Edisi 31-01-2016
Kesetaraan bagi Penyandang Disabilitas


Saat masih kecil Habibie kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif gara-gara penyakit yang disandangnya. Yang paling sering dialaminya adalah penolakan dari sejumlah sekolah reguler yang tidak menerimanya menjadi peserta didik di sana.

Bahkan saat duduk di bangku sekolah dasar (SD), Habibie kerap menerima perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya. Sampai akhirnya ia minta dipindahkan ke sekolah luar biasa (SLB) Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC). ”Waktu SD saya mendapatkan bullyan dari teman-teman, seperti misalnya kursi roda saya dimainkan dan didorong- dorong. Selain itu, saya juga mendapatkan olokan.

Ditambah lagi saat sekolah, saya pernah diejek telah menyuap guru karena saya selalu mendapatkan rangking pertama di kelas. Lama-lama saya tidak kuat dan meminta pada mama untuk memindahkan saya ke sekolah YPAC,” kisah Habibie. Di sana Habibie mulai bisa melihat tidak ada perbedaan antara penyandang disabilitas dengan yang bukan.

Bahkan, putra pasangan Nasori Sugianto danEndangSetyatiinimampu lulus dari SMA Yayasan Sunda Kelapa pada 2006, meskipun ditempatkan bersama siswa-siswa ”normal”. Kini dari penghasilannya sebagai internet marketer, Habibie bisa mendirikan Yayasan Habibie Afsyah yang bertujuan memberikan motivasi serta pengetahuan, terutama tentang dunia IT dan komputer kepada penyandang disabilitas.

”Saya ingin penyandang disabilitas dapat diterima oleh masyarakat. Tidak boleh ada lagi yang memandang kami dengan sebelah mata, sehingga saya termotivasi untuk mengajarkan teman-teman disabilitas mengenai IT ataupun komputer.

Selain berguna untuk menambah keterampilan, juga meningkatkan taraf ekonomi mereka,” katanya. Pada rentang waktu 2008-2010 Habibie menjalankan program rutin setiap minggu dengan mendatangi panti-panti disabilitas. Kegiatannya itu didanai oleh tabungan sendiri, ditambah patungan di antara anggota keluarganya.

Tahun 2011 Habibie mulai merasa, tidak hanya perlu memberdayakan penyandang disabilitas, tapi juga lingkungan sekitarnya, baik keluarga maupun masyarakat. Mereka perlu mendapat pemahaman agar tidak lagi membeda-bedakan para penyandang disabilitas dengan manusia normal.

Usaha Habibie ini direalisasikan dengan mendirikan Indonesia Disabled Care Community (IDCC) bersama rekan-rekannya. ”Itu tujuan saya. Saya tidak ingin membedakan antara kalangan disable dengan yang normal. Makanya, kelas yang kami buka berlaku untuk semua.

Saya ingin ada kesetaraan dan masyarakat tidak lagi membeda-bedakan kami, apalagi memandang kaum disabilitas dengan sebelah mata,” tutur Habibie. Habibie berharap, apa yang dilakukannya tidak hanya bisa berdampak langsung saat ini, tapi juga sampai 10–20 tahun mendatang.

Robi ardianto