Edisi 04-02-2016
Calon Mahasiswa Diminta Waspadai Kelas Jauh


YOGYAKARTA – Calon mahasiswa yang akan berkuliah di DIY diminta mewaspadai program kelas jauh. Karena hingga saat ini, pemegang izin kelas jauh hanya dua perguruan tinggi di DIY. "Ini sudah memasuki jadwal Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2016/2017.

Para calon mahasiswa harus lebih cermat memilih perguruan tinggi, termasuk program kelas jauh. Karena hanya ada dua yang berizin, yakni MM UGM di Jakarta dan Pendidikan Jarak Jauh S-2 STMIK AMIKOM Yogyakarta," ujar Koordinator Kopertis Wilayah V DIY Bambang Supriyadi, kemarin. Bambang menuturkan, imbauan tersebut terkait pengalaman pada 2013 dan 2014 lalu, di manaKopertisWilayahVDIYtelah menghentikan beberapa proses perkuliahan kelas jauh yang terselenggara tanpa izin.

Menurutnya, kala itu ada beberapa perguruan tinggi swasta (PTS) di DIY yang membuka kelas jauh di Wonosobo, Batam, danPurworejo. "Kami awalnya mendapatkan laporan. Setelah kami selidiki memang benar tanpa izin. Lantas kami minta PTS yang bersangkutan untuk menutup kelas jauh itu. Akhirnya kelas itu ditutup dan semua mahasiswanya telah dipindahkan ke Yogyakarta," katanya. Bambang menambahkan, penyelenggaraan kelas jauh tanpa izin cukup banyak terjadi dan sulit untuk dideteksi.

Padahal, pengurusan izin penyelenggaraan kelas jauh di luar domisili kampus utama cukup sulit dan ketat. Bambang pun menegaskan, kelas jauh berbeda dengan pendidikan jarak jauh. "Pendidikan jarak jauh itu seperti yang diadakan Universitas Terbuka (UT). UT menggunakan modul serta ada pertemuan antara mahasiswa dan dosen di kampus. Kalau kelas jauh, biasanyadosenyangdatang ke mahasiswa. Kelasnya juga di rumah kontrakan. Hal ini yang tidak boleh, sebab izin mendidik mereka di Yogyakarta, bukan di daerah lain," paparnya.

Terpisah, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah DIY Kasiyarno mengatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah koordinasi dan sosialisasi bagi PTS di DIY untuk tidak membuka kelas jauh. Semua PTS di DIY juga telah diminta kerja samanya untuk saling mengontrol praktik kelas jauh. Hal tersebut menurutnya juga sebagai upaya menjaga nama baik Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan.

"Sudah saya sampaikan, jangan ambil risiko dengan membuka kelas jauh. Jika hal itu masih nekat dilakukan, kredibilitas Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan bisa turun. Kalau hal ini terjadi, bisa semakin susah PTS yang ada di Yogyakarta nantinya," ujarnya.

ratih keswara


Berita Lainnya...