatangan baginya adalah sebuah prilaku agresif manusia yang kerap kali obsesif terhadap sesuatu. Hal itu ia sesuai dengan pengamatannya terhadap prilaku manusia yang cenderung agresif dan terdorong oleh kekuasaan yang obsesif.

Selain itu, karya ini diklaimnya telah menemukan aktualisasi tersendiri meski telah dibuat sejak lima tahun yang lalu. ”Saya melihat karya ini (Chronic Satanic Privacy ) masih relevan dengan kondisi saat ini, meski ini dibuat sejak lima tahun lalu,” katanya. Karya Entang lainnya bisa dikatakan multitafsir.

Misalnya, karya instalasi berjudul Reclism Paradise:Paradise Lost No 2 . Dalam instalasi tersebut Entang berkisah akan situasi tragis yang dialami sebuah keluarga. Kondisi tragis yang dimaksud Entang dalam sebuah keluarga itu adalah sebuah kondisi di mana keluarga tersebut bertahan dalam penggusuran tanah demi harga diri. Ia menilai, isu kepemilikan tanah sampai kapan pun akan terus ada.

Isu ini menurutnya sensitif karena melibatkan harga diri, identitas, eksistensi, sejarah, hukum, politik, hingga kebutuhan hidup. Dalam kondisi apa pun, tanah akan kembali pada makna awal yakni sebagai tempat berpijak dan tinggal. Maka, tak heran jika isu ini akan terus diproduksi oleh manusia. ”Isu kepemilikan tanah sampai kapan pun akan tetap ada. Isu ini sensitif dan melibatkan banyak emosi,” katanya.

Adapun seniman asal Australia Sally Smart lebih banyak berbincang dengan sejarah masa lalu Australia yang didera konflik rasial, kolonial, dan lainnya. Dalam karyanya, ia mencoba memaafkan dan berdiskusi lebih dalam dengan persoalan terkini Australia. Ia berbicara tentang dirinya dan manusia secara umum.

Karya Sally diciptakan dan dikembangkan dari sumber bahan, foto, sastra, dan model untuk membangun gambar yang simbolik. Proses kreasi Sally mengubah bentuk dengan merusak, menggunting, dan mengonstruksinya dalam bentuk baru. Hal itu sangat terasa misalnya dalam karya instalasi Sally yang berjudul Exquisite Pirate .

Dalam instalasi tersebut terdapat dua lapisan elemen yang saling menumpuk dan menyesuaikan ruang dalam bentuk kapal perompak. Semua itu tersusun dari material yang digunting hingga membentuk sebuah kapal. Tak hanya kapal, Sally juga mendesain perompak yang berdiri tegak di samping kapal.

Di sisi ini, Sally secara eksplisit mencoba menegaskan tentang banyaknya perompak yang terselubung dalam kehidupan kita. ”Dalam hidup ini, terdapat banyak perompak terselubung dalam keseharian kita,” katanya. Perompak menurutnya bisa datang dari kalangan elite politik ataupun dari elemen lain.

Yang jelas, keberadaan perompak dalam kehidupan sehari- hari manusia selalu ada. Mulai dari era apa pun, kolonial ataupun era modern seperti sekarang ini. Sementara, kurator Suwarno Wisetrotomo menilai, karya kedua seniman lintasbudaya itu banyak bermuatan opini. Menurutnya, semua karya yang ada yang diciptakan Entang dan Sally dalam pameran ini berangkat dari permasalahan-permasalahan.

Baik permasalahan sosial, sejarah, hukum, hingga politik. Tak heran pameran ini sarat akan muatan opini. ”Karya-karya kedua seniman ini (Entang dan Sally) penuh muatan opini dengan dasar permasalahan manusia yang pernah ada,” katanya. Ia pun mendeskripsikan karya Entang sebagai penggaruk rasa gatal yang berangkat dari pengalaman dan pengamatan sang seniman tentang manusia.

Sedangkan, karya Sally dideskripsikannya seperti menambal luka dan masih meninggalkan bekasnya. Karya-karya Sally menurutnya menggunakan metode detoksifikasi. Yakni membuang racun-racun yang merayapi tubuh, jiwa, dan pikiran lewat proses dekonstruksi dan rekonstruksi.

Dengan nuansa itu, pameran ini penuh dengan percakapan perihal riwayat manusia. Pameran yang digelar Galeri Nasional Indonesia bekerja sama dengan Galeri Canna ini dikurasi Suwarno Wisetrotomo asal Indonesia dan Natalie King asal Australia. Pameran akan berlangsung hingga 1 Februari 2015.

Imas damayanti