Edisi 04-02-2016
Warga Diminta Siap Hadapi Bencana


YOGYAKARTA – BPBD DIY mencatat kejadian kebencanaan di DIY pada musim hujan kali ini menurun. Namun, masyarakat diminta tidak lengah terhadap ancaman bencana. Buktinya, kemarin tiga orang terimbun longsor saat kerja bakti membersihkan material longsoran di Kulonprogo, bahkan satu di antara meninggal dunia.

Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Danang Samsu mengatakan, dampak El Nino membuat curah hujan di provinsi ini mengalami penurunan signifikan. “Kejadian kebencanaan juga menurun, baik banjir, tanah longsor, maupun angin kencang,” katanya tadi malam.

Dalam catatannya, kejadian kebencanaan di DIY pada musim hujan tahun ini yang menonjol adalah angin kencang di Prambanan serta tanah longsor di Kulonprogo. “Dari sudut pandang tingkat kerugian material dan immaterial juga menurun dibanding musim hujan tahun lalu,” kata Danang. Hanya pihaknya mengingatkan agar masyarakat tidak lengah meski dampak El Nino membuat curah hujan turun signifikan. “Karena pada dasar nya kebencanaan terjadi di daerah yang memiliki sejarah dan pengalaman sebelumnya,” ucapnya.

BPBD DIY menyebutkan ada 16 kecamatan rawan tanah longsor dan 15 kecamatan rawan banjir. Sementara dalam pers rilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) disebutkan, secara nasional kebencanaan mengalami penurunan. Bencana banjir mengalami penurunan 43% dan tanah longsor 75%. Pengaruh El Nino terhadap curah hujan di Indonesia sangat signifikan. Musim hujan terlambat, intensitas hujan berkurang, dan sebaran hujan tidak merata dibandingkan dengan pola normalnya.

El Nino diprediksi masih berpengaruh hingga Maret mendatang. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, berkurangnya curah hujan menyebabkan bencana hidrometeorologi, khususnya banjir dan longsor, juga berkurang dibandingkan tahun 2015. Dalam periode sama, yakni Januari 2015 dibandingkan dengan Januari 2016, kejadian bencana banjir menyusut 43%.

Pada Januari 2015 terjadi 101 kejadian banjir dan Januari 2016 hanya 58 kejadian. Hal sama juga terjadi pada bencana longsor yang menurun 75%. Pada Januari 2015 terdapat 120 kejadian, sedangkan Januari kemarin 30 kali longsor. Penurunan kejadian bencana ini masih perlu diwaspadai mengingat ancaman banjir dan tanah longsor masih tetap tinggi selama Februari. BMKG memprediksi intensitas hujan selama bulan ini mencapai 300 milimeter. “Sebaiknya tetap waspada,” katanya.

Sementara hujan deras kemarin mengguyur Kulonprogo menyebabkan tiga orang yang membersihkan material longsoran tertimbun tanah di Pedukuhan Nglinggo Wetan, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo. Bahkan satu warga di antaranya meninggal di lokasi kejadian. Korban tewas adalah Tukijo, 65, yang merupakan Kepala Dukuh Nglinggo Wetan.

Sementara Rebin, 64, yang merupakan ketua RT 28 luka serius dan menjalani perawatan intensif di UGD RSUD Wates. Satu korban lainnya, Wagiran, 58, yang hanya luka ringan sempat dirawat di Puskesmas Samigaluh. Musibah ini terjadi sekitar pukul 08.30 WIB, saat warga di dua RT di Nglinggo kerja bakti membersihkan material longsoran tanah yang menutup jalan di Nglinggo menuju kecamatan.

Ketika longsor terjadi, proses pembersihan material longsoran tanah sudah hampir selesai. Kemudian kegiatan dilanjutkan membuat saluran air di sisi jalan yang longsor itu. Tiba-tiba terjadi longsoran susulan. Tebing setinggi 10 meter longsor dan langsung menimbun Tukijo dan Rebin. Sedangkan Wagiran hanya tertimbun kakinya sebatas paha.

