Edisi 04-02-2016
Wali Kota Linggau Naik Pitam


LUBUKLINGGAU – Wali Kota Lubuklinggau SN Prana Putra Sohe atau Nanan, naik pitam kemarin. Nanan marah karena menilai Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel tidak tanggap dalam mengatasi kasus DBD di daerahnya.

Pa dahal DBD di Lubuklinggau su - dah ditetapkan statusnya sebagai kejadian luar biasa (KLB) dan su - dah merenggut korban jiwa. “Sum - sel ini bukan hanya Palembang, se karang ini dana yang ada keba - nyakan dipakai untuk Palembang saja. Coba diberikan bantuan ke daerah, di Linggau ini DBD paling parah, tapi Dinkes provinsi tidak ada bantuan, mereka tidak tang - gap,” kata Nanan saat memimpin rapat bersama Lembaga Peneli - tian Antariksa Nasional (Lapan) di op room Moneng Sepati, kemarin.

Menurut Nanan, seharusnya Dinkes provinsi lebih tanggap memberikan bantuan terhadap kasus-kasus kesehatan masyara - kat di daerah. Termasuk meng - atasi DBD di Lubuklinggau. “Se - hingga daerah merasakan adanya perhatian (dari pemerintah pro - vinsi),” imbuhnya. Orang nomor satu di Kota Lu - buklinggau ini kesal, karena me - nilai pemerintah provinsi lebih memperhatikan Palembang.

Ang - garan tingkat provinsi selalu di - alo kasikan untuk pembangunan fisik dan nonfisik di Kota Palem - bang. Sementara, pemerintah dae - rah lain membangun daerah nya dengan APBD sendiri. Diketahui, sejak Januari hing - ga 3 Februari jumlah penderita DBD di Kota Lubuklinggau sudah mencapai 227 orang. Tiga di anta - ranya meninggal dunia dan 36 orang masih dirawat.

Meski saat ini terjadi tren penurunan, na - mun status KLB belum bisa dica - but, karena sampai saat ini belum memenuhi kategori pencabutan. Pemkot Lubuklinggau renca - na nya akan melakukan pembe - rantasan sarang nyamuk secara massal di daerah tersebut. Ha - rapan nya status KLB tersebut da - pat dicabut. Kepala Dinas Kesehatan Lu - buk linggau, Nawawi mengung - ka pkan, hingga kemarin Dinkes Sumsel hanya memberikan ban - tu an cairan untuk fogging sekitar 100 liter.

Untungnya, pihaknya juga menerima bantuan dari pe - merintah pusat berupa obatobat an dan alat untuk memper ce - pat penanganan DBD. “Dinkes provinsi sudah bantu, tapi harapan kita bisa lebih dari itu. Mungkin bantuan mereka ini dibagi-bagi dengan daerah lain juga,” kata dia. Nawawi menyebut, saat ini tren perkembangan DBD di dae - rahnya mulai menurut.

Meski - pun begitu, dia mengingatkan agar masyarakat jangan lengah da lam mengatasi sumber penye - baran DBD. “PSN (pemberantasan sarang nyamuk) harus terus dilakukan. Kita mengajak semua elemen ma - syarakat, terutama lurah untuk berperan aktif, karena saat ini ma sih ada lurah yang tidak ber - peran,” Nawawi mengingatkan.

Sementara itu pihak Dinkes Sumsel menyatakan sudah mela - ku kan berbagai tindakan pence - gahan, penyebaran DBD. Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian dan Pem beratan Penyakit (P2P) Din - kes Sumsel Mulyono mengata - kan, penanggulangan penyebar - an demam berdarah telah dila ku - kan dan hampir sama dibanding - kan dengan tahun-tahun sebe - lumnya.

Diawali dengan mem buat surat edaran gubernur me nge nai kesiapsiagaan peningkat an kasus demam berdarah. “Surat edaran itupun sudah diteruskan pada Dinkes kota dan kabupaten, sejak awal musim hujan. Surat ke - siapsiagaan peningkatan kasus demam berdarah menjelang mu - sim hujan sudah diberikan,” ujar - nya kemarin.

Tidak hanya surat edaran, Mul yono mengaku Dinkes Sum - sel pada tahun lalu sudah menya - lurkan bantuan logistik larvasida sebanyak 4.009 kg ke kabupaten dan kota. Selain larvasida, juga membagikan insektisida sebanyak 7.250 liter ke kota dan kabupaten. Selain pembagian cairan pem - basmi nyamuk, Mulyono menga - ta kan, terdapat bantuan logistik RDT demam berdarah sebanyak 2.720 tes ke seluruh kota dan kabupaten di Sumsel.

Namun, dia tidak memaparkan bagaimana pola pendistribusiannya. “Dinkes Sumsel sifatnya mengcover jika kebutuhan di kota dan kabupaten kekurangan. Jadi, kita (Dinkes) menunggu laporan dari kota dan kabupaten, mengenai apa saja yang menjadi kendala dan permasalahan pencegahan serta penanggulangannya,” ung kapnya.

Penggiat Kesehatan Syalfitri mengungkapkan, penyebaran pe - nyakit demam berdarah ini juga berhubungan dengan kualitas lingkungan. Misalnya, di kawas - an perairan atau daratan pada desa atau kota termasuk akses pada kesehatan di tengah-tengah masyarakat. Selain memang be - lum terdapat vaksin sebagai bagi - an pencegahan, pengobatan pada demam berdarah hendaknya juga bisa lebih baik.

“Petugas kesehatan juga aktif melakukan penyuluhan dan so - sia lisasi. Di wilayah tropis, pe nye - baran virus dan bakteri tergolong cepat, apalagi dengan perantara hewan, seperti nyamuk. Harus jadi perhatian bersama, terutama pemerintah,” ungkap ia.

Sri prades/tasmalinda

Berita Lainnya...