Edisi 04-02-2016
Obat Anti-DBD Masih Diuji BPOM


Sudah tiga tahun tim peneliti Uni - versitas Airlangga (Unair) Surabaya telah menemukan obat demam ber da - rah dengue (DBD) dari bahan alami. Na - mun, hingga kini temuan obat ter se but belum bisa diproduksi secara massal.

Rektor Unair Prof Moham mad Na - sih mengungkapkan, me mang tidak mu dah untuk mem produksi obat se - cara massal. Ada banyak tahapan yang mesti dila lui, termasuk jaminan ting - kat ke berhasilan obat terhadap suatu pe nyakit. “Untuk produksi mas sal obat pro sesnya panjang. Tidak bisa lang sung produksi massal. Tingkat kega gal an (penggunaan obat) di - perhitungkan.”

“Ada angka toleransi 0,1 saja tidak boleh. Harus nol,” kata Na - sih ditemui di Ruang Garuda Mukti, Kampus C Unair, Suraba - ya, kemarin. Nasih memaparkan bahwa uji klinis terhadap temuan obat juga membutuhkan biaya besar. Di sisi lain, tidak ada perusahaan far ma - si yang bersedia membantu biaya pengujian.

Selaku produsen obat, perusahaan farmasi menginginkanhasilmatangdantinggalmem - pro duksinya secara massal. me - ng aku selalu berkoordinasi de - ngan pa kar di lembaga pendidik - an tinggi yang dipimpinnya. Ter - ma suk ter kait temuan obat DBD ini berikut temuan obat lainnya. Uji klinis, kata Nasih, terus dilakukan dalam waktu panjang. Biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit.

Disisi lain, tidak ada pa - brik an farmasi yang membantu biaya pengujian klinis. Produsen obat mau hasil matang untuk diperbanyak. Hingga kini, obat anti-DBD tersebut masih dalam pro ses pengujian di Balai Peneli - tian Obat dan Makanan (BPOM). “Di BPOM pengujian juga ti - dak bisa cepat, karena menyang - kut obat bukan suplemen.

Kalau minuman suplemen, misalnya jus jambu merah untuk membantu meningkatkan trombosit itu bisa cepat penelitiannya. Kalau kita sih targetnya ingin cepat. Tapi aspek keamanan dan sebagainya harus benar-benar dikedepan - kan, tingkat kesembuhan harus dijamin,” paparnya. Prof Nasronudin, direktur uta - ma Rumah Sakit Unair (RSUA) yang mengetuai tim peneliti obat anti-DBD Unair pada 2013 meng - ungkapkan, hasil risetnya me - mer lukan dukungan dana agar bisa diproduksi massal.

Untuk itu, pihaknya telah menggandeng pihak ketiga yakni PT Neomedik Indonesia, salah satu perusahaan produsen obat. “Untuk menjadi obat itu me - mang tidak mudah dan membu - tuhkan waktu yang lama karena harus melewati beberapa fase, sedangkan obat ini telah berjalan ke fase ketiga agar bisa segera di - produksi secara massal, dan ini pihak ketiga masih dalam proses mengurus surat izin edar di Balai Besar Pengawas Obat dan Ma - kanan (BBPOM) dan berharap se - gera mendapat izin edar dari pihak BBPOM, serta pemerintah pusat supaya bisa diproduksi secara missal,” harapnya.

Spesialis Penyakit Dalam/In - ter nist ini juga mengatakan bah - wa, obat yang berwarna putih dan ungu tersebut sudah masuk da - lam uji klinis fase ketiga, di mana uji kilinis pertama sudah dilaku - kan pada binatang tikus oleh guru besar dan tim di Universitas Ga - jah Mada (UGM) Yogyakarta.

Dalam fase kedua, lanjut Kon - sultan Penyakit Infeksi Tropik itu dilakukan pada orang sehat di Jakarta dan yang pada fase ketiga atau yang terakhir dilakukan di Surabaya untuk manusia yang ter infeksi virus dengue. “Kami me lakukan uji penafsihan sekitar 3.300 pasien yang demam kemu - dian kami ambil, dan yang menye - tujui untuk ikut serta dalam uji klinis ini ada 530 pasien terbagi menjadi dua kelompok.

Masingmasing kelompok mendapatkan pengobatan sesuai standar World Health Organizations (WHO), se - dangkan satunya diberikan obat kami,” katanya. Obat anti-DBD ini ditemukan Nasronudindia ketika menjabat sebagai Kepala Pusat Penyakit Tropis (Tropical Disease Cen - ter/TDC) pada 2013.

Obat terse - but ditemukan setelah Nasronu - din meneliti bahan-bahan aktif terkandung dalam berbagai ma - cam tumbuhan. Dalam hasil penelitian, dike - ta hui tanaman jenis perdu dari Australia (Melacua Alternifolia Concentrate) memiliki khasiat anti virus. Tanaman ini bisa mem - bunuh 96,67% virus dengue yang disebabkan nyamuk. “Itu terjadi karena tanaman ini dapat mem - beri efek imono modulator atau penambah kekebalan pada tubuh pasien DBD,” papar Nasronudin saat dihubungi kemarin.

Pria ini juga tidak mengklaim bahwa obat untuk virus dengue yang diciptakannya ini, merupa - kan obat yang pertama di Indone - sia. Alasannya karena masih ba - nyak pakar-pakar lainnya yang se - dang melakukan penelitian obatobat serupa. “Tapi tidak menutup ke mungkinan bahwa hal ini me ru - pakan awal dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia untuk bisa me - rea lisasi dan memfor mulasi dari pada obat anti dengue guna meng - urangi penyakit DBD yang sering memakan korban,” ungkapnya.

Cara kerja obat ini bersifat se - ca ra langsung dan tidak langsung (simultan) karena membunuh virus secara tidak langsung dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Namun, sel-sel kekebalan tubuh itu meningkat maka daya bunuh virusnya juga semakin kuat. “Mi - salnya ketika satu keluarga men - derita DBD, maka kemungkinan besar keluarga yang berada dalam satu rumah juga kemungkinan besarakantertular, sehinggauntuk mengantisipasinya disarankanme - minum obat ini,” tandasnya.

Selain itu, untuk takaran, Nas - ronudin menyarankan bagi pen - de rita DBD usia dewasa dapat meng gunakan dosis 350 mili - gram (mg) sebanyak dua kali sela - ma enam hari berturut-turut. Se - dangkan untuk anak-anak beusia lebih dari 5 tahun dianjurkan me - ngonumsi yang berupa sirup su - paya tidak mengganggu metabo - lisme tubuhnya.

Dari hasil pemberian obat ter - se but keluhan dan gejala infeksi dengue bisa cepat reda, demam segera turun, sakit kepala, nyeri sendi, nyeri otot, mual muntah akan hilang. “Dari uji laborato - rium, penurunan trombosit juga dapat dihambat, dan dari peme - riksaan viriologi didapatkan jumlah virus dari waktu ke waktu juga hilang,” bebernya.

Soeprayitno

Berita Lainnya...