Edisi 04-02-2016
Berharap Wako Datang ke Pasar Kotor dan Becek


PALEMBANG-Pasar Kuto yang kotor dan bau dikeluhkan para pedagang dalam perte - muan Paguyuban Pedagang Pa - sar di Balai Kota Palembang, ke - marin. Pihak PD Pasar Palem - bang Jaya didesak meng ata si - nya dengan mengambil alih kembali operasional pasar.

Salah satu pedagang ayam, Ishak mengatakan, pasar yang saat ini dikelola pihak ketiga tersebut kondisinya sudah sangat kotor, dengan banyak sam pah yang berserakan. Selain itu, sejumlah saluran air yang ada di pasar juga mam - pet dan kerap menimbulkan bau yang tidak sedap. “Silakan pak wali kota ber - kunjung ke Pasar Kuto untuk melihat keadaan pasar.

Seka - rang ini becek dan kotor serta saluran pembuangannya bun - tu,” ujarnya. Senada disampaikan peda - gang daging, Andi. Menu rut - nya, selama ini Pasar Kuto berhasil meraih penghargaan Adipura untuk kategori pasar, tetapi sejak dikelola pihak ketiga, justru semakin kotor dan bocor di musim penghujan.

“Tidak heran jika pembeli semakin berkurang, karena masyarakat jadi enggan berkunjung. “Padahal setiap harinya kami tetap bayar retribusi sebesar Rp11.000. Tapi pasar tidak diurus, saluran air tidak jalan,” ucapnya. Pedagang berharap, peng e - lolaan dapat segera di kem - balikan ke Pemkot Palembang dalam hal ini PD Pasar Palembang Jaya.

Diakui Ketua Pa - guyuban Pedagang Pasar Kuto, Alex Syamsudin, dia dan pe da - gang lainnya sudah meng - ajukan usulan tersebut sejak tahun 2013 tapi tidak pernah ditanggapi. "Kita inginnya kembali ke Pemkot Palembang. Kalau tidak, kami akan demo,” kata Alex.

Menanggapi keluhan pedagang ini, Direktur Utama PD Pasar Palembang Jaya, Apriadi S Busri mengatakan, kondisi Pasar Kuto saat ini memang cukup memprihatin - kan. Meski sejumlah titik bocor sudah terlihat ditambal, tetapi masih tak memperbaiki kondisi pasar. Dia meminta, agar pedagang bersabar hingga dikeluarkannya hasil kaji ulang terkait pengelolaan.

Nantinya pengelolaan ini direkomendasikan kembali ke PD Pasar Palembang Jaya dan saat ini akan dikaji oleh pakar hukum dari Universitas Sriwijaya. "Kita sudah ajukan surat pada Dekan FH Unsri untuk membantu pengkajian BOT dengan PT GTP (Gandha Tahta Prima). Segera sebelum Maret sudah ada hasilnya,” ujarnya.

Yulia savitri

Berita Lainnya...