Edisi 04-02-2016
BNNP Bangun Home Industry di Kampung Kubur


MEDAN– Memasuki pekan keempat pascapendirian posko, aktivitas Kampung Kubur terus dipantau Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumut. Dalam waktu dekat, BNNP Sumut akan membangun home industry guna memberdayakan warga setempat.

Home industry yang dimaksud adalah pembuatan usaha tahu dan tempe dengan memberdayakan warga Kampung Kabur, Kecamatan Medan Petisah. Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan BNNP Sumut, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Magdalena Sirait, mengatakan, langkah itu dilakukan untuk menjauhkan warga dari bahaya narkotika dan mengubah stigma buruk kampung narkoba menjadi kampung sejahtera.

“Hasil penelitian kami dan interaksi tim dengan warga, dipandang perlu untuk membuat suatu keterampilan bagi warga sekitar. Jadi, tidak ada lagi kampung narkoba, tetapi kampung sejahtera,” katanya. Untuktahapawal, wargayang dilibatkan berjumlah 15 orang. Namun, apabila usaha tersebut berjalan sebagaimana yang diharapkan, akan menambah lagi jumlah tersebut.

Jadi, seluruh keluarga yang bermukim di kawasan itu memiliki pekerjaan tetap. Jadi, tidak ada lagi niat ataupikirannya terlibat dalam peredaran narkotika. “Untuk tahap pertama ini sifatnya masih pelatihan saja dan belum berproduksi. Dari pelatihan itu akan dinilai hasil produksi pembuatannya apakah sudah layak dipasarkan atau belum,” ujarnya. Untuk sementara, hasil produksi keterampilan warga itu akan ditampung dan dibeli Pemerintah Kota (Pemko) Medan.

Namun, jika sudah memenuhi syarat untuk dijual di pasaran, pihaknya akan memasarkannya. “Produk pertama ini akan ditampung pemko dulu, selanjutnya baru dipasarkan apabila sudah memenuhi kriteria pasaran,” ucapnya. Dia menjelaskan, selain membuattahudantempe, warga sekitar juga akan dibina dalam membuat keranjang buah.

“Banyak hal yang bisa kita lakukan, tetapitahapawalmemangmasih seperti ini,” ungkapnya. Di sisi lain, pihaknya juga akan membangun kerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU) untuk menilai dan melihat perkembangan psikologi masyarakat, apakah ada perubahan atau tidak.

“Di samping pemberdayaan itu, kami juga akan menilai psikologi masyarakat ini apakah ada perubahan atau tidak, dan akan dilakukan evaluasiatau assessment(penilaian) kemudian,” ucapnya. Namun, dia berharap pembangunan home industry di kawasan itu bisa dikembangkan pemerintah. Sebab, BNNP Sumut menurut dia tidak memiliki anggaran untuk itu.

“Untuk pembangunan tahap pertama ini saja, kami menghabiskan senilai Rp7,5 juta. Harapannya ke depan pemerintah mengucurkan anggaran untuk ini. Jadi, proses pembangunan home industry ini bisa berkesinambungan hingga warganya benar-benar mampu bekerja secara mandiri,” ucapnya. Umi, 48, salah seorang warga mengaku senang dengan adanya upaya tersebut.

Dia berharap pemerintah menindaklanjuti program yang digagas BNNP Sumut tersebut. Jadi, warga yang selama ini terlibat dalam peredaran dan penggunaan narkotika, bisa hidup tanpa narkoba. “Terus terang saja, selama ini kami tidak punya pekerjaan tetap. Makanya demi menyambung hidup menjual narkobapunkamirela,” katanya. Masih kata dia, selama ini dia bekerja dan tinggal di Malaysia sebagai TKI.

Tetapi sejak enam bulan lalu dia sudah kembali ke kampung halamannya karena kontraknya sudah habis. “Mungkin aku akan kembali lagi ke Malaysia nanti. Di sana aku bisa mendapatkan gaji 900 ringgit. Kalau dirupiahkan sekitar Rp3 jutaan,” ungkap ibu tiga anak ini dengan menyebut saat ini anaknya disekolahkannya di salah satu pesantren di Kota Medan. “Kalau tinggal di sini, anak-anak bisa hancurlah masa depannya.

Makanya kutitipkan di pesantren sekalipun aku menjadi seorang TKI di Malaysia,” ucapnya. Warga lainnya, Sumi, 37, mengaku senang dan berterima kasih apabila home industry tersebut bisa berjalan dengan baik. “Kami menyambut pembangunan ini dengan baik. Kami berharap kehidupan kami pada masa mendatang lebih layak dari hari ini,” tandasnya.

Frans marbun

Berita Lainnya...