Edisi 31-01-2016
David Bowie Ingin Abu Jasadnya Ditebar di Pulau Bali


I dream of Amlapura. Never saw in all my life a more shining jewel. I dream of Amlapura. Of an ocean or dream of a princess in stone.

Bali agaknya telah menyihir hati mendiang musisi legendaris David Bowie. Eksotisme alam dan kekayaan budaya Pulau Dewata ini tak hanya menginspirasi terciptanya lagu Amlapura— ibu kota Kabupaten Karangasem— yang ditulis pada 1989 saat bersama grup band Thin Machine, tetapi juga telah merasuk hingga jiwanya yang kini telah terpisah dari raga.

Dalam surat wasiatnya yang dipublikasikan kemarin, Bowie ingin dikremasi di Bali. Jika hal tersebut ”tidak praktis”, dia menghendaki abu jenazahnya ditebar di pulau ini sesuai dengan ritual Buddha. Namun tidak disebutkan tempat persis di mana harus ditabur abu jasadnya itu. Surat wasiat itu ditulis pada 2004 dan disahkan Pengadilan Manhattan, New York, AS, Jumat (29/1).

Surat menggunakan nama asli Bowie, David Robert Jones. Dalam pesan terakhirnya, rocker legendaris Inggris ini meminta agar proses kremasi berlangsung tenang tanpa ada keributan. ”Oleh karena itu pihak keluarga Bowie tidak akan mengadakan acara penghormatan terakhir untuk umum, khususnya para pencinta David Bowie,” tulis laporan New York Post .

Dua hari sebelum meninggal, Bowie meluncurkan album terakhirnya Blackstar. Album ini meraih posisi puncak selama tiga pekan dalam tangga lagu terpopuler Inggris, UK Charts . Bowie dikenal cukup dekat dengan Indonesia. Selain Amlapura , ikon glam rock ini juga menuangkan ”ikatan batinnya” dengan Indonesia lewat lagu Tumble and Twirl yang menceritakan perjalanannya ke Kalimantan.

Kecintaannya terhadap Indonesia ditunjukkan melalui rumah mewahnya di Karibia dengan interior ruangan bernuansa Bali dan Jawa. Tidak hanya itu, Bowie yang mengembuskan napas terakhir pada Senin (11/1) ini pernah merekam lagu dalam bahasa Indonesia berjudul Jangan Susahkan Hatiku .

Lagu aslinya berjudul Don’t Let Me Down and Down yang tercantum dalam album ”Black Tie White Noise” yang dilempar ke pasaran pada 1993. Jangan Susahkan Hatiku memang hanya ada di album yang dijual di Indonesia, mencerminkan betapa dia begitu dekat dengan negara ini. ”Album ini tercipta dari (sisi) emosional yang berbeda.

Saya merasa lebih dewasa dan menguasai seluruh emosi saya,” ujar Bowie saat menceritakan album ”Black Tie White Noise”. Bowie mengembuskan napas terakhir dikelilingi keluarga tercinta, yakni istri dan kedua anaknya. Tidak banyak yang tahu bahwa Bowie menderita kanker hati dalam tiga tahun terakhir. Penyakit itu semakin ganas dalam 18 bulan sebelum Bowie meninggal.

Selain lokasi penyebaran abu jasad, dalam surat wasiatnya Bowie juga diketahui meninggalkan harta berupa uang sebanyak USD100 juta (sekitar Rp1,3 triliun). Setengah dari jumlah tersebut diberikan kepada istrinya, Iman, bersama rumah yang mereka tempati di New York.

Adapun sisanya dibagi rata untuk kedua anak Bowie, Duncan Jones dan Alexandria Zahra Jones. Bowie juga menyisihkan harta peninggalannya untuk asisten pribadinya, Corinne Schwab, sebesar USD 2 juta (setara Rp27,3 miliar) dan mantan pembantu rumah tangganya, Mario Skene, USD1 juta (Rp13,6 miliar). Berdasarkan akta kematiannya, jenazah Bowie dikremasi pada 12 Januari lalu di New Jersey.

ARVIN
Jakarta