“Begitu longsor bapak saya (Rebin) dan pak dukuh tidak Nampak, (mereka) tertimpa longsoran tanah,” tutur Tri Widiyanto, anak Rebin. Tri yang juga berada di lokasi saat kejadian langsung mencari ayahnya. Sekitar 10 menit, Rebin berhasil ditemukan dan langsung dilarikan ke puskesmas bersama korban Wagiran.

Warga lainnya mencari kepala dukuh yang masih tertimbun. Korban terakhir berhasil ditemukan dalam kondisi telungkup tertimbun material tanah. Rebin tergeletak lemah di UGD RSUD Wates. Saat ditemukan korban dalam kondisi sadar. Dia mengeluhkan sesak dan sakit di dada sebelah kirinya. “Saya sempat dengar gemuruh, setelah itu saya tidak tahu,” tutur Rebin.

Direktur RSUD Wates dr Lies Indriyati mengatakan, korban masih dalam pengawasan tim medis. Untuk sementara waktu dia ditempatkan di UGD untuk melihat perkembangannya, tapi jelas kondisinya bagus dan semakin membaik. “Kami belum bisa memastikan, tadi juga sudah di-rontgen. Tetapi secara umum kondisinya bagus,” tutur Lies yang didampingi Dirut Pelayanan Medis, Witarto.

Ketua Harian BPBD Kulonprogo Gusdi Hartono mengakui musibah ini terjadi saat warga melakukan kerja bakti. Dari pantauan di lapangan, hanya ada satu kejadian longsor di Nglinggo. Karena kondisi cuaca ekstrem, Gusdi meminta masyarakat waspada. Apalagi pada Februari sampai Maret diperkirakan curah hujan tinggi. “Warga harus waspada, apalagi yang tinggal di daerah rawan dan labil,” kata Gusdi.

Banjir Mengancam Kota Yogyakarta

Potensi banjir di beberapa sungai meningkat sejak beberapa hari terakhir ini. Salah satunya Sungai Code yang alirannya berhulu Merapi melewati wilayah Kota Yogyakarta. Ketua RW 01, Code Utara, Kota Baru, Gondokusuman, Ariyanto mengatakan, aliran air terus meningkat terutama sejak Selasa (2/2) malam. “Ada peningkatan tapi saat ini masih aman,” ucapnya, kemarin.

Menurut dia, yang berbahaya merupakan kecepatan arusnya. Ditakutkan air sungai bisa menggerus talud-talud di tepi sungai. “Keselamatan warga di bantaran (terancam) karena arusnya kencang. Memang belum ada yang tergerus taludnya, tapi ini ancaman,” ungkapnya. Secara naluri warganya meningkatkan pemantauan aliran sungai mewaspadai bila sewaktu-waktu terjadi banjir atau longsor talud. “Terutama yang masih muda, kami tingkatkan pengawasannya tiap hujan,” katanya.

Selain pemantauan, Ariyanto juga berkoordinasi dengan pihak terkait, khususnya tempat-tempat biasa digunakan untuk pengungsian ketika terjadi banjir. “Tempat pengungsian biasanya warga terdampak bisa ke saudara atau keluarga yang rumahnya tak terdampak. Selain itu, juga di kantor-kantor instansi pemerintah terdekat siap menampung,” ucapnya.

Di Sungai Gendol selama hujan kemarin kondisinya terpantau ada sedikit peningkatan volume air. Meski tak membawa material lahar dingin, tapi ada bau belereng. “Kalau material tidak terbawa. Hanya kemarin ada bau belerangnya,” kata Ketua Forum Peduli Bumi (FPB), Nanang Setyoaji di Jambon, Sindumartani, Ngemplak, Sleman.

ridwan anshosri/ kuntadi/ ridho hidayat

Berita Lainnya...