Edisi 04-02-2016
Serikat Tukang Becak Santuni Tiara


ASAHAN – Para tukang becak se-Asahan yang terhimpun dalam Serikat Kesejahteraan Masyarakat Penarik Becak (SKMPB) Asahan memberikan santunan kepada Tiara Natasya, 7, yang terlahir tanpa anus.

Santunan yang diberikan berupa akomodasi dan uang tunai hasil dari urunan 230 anggota SKMPB. Bantuan juga diberikan berupa advokasi agar Pemerintah Kabupaten Asahan melalui Dinas Sosial dapat membantu biaya pengobatan Tiara Natasya, warga Jalan Diponegoro, Kisaran. “Ini bentuk kepedulian kami (tukang becak) kepada Tiara Natasya.

Kami memang miskin, tapi masih diberikan kesehatan oleh Yang Kuasa,” kata Ketua SKMPB Asahan, Abdul Khalik Harahap, saat melepas keberangkatan Tiara Natasya untuk menjalani operasi di RSUP H Adam Malik Medan di Sekretariat SKMPB, Jalan Teuku Umar, Kisaran, Rabu (3/2).

Khalik mengaku merasa prihatin dengan nasib malang yang menimpa siswi kelas I sekolah dasar tersebut karena sejak lahir tak memiliki kondisi sempurna. Ironisnya, orang tua Tiara Natasya hidup dalam kondisi ekonomi tidak mampu, sehingga kesulitan membiayai pengobatannya. “Setelah mendapatkan kabar kesulitan mereka (orang tua) dari koran, kami langsung menggalang dana.

Kami hanya membantu meringankan beban mereka dan berharap pemangku kebijakan lebih tanggap membantu masyarakat. Kami juga meminta bantuan kepada pemerintah agar membantu selama masa pengobatan,” ujar Khalik. Khalik berpendapat pemerintah melalui Dinas Sosial harus cepat tanggap jika masyarakat membutuhkan bantuan.

Dia menyesalkan sikap pemerintah yang menolak permohonan bantuan yang diajukan orang tua Tiara Natasya beberapa waktu lalu. “Seharusnya pemerintah cepat tanggap, padahal masalah ini sudah berulang kali diberitakan di media,” ucapnya. Sementara itu, Muhammad Hanafi, orang tua Tiara Natasya mengucapkan syukur dan terima kasih atas bantuan yang diberikan para tukang becak tersebut.

Dia menilai, meskipun para tukang becak rata-rata mengalami kesulitan ekonomi, namun masih peduli dan mau menyisihkan sebagian rezekinya untuk mengurangi beban orang lain. “Tak saya sangka, bantuan justru datang dari orang yang susah,” tuturnya. Hanafi mengatakan, putrinya lahir tanpa anus dan telah menjalani operasi pembuatan kolostomi (lubang buatan) di dinding abdomen (perut) untuk mengeluarkan feses (kotoran) ketika berusia 1,8 tahun.

Setelah itu, kata Hanafi, dokter memberi saran untuk pembuatan anoplasty (lubang anus buatan) sepuluh bulan kemudian. Namun, akibat keterbatasan dana, khususnya biaya hidup selama masa perawatan di Medan, maka operasi tahap selanjutnya tidak dapat dilakukan. “Kalau masalah biaya operasi sudah ditanggung pemerintah melalui KIS (Kartu Indonesia Sehat).

Namun, kami tak punya biaya hidup selama proses pengobatan. Soalnya, operasi harus dilakukan di Medan,” ucapnya. Hanafi yang telah berpisah dari ibu kandungnya Tiara Natasya, Wiwi, mengaku, sebelumnya telah berupaya meminta bantuan kepada masyarakat maupun instansi pemerintahan. Namun, upaya tersebut malah mendapatkan cemoohan karena seolah-olah memanfaatkan keadaan atau mengadaada.

Ismanto panjaitan

Berita Lainnya...