Edisi 31-01-2016
Abadikan Pendaran Bulan


Objek dalam fotografi tak terbatas hanya pada lanskap atau aktivitas manusia. Benda angkasa seperti bulan juga bisa menjadi objek fotografi yang menakjubkan.

Tak sedikit dari kita, penggemar fotografi, yang telah mencoba memotret bulan dengan kamera DSLRnya. Sebagian mungkin mendapatkan foto yang bagus, namun sebagian lagi tak mendapatkannya. Hanya bulatan kecil terang dan overexposed yang didapat dalam komposisi foto.

Saat kita masukkan bulan dalam bidang komposisi misalnya di bidang atas lanskap perkotaan pada malam hari, light meter (alat pengukur cahaya) pada kamera akan mengukur rata-rata keseluruhan dari seluruh objek yang ada dalam komposisi, kecuali bulan itu sendiri. Hal tersebut karena bulan terlalu kecil dibandingkan dengan objek lain yang ada, dan sedikit titik cahaya tidak akan terlalu berpengaruh pada keseluruhan pengukuran cahaya dalam komposisi.

Selain hasil yang kerap overexposed, permasalahan dasar lain yang kerap ada yaitu bulan yang terlihat sangat kecil pada hasil foto. Jawaban sederhananya adalah kemungkinan besar lensa yang digunakan adalah lensa lebar. Perlu dipahami, sudut pandang mata manusia layaknya lensa 50mm. Jadi, jika ingin melihat bulan yang tidak terlalu kecil pada hasil foto, gunakan lensa minimal 50mm.

Semakin panjang focal length yang kita gunakan, rasio besar bulan dalam hasil foto akan semakin baik. Memotret bulan juga membutuhkan perencanaan waktu yang baik untuk hasil maksimal. Haruslah saat langit bersih dari awan pada malam hari untuk memotret bulan. Sedikit saja awan menggantung atau kabut menutup pandangan ke langit, sulit sekali untuk mendapatkan foto yang baik.

Kemudian, untuk mengetahui fase bulan dan merencanakan waktu terbaik untuk memotret kita bisa mengunjungi sejumlah situs seperti www.moongiant.com . Setelah mengetahui jawaban dari sejumlah permasalahan dasar di atas, berikut kita bahas peralatan yang diperlukan untuk memotret bulan.

Kamera DSLR menjadi peralatan yang paling ideal untuk digunakan dengan lensa tele minimal 200mm. Sejumlah kamera point and shoot dengan fitur optical zoom hingga 200mm juga bisa kita gunakan. Bagi kita yang ingin memotret bulan dengan tampilan besar dan menunjukkan detil permukaannya, tentu lensa tele di atas 200mm sangat diperlukan. Semakin panjang lensa, tentu semakin baik.

Penggunaan teleconverter bisa dilakukan jika kita tidak memiliki lensa di atas 200mm. Melalui alat ini, lensa akan mengalami pembesaran focal length sesuai nilai teleconverter yang digunakan. Misalnya dengan teleconverter 1.4x, lensa 200mm akan memiliki focal length setara lensa 320mm.

Perlu diingat, penggunaan teleconverter memiliki dampak kurang baik bagi kualitas ketajaman foto serta mengurangi besaran diafragma yang dimiliki lensa. Hasilnya adalah lensa 200mm f/4 menjadi lensa 320mm f/5.6 dengan penggunaan teleconverter tersebut. Namun, besaran diafragma tak terlalu berpengaruh saat memotret bulan karena kita akan menggunakan diafragma sempit saat memotret.

Lensa tele dengan focal length di atas 200mm memiliki risiko shake yang sangat besar, sedikit saja pergerakan terjadi saat memotret, hasil foto akan menjadi goyang dan rusak. Alasan tersebut membuat kita memerlukan tripod saat memotret untuk menghindari shake dan mendapatkan foto dengan ketajaman yang baik.

Remote camera trigger juga sangat berguna untuk menghindari risiko getaran saat jari kita menekan shutter button . Jika tidak ada, gunakan fitur self timer untuk menggantikannya. Terakhir, gunakan mode Manual, terutama saat memotret bulan sebagai objek tunggal tanpa objek tambahan di sekeliling.

Gunakan ISO terendah dari kamera, ISO 100 atau ISO 200. Atur kecepatan rana (speed ) pada 1/125 seconds pada ISO 100 atau 1/250 seconds pada ISO 200. Selamat mencoba.

Arie yudhistira