Edisi 04-02-2016
Kota Tilang, Julukan Baru Cirebon


CIREBON– Polres Kota Cirebon jadi sorot - an. Meme bertuliskan “Kota Cirebon Kota Tilang” itu kini banyak beredar di media sosial (medsos).

Ber dasarkan informasi yang di - himpun, meme bernada sind - iran itu di antaranya di jumpai pada display picture BBM, Facebook, dan medsos lain. Me - me itu muncul setelah seb e lum - nya beredar banyak cerita me - ngenai kekecewaan warga yang terkena tilang anggota Sa tuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Cirebon Kota. Meme yang belakangan be redar memperlihatkan pro fil po lisi dengan latar be - lakang war na hijau. Di sam - pingnya ter dapat tulisan ber - bagai tarif ti lang di Cirebon. Un tuk hari bia sa, motor kena tilang Rp100.000 dan mobil Rp200.000.

Se mentara saat akhir pe kan, ta rif tilang mo - tor Rp200.000 dan mobil Rp500.000. Seorang warga Kota Ci rebon, pang gil saja Akbar me ngaku, per - nah ditilang dengan ala san yang menurutnya se benarnya bisa di - atasi langsung saat itu tanpa perlu ditilang. Dia menceritakan, saat hen dak menjemput is - terinya, dia di berhentikan se - orang polisi. “Ala sannya sepeda m otor saya tak memakai plat nomor res mi, meski surat-surat ber ken dara lengkap. Saat itu saya akui memang belum dipasang ka rena belum sempat,” ung kap - nya, kemarin.

Dia pun mengakui ke sa - lahannya seraya menun juk - kan plat nomor polisi resmi yang diletakkannya di bawah jok motor. Dia sempat me n je - las kan, plat nomor resmi sebenarnya telah dia miliki, ta - pi belum sempat dipasang. Ha - rapannya, polisi dapat me - mahami hal itu dan “me - lepaskan” dirinya. Namun, dia ke cewa ketika polisi itu tetap mem berlakukan tilang dan me nawarkan “titipan” denda ke pada oknum bersangkutan. Akbar menyatakan ke be ra - tan dengan alasan tak memiliki ba nyak uang.

Bah kan, dia me - nga ku sempat mem per li hat kan isi dom petnya untuk mem buk - tikan di rinya me mang benar-be - nar tak banyak me miliki uang. Na mun, saat itu, Akbar terpaksa me nye rahkan uang yang ada, tak le bih dari Rp100.000 ke pada ok num tersebut. “De ngan berat h a ti sebenarnya. Mes ki me nye - rahkan uang, STNK sepeda mo - tor saya tetap di tahan ok num itu,” tuturnya.

Pengalaman yang nyaris sama pun diungkapkan se - orang warga Kota Cirebon, pang gil saja Hasan, yang per - nah mengendarai mobil dan sempat diminta menepi oleh se orang oknum polisi lalu lin - tas. Saat itu, dirinya tengah me ngangkut peralatan ber - musik di bagasi mobil. “Tetap ke na tilang, alasannya mobil yang saya kemudikan bukan mobil barang,” katanya. Dia diminta membayar Rp20.000 untuk setiap baut yang ada di ban mobilnya. Akhir nya dia pun harus me ro - goh kocek Rp200.000.

Sejak beberapa hari ter - akhir, meme Cirebon Kota Tilang memang banyak be - redar di medsos. Bagi sejumlah kor ban tilang, meme tersebut me wakili perasaan hati me re - ka. Tak sedikit di antaranya yang kemudian menjadi ge - mas, kecewa, marah. Terpisah, Kapolres Cirebon Ko ta AKBP Eko Sulistyo Ba suki menganggap meme ter sebut sebagai kritik agar me reka melaksanakan tugas lebih baik. “Tanpa teguran, kami tak bi sa memberi pelayanan yang le bih baik kepada masyarakat,” te - gasnya.

Dia meminta masyarakat yang dirugikan dengan tin - dakan yang dilakukan oknum po lisi untuk segera me lapor - kannya. Menurutnya, tingkat pe langgaran lalu lintas di Kota Ci rebon tertinggi di Jawa Ba - rat. Karena itu, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi agar masyarakat mematuhi se - mua aturan yang berlaku. Senada, Kapolres Cirebon AK BP Sugeng Heriyanto me nu - tur kan, masyarakat di per silakan me lapor langsung ke Pro vost Pol - res Cirebon jika me lihat, me ne - mukan, bahkan men jadi korban oknum ang gota Satlantas Polres Cirebon.

“Sa ya ingatkan jajaran Polres Ci rebon untuk menilang pe ngen dara sesuai prosedur. Kri - tikan di sejumlah medsos bagi ka mi membangun, agar kami m - e layani masyarakat lebih baik lagi,” tegasnya.

erika lia

Berita Lainnya...