Edisi 04-02-2016
Sampah Anorganik Tembus 200 Ton/Hari


BANDUNG– Produksi sam - pah anorganik di Kota Bandung mencapai 200 ton per hari, dari total volume sampah harian 1.500 ton. Jumlah tersebut belum ter - masuk limbah anorganik yang dibuang ke sungai atau dibakar.

Direktur Utama PD Ke - bersihan Deni Nurdyana me - ngatakan, sampah an or ga - nik tersebut berupa ma te rial bekas berbentuk plas tik, dus, dan se ba gainya. “Jum lah sampah an - organik pasti terus me - ningkat, 200 ton per hari yang kami catat itu belum termasuk kresek yang ter - buang di badan su ngai,” tutur Deni.

Untuk itu, pihaknya me - res pons positif di ber la ku - kannya pembatasan peng gu - naan kantong plastik de ngan sistem berbayar. Pa sal nya, selain material lim - bah itu sulit terurai alam, ke - biasaan masyarakat juga cen de - rung membuang kantong plas tik. “Kalau data pasti berapa jum lah sampah kantong plastic, kami tidak ada, rekapan nya ma - suk ke sampah nonorganik. Na - mun, bila aturan ini diber la - kuka, bisa menekan peredaran sampah kantong plastik di fa si - litas utama publik,” ungkapnya.

Deni menambahkan, ke bi - jak an berbayar untuk peng gu - na an kantong plastik (kresek) ber bayar juga tak akan me mer - sulit pengelolaan sampah dari lingkungan rumah tangga. Pa - sal nya selama ini, sampah-sam - pah rumah tangga lebih banyak menggunakan media polybag atau media yang mudah terurai oleh alam. “Untuk limbah rumah tang - ga tentu menggunakan kan - tong sampah besar (polybag) ka rena lebih mudah terurai, beda sama kresek,” jelas Deni.

Keberadaan limbah kantong plastik, menurut dia, banyak di - temui di lingkungan super mar - ket dan pasar tradisional. Mi ris - nya lagi, kresek yang telah di da - pat masyarakat setelah ber be - lanja langsung dibuang begitu saja. “Kebanyakan kan setelah membeli dari supermarket atau pasar tradisional lalu ke rumah dibuang begitu saja. Sehingga bila ada kebijakan berbayar, me - reka tentu lebih memilih untuk membawa keranjang sendiri dari rumah,” tuturnya.

Tak jauh berbeda dengan kondisi sampah anorganik di lingkungan pasar tradisional. Dari pengamatannya, sejauh ini kesadaran untuk memilah lim - bah tersebut memang masih sa - ngat minim. Meski begitu pi - hak nya optimistis, ke depan pe - nanganan sampah di Kota Ban - dung jauh akan lebih baik dari sebelumnya.

“Umumnya limbah organik dan anorganik di pasar tra di sio - nal masih menyampur. Ini tentu juga tak lepas dari kesadaran ma syarakat, namun kami op ti - mistis ke depan akan lebih baik, terlebih PD Pasar juga akan terus mengampanyekan per - soal an sampah yang ada selama ini,” tukasnya. Komisi C DPRD Kota Ban - dung, Rendiana Awangga me - nga takan, untuk memini ma li - sir penggunaan kantong plastik (kresek), Kota Bandung se be - narnya sudah memiliki payung hukum untuk mengatur hal tersebut.

Bahkan tahun ini Ke - menterian Lingkungan Hidup telah mengeluarkan peraturan menteri tentang pembatasan atau penggunaan kantong plas - tik, di mana dari 22 kota di In do - nesia, Kota Bandung menjadi bagian proyek percontohan. “Orang yang menggunakan plastik harus membayar, na - mun harga Rp500 masih terlalu kecil, seharusnya besarannya bisa kembali dikaji agar ke sa - daran masyarakat lebih ter gu - gah,” tutur Awang.

Menurut dia, meski perda un tuk mengatur hal tersebut te - lah ada, namun untuk im ple - men tasi di lapangganya bisa dipertajam dengan peraturan wali kota, karena dalam ke ten - tuan perda saat ini tak ada sanksi yang mengikat dalam pes oalan tesebut.

heru muthahari


Berita Lainnya...