Edisi 04-02-2016
Pertahankan Keaslian Kampung Nelayan


Rencana pemerintah membangun Kampung Bahari Tambaklorok harus mempertahankan keaslian kampung dan tidak boleh menggusur bangunan para nelayan yang sudah ada. Proyek juga harus mengakomodir kepentingan serta aspirasi warga setempat.

Pakar tata kota dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof Totok Rusmanto mengatakan pembangunan kampung bahari harus mempertahankan kearifan lokal dan kebutuhan para nelayan. “Proyek kampung bahari harus mengakomodir kebutuhan warga. Tidak boleh menggusur bangunan warga bahkan wajib mempertahankannya,” ucapnya.

Menurut Totok, ciri khas kampung bahari adalah permukiman warga dengan beragam kegiatannya. Bangunan-bangunan khas nelayan di tepi sungai dengan kapalkapal yang ditambatkan dekat rumah menjadi nilai tambah estetika kampung wisata bahari. “Justru keaslian itulah yang membuat wisatawan tertarik. Kalau menurut saya, itu harus dipertahankan,” tandasnya.

Pemerintah hanya boleh melakukan penataan agar lokasi itu menjadi layak. Seperti pemavingan jalan, pengerukan sungai, memberikan sarana-prasarana penunjang, dan sebagainya. “Namun kebanyakan yang terjadi, untuk membuat gagasan baru biasanya menghilangkan yang lama. Itu yang salah dan harus diluruskan,” ucapnya.

Dia menyayangkan kampung wisata bahari Tambaklorok akan melakukan pemindahan warga ke rumah susun. “Itu karena proyek ini sifatnya top down , jadi dari atas kebawah. Atasmaunya sepertiitu, tapi kenyataannya masyarakat di bawah berkeinginan lain. Jika memang harus dipaksakan membuat kampung bahari di Tambaklorok maka harus ada jalan tengah sebagai jembatan menyamakan visi misi,” katanya.

Menurut Totok, nelayan harus benar-benar dilibatkan dalam rencana pembangunan kampung bahari itu. Jika tidak, anggaran sebanyak itu dan konsep sebagus apa pun hasilnya tidak akan maksimal. Pakar lingkungan yang juga mantan Rektor Undip Semarang Prof Sudharto mengatakan pembangunan mestinya mendengarkan dan mengakomodasi aspirasi warga.

Dari sisi lingkungan, rencana pembangunan kampung wisata bahari adalah salah satu solusi memecahkan permasalahan kampung nelayan di sepanjang pantai utara (pantura). Sebab, selama ini kondisi pesisir pantura memang kumuh dan banyak permasalahan yang dihadapi. “Tambaklorok adalah satu dari banyaknya wilayah perkampungan nelayan di pantura yang harus diperhatikan. Setidaknya ada 23,5 kilometer kampung nelayan di sepanjang jalur itu yang harus diselesaikan masalahnya, seperti kumuh, rob dan banjir, serta pencemaran laut,” ucapnya.

Melihat kondisi Tambaklorok saat ini memang sulit mengembalikan posisi kampung seperti semula. Sebab, saat ini banyak rumah yang tenggelam oleh tanah. “Sehingga kalau mau ada pembangunan dalam model baru seperti rumah susun, itu benar-benar harus dilakukan sosialisasi dengan baik. Memang tidak mudah, tapi jika sosialisasi dilakukan terus menerus dengan pendekatan, pasti hasilnya akan ber hasil,” katanya.

Meskipun Tambaklorok dikonsep sebagai kampong wisata bahari, hal itu tidak mengubah pola hidup para nelayan. Mereka tetap jadi nelayan dengan berbagai aktivitas kehidupannya sehari-hari. “Justru itu yang menjadi daya tariknya, ada nelayan yang menangkap ikan, menambatkan perahu di dekat rumah, ada tempat pelelangan ikan dan sebagainya,” katanya.

Kampung Tambaklorok diprogram menjadi Kampung Wisata Bahari dengan melakukan perbaikan mulai penataan permukiman dan menanggulangi permasalahan yang selalu terjadi tiap tahun, yakni rob dan banjir. Kampung Wisata Bahari Tambaklorok merupakan proyek pembangunan tahun jamak yang didanai pemerintah melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Ditjen Sumber Daya Air (SDA) dari Kementerian Pekerjaan Umum.

Anggaran yang dikucurkan untuk proyek Kampung Wisata Bahari Tambaklorok Rp151 miliar, yaitu untuk konstruksi dan supervisi Rp6 miliar. Pekerjaan dilakukan dengan cara menormalisasi Sungai Banjirkanal Timur lama sepanjang 700 meter sampai muara, pengerukan alur sepanjang 700 meter dengan kedalaman 3 meter ke bawah (muara) dari titik awal sekarang agar perahu nelayan bisa leluasa bergerak dan tidak kandas saat akan melaut.

Kemudian memperkuat tebing sungai dengan tiang pancang (sitepile) sepanjang 1.700 meter. Di lapangan, proses pengerukan dan pemasangan tiang pancang sudah dilakukan kemarin. Dua alat berat sibuk melakukan pengerukan sementara dua kapal tongkang sibuk memasang tiang pancang di muara sungai.

andika prabowo

Berita Lainnya...