Edisi 04-02-2016
Objek Wisata Coban Rondo Ditutup


MALANG – Pengelola wana wisata Coban Rondo memutuskan menutup sementara objek wisata alam yang berlokasi di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Langkah ini terpaksa diambil setelah air terjun tertinggi di Malang Raya itu diterjang banjir bandang, Selasa (2/2) lalu.

Akibat derasnya terjangan air sejumlah wahana dan fasilitas di kawasan wisata Coban Rondo rusak parah, di antaranya fasilitas outbond, kios-kios makanan, suvenir, gudang, serta toko milik Koperasi Karyawan ”Kopusma”. Untungnya dalam musibah ini tidak ada korban jiwa. Manajer Operasional Wana Wisata Coban Rondo, Lesmono mengatakan, terjangan banjir bandang terjadi pada petang hari. Saat itu semua karyawan dan pengunjung sudah meninggalkan lokasi wisata.

”Hanya ada beberapa pedagang yang masih tinggal di tokonya. Termasuk Pak Rokim yang duduk dekat sungai sambil membuat perapian. Melihat air datang pedagang langsung menyelamatkan diri,” kata Lesmono. Menurutnya, sembilan kios milik pedagang yang rusak bangunannya semipermanen. Sedangkan kerugian dialami pengelola Coban Rondo diperkirakan mencapai Rp70 jutaan. ”Sejak Minggu sore hujan turun sangat deras sekali. Puncaknya Selasa sore sehingga menyebabkan banjir bandang. Saat inikami menunggu bantuan alat berat dari Pemkab Malang untuk normalisasi sungai,” kata dia.

Kata Lesmono, proses pembersihan sisa banjir bandang diperkirakan makan waktu seminggu. Jadi, selama sepekan wisata Coban Rondo ditutup untuk wisatawan. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Bagyo Setiyo menambahkan, berdasarkan perkiraan cuaca dari BMKG, puncak curah hujan akan terjadi bulan ini.

Karena itu, masyarakat perlu waspada akan datangnya banjir bandang, tanah longsor, dan angin puting beliung. Menurut Bagyo, banjir bandang dalam kawasan Coban Rondo diperkirakan karena tebing di bibir sungai gundul sehingga saat hujan turun terjadi erosi. Setelah erosi menimbulkan bendungan alam dalam aliran sungai. ”Karena curah hujan tambah lebat. Akhirnya menimbulkan banjir semacam ini,” ungkap dia.

Kejadian semacam ini pernah terjadi tahun 1983 lalu, tapi waktu itu orang berjualan tidak sebanyak sekarang. Selain merusak kios, banjir bandang juga merusak jaringan pipa PDAM dan HIPAM. ”Tandon air di Coban Tengah, hancur diterjang banjir. Kalau pipanya tidak segera diperbaiki. Berarti harus ada pengiriman air bersih lewat mobil tangki untuk masyarakat,” kata Bagyo. Secara umum, sejak Januari dan awal Februari 2016, di wilayah Kabupaten Malang sudah sembilan kali terjadi longsor.

Tempatnya di Kecamatan Wajak, Poncokusuma, termasuk di Kecamatan Pujon. ”Saran kami saat hujan lebat hindari aktivitas di luar rumah. Jangan memarkir mobil di bawah pohon yang rapuh. Segera pindah ke tempat yang aman bila mengetahui di dekat rumah ada tebing mudah longsor,” kata Bagyo.

Warga Kawasan DAS Rawan Bencana

Beberapa hari terakhir ini wilayah Kota Malang mulai diguyur hujan deras. Kondisi ini menjadi peringatan bagi warga yang tinggal di kawasan daerah aliran sungai (DAS), karena rawan terjadi bencana banjir dan tanah longsor. Wilayah DAS di kota pendidikan ini dipadati permukiman penduduk. Seperti di sepanjang DAS Brantas yang membentang dari wilayah Telogomas, Kecamatan Lowokwaru, sampai Gadang, Kecamatan Sukun.

Paling padat permukiman ada di wilayah Kecamatan Klojen dan Kecamatan Kedungkandang. Selain DAS Brantas, wilayah rawan bencana juga ada di DAS Bango, DAS Metro, dan DAS Amprong. Wali Kota Malang M. Anton langsung inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah titik rawan bencana tersebu, di antaranya di Jalan Ki Ageng Gribig I A RT 5/RW 6 Kecamatan Kedungkandang dan Jalan Abimanyu RT 5/RW 3 Kecamatan Blimbing. ”Kami lakukan pengecekan langsung, langkah antisipasi, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana,” ujar Anton.

Dia meminta setiap kelurahan yang wilayahnya masuk peta rawan bencana bisa membuat perencanaan-perencanaan antisipasi dan penanganan. Disebutkannya, saat ini telah dikeluarkan Peraturan Wali Kota Malang yang menaungi 44 titik rawan bencana terdiri dari 27 titik rawan longsor dan 17 titik rawan banjir.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang JF. Hartono menyatakan terus memantau di lapangan, terutama di wilayah rawan bencana, seperti di permukiman padat penduduk yang berdiri di sepanjang DAS. ”Saat musim hujan akan rawan ada luapan air sungai yang masuk ke permukiman pendudukan, karena jarak antara muka air sungai dengan rumah-rumah penduduk sudah dekat,” ujarnya.

Dia menyebutkan, wilayah yang masuk peta rawan terjadi bencana tanah longsor ada 27 titik. Kerawanan ini terjadi di lima kecamatan di Kota Malang.

maman adi saputro/ yuswatoro

Berita Lainnya...