Edisi 04-02-2016
Tinggi Bengawan Solo 8 Meter


SOLO – Luapan air Sungai Bengawan Solo sudah mengancam Kota Solo dan wilayah sekitarnya. Ketinggian air sungai terpanjang di Pulau Jawa itu sudah mencapai 8 meter dan telah memasuki level siaga II atau kritis yang membuat alarm tanda bahaya menyala.

Petugas di Pos Pantau Jurug mencatat, pada Selasa (2/2) malam, ketinggian air sudah mencapai 8 meter atau masuk kategori level kuning yang standarnya 7,5 meter. Sedangkan siaga III atau level merah ketinggiannya 8,5 meter. Saat di level merah, Sungai Bengawan Solo dipastikan meluap dan banjir. “Meski sudah masuk di level siaga II, namun sudah ada kawasan yang tergenang air,” ungkap Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkot Solo Gatot Sutanto, kemarin.

Daerah yang sempat tergenang berada di Kelurahan Semanggi. Gatot menyatakan, BPBD telah menyiapkan pompa penyedot air portabel ukuran besar dan sedang masing-masing tiga unit, lima perahu karet, genset, dan lampu penerangan. Dari pengalaman banjir tahun lalu, terdapat 20 kelurahan di limakecamatanrawankebanjiran, yakni Kelurahan Joyontakan, Semanggi, Kedunglumbu, Pucangsawit, Jebres, Mojosongo, Kadipiro, Gilingan, Nusukan, Sumber, Banyunyar, Pajang, Laweyan, Bumi, Premulung, Tipes, Serengan, dan Joyosuran.

Ancaman banjir juga berasal dari anak Sungai Bengawan Solo, seperti Kali Jenes, Kali Premulung, Kali Kecing, Kali Pepe, dan Kalianyar. Saat ini semua pintu air yang bermuara di Sungai Bengawan Solo sudah ditutup. Jika tetap dibuka, maka air justru akan berbalik dan menimbulkan banjir.

Untungnya, pintu air Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Kabupaten Wonogiri belum dibuka menuju Sungai Bengawan Solo sehingga aliran yang melintas di Kota Solo belum meluap. Gatot menjelaskan, petugas piket BPBD telah disiapkan di tiga posko untuk memantau ketinggian air Sungai Bengawan Solo, yakni di Kota Barat, Penaringan, dan Gading. Koordinasi dengan Pemkab Boyolali, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Sukoharjo, dan Klaten, juga intensif dilakukan mengingat anak sungai di wilayah itu bermuara di Sungai Bengawan Solo.

Sesuai prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan ekstrem masih akan terjadi selama satu pekan ke depan. Upaya penanggulangan bencana juga telah dikoordinasikan dengan Dinas Sosial (Dinsos), Dinas Kesehatan (Dinkes), PMI, TNI, dan Polri. “Untuk tempat pengungsian, rencananya akan ditempatkan di masing-masing kelurahan. Tempatnya kini sudah representatif,” ujarnya.

Ke depan, juga sudah ada wacana peninggian tanggul Sungai Bengawan Solo oleh Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) serta embung tangkapan air di Kalianyar. Koordinator operasional dan perawatan pompa air Sungai Bengawan Solo, Purwoko mengatakan, luapan Sungai Bengawan Solo masih dipantau karena Kali Dengkeng di Klaten meluap.

Kemarin ketinggian air anak sungai di titik pompa Joyontakan, Serengan, Solo, mencapai 3,8 meter. Kondisi kritis atau masuk kategori banjir jika memasuki ketinggian empat meter. Pompa air Joyotakan mengalirkan air dari Sungai Kaliwingko ke Sungai Tanggul. “Kemampuan pompa mencapai 1.000 liter per detik,” kata Purwoko.

Pompa air Joyotakan mengantisipasi banjir di wilayah Sukoharjo yang berbatasan dengan Kota Solo. Selain pompa air Joyontakan, pompa air Demangan di Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, juga sempat difungsikan menyedot genangan di Lapangan Ledok yang kemudian dibuang ke Sungai Bengawan Solo. Posisi pompa air berada di Kali Pepe bermuara di Sungai Bengawan Solo.

Pompa air di Pucangsawit di Kecamatan Jebres, Solo, juga sempat difungsikan karena Sungai Kaliboro mencapai ketinggian empat meter dari titik kritis 4,5 meter. Air dari Sungai Kaliboro dibuang ke Sungai Bengawan Solo. “Jika mencapai 4,5 meter, maka akan menggenangi Jalan Juanda,” katanya. Terdapat empat pompa air yang dikelola BBWSBS. Tiga di antaranya berada di Kota Solo, yakni pompa Joyontakan, Pucangsawit, dan Demangan.

Sedangkan pompa di Langenharjo berada di wilayah Sukoharjo. Petugas pos pantauan banjir, Jurug Haryanto mengemukakan, level air naik karena ada kiriman dari bagian hulu, yakni Kali Dengkeng Klaten dan Wonogiri serta Kali Samin di Sukoharjo. Kendati demikian, level air kemudian berangsurangsur surut.

“Kami meminta masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo untuk meningkatkan kewaspadaan,” kata Haryanto. Naiknya air Sungai Bengawan Solo mengakibatkan taman urban forest di Pucangsawit sempat terendam hingga setengah meter meski surut lagi.

Sementara di Sukoharjo, alarm banjir Sungai Bengawan Solo yang dipasang di bawah Jembatan Bacem dini hari kemarin menyala dan berwarna kuning, pertanda bagi warga agar siaga. Ketua RT 1/6 Dukuh Telukan, Desa Telukan, Grogol, Sukoharjo, Suparyono mengatakan, ketinggian air mengalami kenaikan meski belum sampai alarm menyala merah sebagai tanda bagi warga untuk mengungsi.

Naiknya elevasi air Sungai Bengawan Solo menyebabkan banjir di Desa Nusupan, Kadokan, Kecamatan Grogol, serta Dukuh Kesongo, Desa Tagalmade, Kecamatan Mojolaban. Sedangkan banjir yang disebabkan meluapnya anak Sungai Bengawan Solo serta saluran air justru lebih besar. Seperti banjir yang melanda Jalan Jenderal Sudirman dan sejumlah rumah warga di Dukuh Dompilan, Kelurahan Jombor, Bendosari, serta rumah warga di Desa Sidorejo.

“Banjir di kota terjadi karena buruknya drainase sehingga air tidak terbuang, melainkan meluap ke permukiman penduduk, data terakhir ada seratusan rumah yang terdampak banjir,” ujar Kepala Bidang Operasional (Kabid Ops) SAR Sukoharjo Muchlis. Terpisah, Kepala BPBD Karanganyar Nugroho mengatakan, wilayah Desa Ngringo paling rawan terendam banjir karena terletak di dekat bantaran Sungai Bengawan Solo.

“Kami terus memantau ketinggian air dan siaga banjir,” katanya. Warga Dusun Daleman, Desa Ngringo, kemarin dini hari sempat akan mengungsi karena air Sungai Bengawan Solo melebihi batas talud.

ary wahyu wibowo/ sumarno/arief setiadi ?

Berita Lainnya...